Prasetya Online

>

Berita UB

Pergerakan Bumi dan Mitigasi Bencana

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh vicky.nurw pada 01 October 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 424

Intensity MAin Earthquake, Donggala, 28 September 2018 (sumber : wikipedia)
Intensity MAin Earthquake, Donggala, 28 September 2018 (sumber : wikipedia)
Tinggal di Indonesia berarti harus siap berdampingan dengan bencana. Dengan banyaknya daftar bencana alam yang berpotensi terjadi di Indonesia, negara ini patut dijadikan Pusat Studi Bencana di dunia. Dengan besarnya potensi bencana yang mengelilingi Indonesia, dibutuhkan kesiapan masyarakat untuk meminimalisir resiko yang mungkin akan muncul paska bencana.

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Drs. Adi Susilo, M.Si.,Ph.D menguraikan ada tiga tahapan kesiapan menghadapi bencana. "Yang pertama adalah mitigasi, atau risk reduction, yang kedua adalah tanggap bencana, dan yang terakhir adalah rehabilitasi dan rekonsiliasi", jelasnya.

"Mitigasi dalam hal ini penting sekali untuk masyarakat. Masyarakat harus tahu potensi bencana apa yang ada di daerahnya, dan harus selalu di edukasi", terangnya. Beberapa desa, ujar Adi, telah memiliki kelompok atau komunitas yang tanggap bencana, seperti regu desa atau taruna tanggap bencana. Ia juga mencontohkan Malang Selatan Rescue, sebuah komunitas di wilayah Malang Selatan yang dididik untuk tanggap bencana.

Untuk mendidik masyarakat akan bencana, dapat dilakukan dengan pemetaan oleh akademisi dan profesional dan juga pemetaan oleh masyarakat. Mengadopsi konsep Town Watching yang diterapkan oleh Jepang, pihak akademisi dapat mengumpulkan wilayah suatu masyarakat untuk mengetahui potensi bencana yang kemungkinan terjadi. Konsep pemetaan oleh masyarakat dapat membantu pihak akademisi dan profesional untuk memberikan solusi terhadap bencana. "Kita harus tahu kearifan lokal yang dimiliki suatu masyarakat, kolaborasi antara akademisi dan masyarakat", jelasnya.

Salah satu potensi bencana yang kerap terjadi di Indonesia adalah gempa bumi. Gempa tidak akan terjadi jika tidak ada patahan atau sesar. Menanggapi hal ini, Adi menyarankan agar ada konseling kepada masyarakat untuk tidak membangun bersinggungan dengan lokasi patahan, sebagai bentuk pengurangan resiko. "Juga di tambah dengan banyaknya drilling atau pelatihan kebencanaan", jelasnya.

Seismic gap juga wajib diketahui. Istilah ini bisa diartikan sebagai wilayah yang tidak terkena gempa. "Sepanjang selatan Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua, Ambon, Sulawesi hingga ke Jepang adalah posisi patahan. Jika sebuah blok tertentu lama tidak mengalami gempa, maka waspadai gempa besar yang akan terjadi. Hal ini terjadi karena adanya penumpukan energi pada patahan kerak bumi", terangnya.

Untuk antisipasi bencana, Adi menyarankan beberapa langkah. "Harus ada sosialisasi potensi bencana di tiap-tiap wilayah, melakukan pemetaan potensi bencana dan solusi antisipasi. Tidak hanya itu, harus ada pemetaan kondisi bawah permukaan tanah, jika dibawah tanah adalah tanah lempung, maka bisa berpotensi semakin menguatkan getaran gempa dan juga longsor, namun jika di bawah tanah adalah pasir, maka bisa berpotensi meredam getaran gempa", jelasnya.

Sedangkan untuk antisipasi gempa, Adi menyarankan tersedianya akses pintu keluar darurat. "Idealnya emergency exit ini tidak ditutupi oleh tumpukan barang-barang agar mudah melakukan evakuasi. Juga dilengkapi dengan titik kumpul", terangnya. Sedangkan untuk masyarakat, Adi menganjurkan untuk menyimpan dokumen penting dalam satu wadah terpisah dan juga menyiapkan peralatan evakuasi. "Harap diingat juga tahapan-tahapan latihan menghadapi bencana, karena bumi akan selalu bergerak. Kewaspadaan itu harus ada, drill dan training tetap harus dilaksanakan dengan sebenar-benarnya", ujarnya.[vicky]

 

 

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID