Prasetya Online

>

Berita UB

Pengukuhan Prof Suradi dan Prof Made Sudarma

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetya1 pada 19 Maret 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 3733

Dua orang staf senior Fakultas Ekonomi (FE) dikukuhkan sebagai guru besar
Dua orang staf senior Fakultas Ekonomi (FE) dikukuhkan sebagai guru besar
Dua orang staf senior Fakultas Ekonomi (FE) dikukuhkan sebagai guru besar. Kedua gurubesar itu masing-masing adalah Prof. Drs. Suradi Martawijaya MS dari Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan dan Prof. Dr. Made Sudarma SE Ak MM dari Jurusan Akuntansi. Upacara pengukuhan berlangsung Sabtu 19/3 di gedung PPI Unibraw  Prof. Drs. Suradi Martawijaya MS dikukuhkan sebagai gurubesar bidang Ilmu Ekonomi Pertanian sekaligus tercatat sebagai gurubesar ke-109 di Unibraw atau ke-14 di FE. Sedangkan Prof. Dr. Made Sudarma SE Ak MM yang dikukuhkan sebagai gurubesar bidang Ilmu Akuntansi Manajemen adalah gurubesar ke-110 di Unibraw atau ke-15 di FE.

Reformasi Agraria
Mengawali pidato ilmiahnya yang berjudul "Prospek Pertanian Organik dalam Rangka Pembangunan Pertanian Berkelanjutan: Suatu Tinjauan Ekonomi",  Suradi Martawijaya menyatakan bahwa pembangunan pertanian di Indonesia saat ini dan yang akan datang perlu mendapatkan perhatian sungguh-sungguh oleh berbagai pihak sehingga berkelanjutan, tepat sasaran dan ramah lingkungan.
Lebih lanjut dikatakan bahwa kebijakan konkrit untuk mewujudkan target pertumbuhan sektor pertanian diperkirakan sebesar 3,5 persen per tahun dan pertumbuhan perekonomian 6,5 persen per tahun, berdasarkan rencana pembangunan jangka menengah nasional yang disusun oleh Bappenas, masih belum jelas. Masalahnya, menurut Suradi, langkah pemerintah untuk mewujudkan kebijakan yang lebih mendasar yaitu perombakkan dan penataan kembali sumber-sumber agraris yang lebih adil dan merata belum nampak secara nyata.
Menurut pria kelahiran Sleman (Yogyakarta) 64 tahun silam ini, perlu dilakukan reformasi di bidang agraria. Reformasi agraria sangat mendesak dilakukan mengingat lahan pertanian banyak beralih fungsi untuk industrialisasi dan menyebabkan lahan pertanian semakin sempit serta meningkatkan jumlah petani gurem dari tahun ke tahun. Pertanian di Indonesia hendaknya mampu menghantarkan petani Indonesia menjadi petani sejati, yaitu petani yang memiliki hak untuk memiliki keragaman hayati, hak untuk melestarikan, memuliakan, mengembangkan tanaman dan mendapatkan makanan yang aman, menyehatkan serta menyelamatkan. Kebijaksanaan pertanian yang tepat adalah berorientasi pada peningkatan kesejahteraan petani.
Dinyatakan bahwa pertanian organik sangat potensial dalam meningkatkan pendapatan petani seiring dengan bertambahnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi makanan sehat. Peningkatan konsumsi produk organik akan mendorong tingkat harga yang lebih tinggi, sementara biaya produksi produk organik lebih murah karena tidak menggunakan input luar yang tinggi seperti pupuk kimia, pestisida dan herbisida.
Prof. Drs. Suradi Martawijaya MS menyelesaikan pendidikan sarjana ekonomi di Universitas Gadjah Mada (1970), pendidikan diploma di Department of Maize Production Mexico (1978) dan magister di Institut Pertanian Bogor (1978). Ayah lima orang anak dengan empat orang cucu ini pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya (1986-1989) dan Ketua Pusat Pengembangan dan Konsultasi Perbankan (1996-2002). Tanda penghargaan yang pernah diperolehnya adalah dosen teladan pertama Universitas Brawijaya (1984), Satya Lencana Karya Satya 20 tahun (1997), dan Satya Lencana Dwidya Sistha (1998). Aktivitas mengajarnya diawali di Universitas Brawijaya sejak 1974. Sampai saat ini sudah menghasilkan 15 karya ilmiah yang dipublikaiskan di jurnal, buku, dan karya tulis lain

Kejahatan kerah putih
Dihadapan rapat terbuka senat Universitas Brawijaya Made Sudarma membawakan pidato pengukuhan berjudul "Struktur Kepemilikan, Biaya Agensi dan Good Corporate Governance sebagai Sarana Peningkatan Nilai Perusahaan Publik". Dalam pidatonya diungkapkan bahwa praktek bisnis yang sehat mensyaratkan pentingnya manajemen memegang prinsip keterbukaan. Selain itu prinsip independensi turut menjadi syarat penting karena pengelolaan perusahaan secara terpisah oleh para profesional, akan menjaga independensi antar pihak yang berkepentingan.
Lebih lanjut dikatakan oleh ayah enam orang anak ini bahwa buruknya praktek good corporate governance (GCG) di Indonesia diantaranya adalah karena rendahnya etika bisnis, rendahnya perlindungan investor, rendahnya independensi komisaris, rendahnya penegakan hukum, serta rendahnya transparansi dan pengungkapan. Indonesia mendapat predikat negara terburuk di Asia sehingga akan mempengaruhi kepercayaan investor dan berdampak pada nilai perusahaan publik di Indonesia. Perusahaan publik di Indonesia pun rata-rata mengalami financial distress karena 70 persen kekayaan perusahaan dibiayai oleh utang.
Made Sudarma juga mengungkapkan bahwa peran lembaga pendidikan dalam menegakkan good governance adalah sangat strategis. Pria kelahiran Singaraja 47 tahun silam ini mengajak hadirin untuk merenungkan peran lembaga pendidikan tinggi di dalam penyusunan kurikulum, proses belajar mengajar, dan suasana dalam proses belajar mengajar, karena sebagian besar pelaku kejahatan kerah putih rata-rata adalah mereka yang berpendidikan tinggi. Lebih lanjut dikatakan bahwa seiring munculnya kesadaran dan tuntutan moral dalam dunia bisnis, maka lembaga pendidikan tinggi perlu secara sadar membantu anak didik bisa merasakan, menghayati, dan menghargai jenjang makna hidup dari yang bersifat fisikal sampai moral, estetikal dan spiritual. Hal ini dimaksudkan agar pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang mengutamakan gaya hidup selalu mengejar sukses materi, tetapi tidak disertai pemaknaan hidup yang dalam.
Prof. Dr. Made Sudarma SE.Ak MM mengawali karirnya di Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya sebagai dosen tidak tetap (1980). Aktivitas mengajarnya juga dilakukan di beberapa universitas swasta di Malang dan Surabaya. Menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1982, magister pada 1997 dan doktor pada 2004 di Universitas Brawijaya. Pernah menjabat sebagai Servis Provider Medium Industrial Project Consultant Bank Dunia di Jakarta (1990-1995), Ketua Asosiasi Manajemen Indonesia Malang (2001-2004) dan pernah mendapatkan tanda penghargaan Satya Lencana Karyasatya 20 tahun (2004). Hingga saat ini Made Sudarma aktif sebagai dewan pembina asosiasi manajemen Indonesia Malang, komisaris pada salah satu perusahaan go public, anggota Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Malang, dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Selama lima tahun terakhir sudah 17 publikasi ilmiah dalam bentuk laporan penelitian, jurnal ilmiah, makalah dan buku yang dihasilkan. [nik]

Alih Fungsi Pertanian Jatim 6% Per Tahun
Meski UU Pokok Agraria (UUPA) melarang alih fungsi lahan kelas I untuk tujuan non pertanian, namun kenyataan di lapangan tidak demikian. Bahkan alih fungsi lahan pertanian ke industri maupun perumahan di Jatim, mencapai 6 % per tahun.
Selain itu, hukum waris yang berlaku di masyarakat kiat mendorong bertambahnya petani gurem lantaran lahan yang tetap dibagi-bagikan kepada ahli waris. "Padahal untuk menyejahterakan petani diperlukan kepemilikan lahan minimum dua hektare per keluarga petani. Namun yang terjadi sebaliknya, lahan pertanian menyempit dari 0,5 hektare menjadi 0,3 haktare per kapita, dan petani lebih banyak yang menjadi petani gurem atau buruh tani," kata Prof Drs Suradi Martawijaya MS, yang dikukuhkan sebagai guru besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Brawijaya, Sabtu (19/3) pagi tadi.Lebih lanjut, dia mengatakan, untuk meningkatkan kesejahteraan petani diperlukan perombakan struktur kepemilikan tanah. Para petani gurem yang kepemilikan lahannya kurang dari 2 hektare sebaiknya bergabung dalam penggarapan lahan.Seperti di Lumajang yang sudah sukses membuat pertanian organik. Selain membantu menyejahterakan petani gurem, hasil pertanian organik lebih sehat dan ramah lingkungan."Menurut FAO (organisasi pangan internasional), masalah lingkungan di negara berkembang sebagian besar disebabkan eksploitasi lahan yang berlebihan, penggunaan pupuk kimia, serta pestisida yang semakin tinggi," tutur ayah lima anak kelahiran Sleman, 1 Agustus 1940 itu. Diungkapkan, sekitar 50 % lahan tanaman padi di negara berkembang, termasuk Indonesia, lebih ditekankan pada penanaman padi varietas baru. Adanya promosi yang gencar dan didukung pemerintah mengakibatkan varietas lokal yang hilang atau terjadi erosi genetik."Pada dasarnya varietas unggul merupakan varietas yang sangat responsif terhadap pupuk buatan. Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa di negara berkembang penggunaan pupuk kimia, pestisida, dan herbisida makin banyak untuk peningkatan produktivitas, walaupun jangka panjangnya sangat merugikan," ungkapnya.Data Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) menunjukkan, kandungan bahan organik lahan di Jatim hanya berkisar 1,7%. Padahal untuk sistem kehidupan tanaman yang layak diperlukan bahan organik minimum 5%. Bahan organik yang digantikan bahan kimia akan memiskinkan bahan organik tanah, sehingga rentan terhadap kekeringan serta serangan hama."Jika ini terjadi, maka produktivitas dan kestabilan sistem pertanian akan menurun, karena tanah yang subur meurpakan pra kondisi bagi kesehatan tanaman. Yang perlu diingat, pertanian organik tidak sama dengan pertanian tradisional, meski sistem organik mengutamakan input alami," tandas Suradi. (md23) http://www.surabayapost.info/detail.php?cat=4&id=6542

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID