Prasetya Online

>

Berita UB

Pembukaan Workshop Biokonversi Limbah

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetya1 pada 11 April 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2222

Perlu ada perubahan budaya dalam masyarakat kita untuk mengatasi masalah lingkungan hidup. Perubahan budaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pengertian tentang kepedulian terhadap lingkungan hidup sejak dini kepada anak-anak. Demikian ungkap Rektor Universitas Brawijaya Prof.Dr.Ir.Bambang Guritno dalam sambutannya ketika membuka penyelenggaraan Workshop Nasional Biokonversi Limbah bertajuk "Pengelolaan Limbah Padat dengan Visi Bisnis", di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, Selasa (11/4).
Lebih lanjut rektor mengungkapkan bahwa peran orang tua sangat dominan kepada pengetahuan mereka terhadap kebersihan lingkungan sekitar. Sebagai contoh di luar negeri, kebiasaan untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat sangat ditanamkan oleh para orang tua kepada anak-anak mereka sejak masih kecil. "Hal ini berbeda sekali dengan di Indonesia dimana orang cenderung segan menyimpan bungkus makananan di kantong baju atau tas mereka sebelum mereka menemukan tempat sampah," tambahnya. Workshop yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri pula Menteri Negara Lingkungan Hidup Ir. Rachmat Witoelar.
Dalam laporannya, ketua panitia penyelenggara seminar, Prof.Dr.Ir. Chandrawati Cahyani MS, mengatakan pendekatan masalah limbah yang kontraproduktif selayaknya mendapat perhatian semua pihak, sehingga menghasilkan pemecahan yang berhasil guna bagi semua pihak. Untuk itu penyelenggaraan workshop yang diikuti oleh sekitar 190 peserta dari periset perguruan tinggi, lembaga, maupun balai di Jawa dan luar Jawa, instansi pemerintahan kota, dinas kebersihan, dinas perindustrian serta pihak swasta ini bertujuan untuk membangun sinergi di antara mereka mengenai penanganan limbah, serta untuk mensosialisasikan teknik penanganan limbah padat yang aman, padat dan menguntungkan.
Komoditi dan Malapetaka
Sebagai pembicara kunci, Rachmat Witoelar, mengungkapkan bahwa sampah bisa menjadi komoditi dan sumber malapetaka. "Karena itulah maka rancangan undang-undang tata ruang, penting diperhatikan sebagai langkah positif dalam rangka pengelolaan sampah," tambahnya. Lebih lanjut disampaikan, kebiasaan positif seperti daur ulang sampah atau plastik perlu segera digalakkan. Tidak kalah pentingnya adalah kearifan tradisional sebagai pemahaman akan arti penting menjaga kebersihan lingkungan. Untuk itu, selain pemberian penghargaan bidang kebersihan seperti Adipura, pemerintah juga mengembangkan program Labirin School di sekolah-sekolah. Program ini mengimplementasikan pada pemberian kurikulum dalam bentuk mata pelajaran yang berbasis pada lingkungan hidup dan kelestarian lingkungan.
Ada 19 makalah dibahas dalam workshop. Di antaranya adalah "Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Pengelolaan Limbah Padat" oleh Menristek Dr.Ir. Kusmayanto Kadiman MSc, "Teknologi Limbah Padat di Indonesia" oleh Prof.Dr.Ir. Enri Damanhuri dari ITB, "UU Persampahan" oleh Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Ir. Moh. Gempur Adnan, "Potensi Bisnis Limbah Padat" oleh Prof. Chandrawati Cahyani dari Universitas Brawijaya, "Kebijakan Teknik Lingkungan" oleh Deputi Menristek Bidang Pengembangan Riptek Bambang Pratomosunu, dan "Recycles Practice in Japan" oleh Tetsuro Fujitsuka dari JICA.
Workshop Nasional Biokonversi Limbah
Workshop Nasional Biokonversi Limbah
Penandatangan MoU dan Pemberian Bantuan Alat
Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Brawijaya Prof.Dr.Ir. Bambang Guritno juga berkesempatan menandatangani nota kesepahaman dengan Menteri Kementerian Lingkungan Hidup Ir. Rachmat Witoelar. Kerjasama yang dilakukan ini mengenai pengelolaan sampah perkotaan dengan tujuan mengurangi beban pencemaran lingkungan serta mendorong terwujudnya kota bersih dan teduh. Dengan demikian maka Universitas Brawijaya akan terpilih sebagai pilot project Malang Basic Central dalam hal pengelolaan sampah. Selain penandatanganan nota kesepahaman, Kementrian Lingkungan Hidup juga memberikan bantuan berupa peralatan kompos bagi Pusat Penelitian Biokonversi Lembaga Penelitian Universitas Brawijaya. [nik]

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID