Prasetya Online

>

Berita UB

Pelatihan Pelatih Perbankan Syariah

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetya1 pada 06 September 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 3153

Konsep perekonomian yang berdasarkan syariah keislaman dapat mengurangi jumlah pengangguran di suatu negara. Demikian salah satu poin yang terungkap pada penyelenggaraan Training for Trainers (TOT) Perbankan Syari’ah pada 6-8 September 2005 di Gedung Pusat Pengembangan Akuntansi (PPA) Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya.
“Salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah tidak boleh ada bunga (money oriented) dalam pelaksanaan perekonomian syari’ah”, tambah Ali Sakti MEc dari Direktorat Perbankan Syari’ah Bank Indonesia.
Kegiatan yang dibuka oleh Dekan Fakultas Ekonomi Prof. Dr. Bambang Subroto MM Ak, ini diikuti oleh puluhan peserta seperti dosen PTN/PTS, praktisi perbankan dan mahasiswa di wilayah Jawa Timur.
Tujuan pelatihan pelatih (TOT) ini adalah untuk mengenalkan paradigma baru dalam praktek perbankan, memberikan dasar bagi para instruktur atau dosen untuk memahami dasar dan operasional perbankan syariah, serta memberikan pengetahuan tentang aspek regulasi dan pengawasan perbankan.
Materi yang diberikan dalam peatihan ini meliputi Ekonomi Islam, Bunga dan Riba dalam Perspektif Sejarah, Akad-akad Syariah, Produk Perbankan Syariah, Distribusi bagi Hasil dalam Perbankan Syariah, Regulasi dan Pengawasan Perbankan Syariah, dan Kebijakan Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia. Tiga orang pemateri meliputi Ali Sakti MEc, Dr. Setiawan Budi Utomo dan Agus Chusaini dari Bank Indonesia.

Konsep Ekonomi Islam

Dalam materi Konsep Dasar Ekonomi Islam yang dibawakan Ali Sakti MEc dijelaskan bahwa ekonomi dalam Islam mempelajari segala perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tujuan memperoleh falah (kedamaian dan kesejahteraan dunia akhirat). Tiga prinsip ekonomi Islam meliputi hidup hemat dan tidak bermewah-mewah, menjalankan usaha-usaha yang halal, mengimplementasikan zakat, dan melarang kegiatan riba.
“Berbeda dengan perekonomian konvensional yang mengenal sistem bunga, Sistem bagi hasil (profit loss sharing) menjadi jantung dari sektor moneter perekonomian Islam. Ini disebabkan karena sistem bagi hasil sesuai dengan iklim usaha yang memiliki kefitrahan untung atau rugi” ungkap Ali Sakti yang menempuh pendidikan master di International Islamic University Malaysia ini. Islam, lanjut Sakti, meyakini bahwa bunga bank yang bersifat predetermined akan mengeksploitasi perekonomian, cenderung terjadi misalokasi sumber daya dan penumpukan kekayaan dan kekuasaan pada segelintir orang. Penerapan sistem bagi hasil dalam Islam menjaga prinsip keadilan tetap berjalan dalam perekonomian.
Lebih lanjut dikatakan bahwa, di samping sistem bagi hasil, Islam mensyaratkan mekanisme zakat dalam perekonomian, serta dukungan dari istrumen sejenisnya seperti infaq, shadaqah dan wakaf. Mekanisme zakat memastikan aktivitas ekonomi dapat berjalan pada tingkat yang minimal, yaitu pada tingkat pemenuhan kebutuhan primer. Sedangkan infaq, shadaqah dan instrumen sejenis lainnya mendorong permintaan secara agregat, karena fungsinya yang membantu umat untuk mencapai taraf hidup di atas tingkat minimum. Selanjutnya oleh negara, infaq-shadaqah dan instrumen sejenisnya, serta pendapatan negara lainnya digunakan untuk mengentaskan kemiskinan melalui program-program pembangunan.
Sebagai dua ketentuan orisinil dalam sistem ekonomi Islam, mekanisme zakat dan pelarangan riba memiliki fungsi saling mengokohkan sistem perekonomian. Di satu sisi zakat menjaga agar aktivitas ekonomi tetap berjalan dengan tujuan pemenuhan kebutuhan hidup seluruh masyarakat negara, di sisi lain pelarangan riba yang diganti mekanisme bagi hasil, dapat menjaga keseimbangan, keadilan dan kestabilan segala aktivitas ekonomi di dalamnya. “Dengan karakter khasnya, ekonomi Islam diperkirakan akan lebih stabil dibandingkan sistem konvensional. Meskipun ekonomi Islam tidak akan sedinamis sistem konvensional pada hal-hal tertentu”, pungkasnya. [nik]

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID