Prasetya Online

>

Berita UB

Panglima Sosok yang Juicy

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyafisip pada 09 Maret 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 842

Bedah Buku
Bedah Buku
Diangkat sebagai Panglima TNI tidak menjadikan Marsekal Hadi Tjahjanto bersifat tinggi hati. Hal tersebut disampaikan oleh Eddy Suprapto, penulis "Anak Sersan Jadi Panglima: Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto" pada acara bedah buku yang dilaksanakan pada hari Kamis (08/03/2018) di Auditorium Nuswantara, FISIP UB. Eddy ternyata teman sekelas Panglima TNI sejak kelas 2 SMA, sehingga ia mengaku sangat dekat dan mengenal Panglima. "Panglima adalah sosok yang juicy", ujar Eddy. Maksudnya adalah Panglima sangat rendah hati dan menyenangkan, sehingga Eddy pun menyebutnya sebagai cocok yang renyah.

Eddy tidak menyangka bahwa sosok Panglima ternyata cocok di market buku. Untuk saat ini saja, tepat di tiga bulan setelah pengangkatannya, buku tersebut sudah terjual tiga ribu eksemplar. "Saat ini saja saya sedang dikejar-kejar deadline revisi untuk edisi kedua. Dan buku ini juga sudah ditunggu dalam bahasa Inggris, karena ada permintaan dari beberapa negara", tambah Eddy.

Selain itu, jika dilihat dari sisi komunikasi, Anang Sujoko, dosen Ilmu Komunikasi sekaligus wakil Dekan II FISIP UB menjelaskan bahwa buku tersebut mengandung nilai filosofis perjuangan. Seperti pepatah berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, perjuangan Panglima juga demikian. Dari cerita keluarganya yang hidup dengan keserhanaan, dengan ekonomi yang kurang, tetapi mampu melahirkan anak-anak yang hebat, karena orang tua mereka selalu memperjuangkan yang terbaik untuk anak-anaknya.  Anang juga menyampaikan bahwa Panglima membuat gebrakan dalam birokrasi militer, karena sangat memperhatikan lokal wisdom jawa yaitu andhap asor. Meskipun berada di lingkungan yang didominasi oleh TNI yang secara jabatan di bawahnya, ia sangat menghormati orang-orang di sekitarnya, meskipun secara jabatan ia lebih tinggi. Artinya, Panglima yang tinggi secara kepangkatan tetap menghormati orang lain dari segi usia dan budaya. "Harusnya budaya di militer yang seperti ini diadopsi oleh organisasi lainnya", tambah Anang.

Kolonel Wahyu Tjahjadi, adik kandung Panglima yang juga dihadirkan dalam bedah buku tersebut berharap buku tersebut dapat menjadi motivasi bagi orang-orang dengan latar belakang keluarga yang sama agar tidak menyerah. Meskipun keadaan keluarga terbatas, Ayahnya hanya berpangkat tamtama yang dikejar hutang sana sini, tetapi mereka terus berjuang demi anak-anaknya. "Karena ada puasa, pasti ada lebaran, kata ibu saya," ujar Wahyu. [Charisma/HUMAS FISIP]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID