Prasetya Online

>

Berita UB

Ordik Mahasiswa Baru Pascasarjana Unibraw

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetya1 pada 06 September 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 1679

Dengan semakin banyaknya mahasiswa program pascasarjana yang enggan membaca buku pedoman akademik, pihak Program Pascasarjana Universitas Brawijaya (PPSUB) berinisiatif menyelenggarakan program Orientasi Pendidikan (Ordik) Mahasiswa Baru Program Pascasarjana Universitas Brawijaya. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh mahasiswa baru program magister dan doktor tersebut digelar di gedung Widyaloka Unibraw, Selasa (6/9), dibuka oleh Pembantu Rektor I Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito.
Dalam kesempatan itu, Prof. Yogi memberikan pengarahan dengan judul “Usaha Universitas Brawijaya untuk Menciptakan Lulusan Berkualitas”. Diuraikan tentang kondisi manusia Indonesia (Human Development Index) yang menempati posisi keenam dari 10 negara ASEAN. Untuk meningkatkan kualitas manusia, pendidikan memegang peran utama. Oleh karena itu perguruan tinggi harus berusaha keras untuk meningkatkan kualitas lulusannya. Padahal, angka pengangguran sarjana (termasuk magister) di Indonesia adalah yang paling tinggi (300 ribu orang per tahun). Sementara itu, Indonesia dihadapkan pada kecenderungan global, seperti pasar bebas (termasuk lulusan perguruan tinggi), ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebagai kunci pembangunan suatu negara, dan otonomi pengelolaan perguruan tinggi. Di samping itu, perguruan tinggi juga harus memperhatikan standar “Sistem Manajemen Mutu” yang berlaku secara internasional (contoh: ISO-9000).
Diuraikan pula beberapa hal yang merupakan standar nasional kualitas lulusan perguruan tinggi. Di antaranya, mampu menguasai dan mengembangkan iptek baru yang berkembang sangat cepat,  mampu berkomunikasi secara global (penguasaan bahasa asing dan multimedia), berwawasan luas, mandiri, berjiwa wirausaha dan kemampuan leadership tinggi, dan kemampuan berinteraksi dengan ahli bidang lain dan bermasyarakat.
Untuk memenuhi standar nasional itu, Unibraw sedang dan akan melakukan antara lain peningkatan kualitas input (mahasiswa baru), peningkatan kualitas sarana dan prasarana (laboratorium, perpustakaan, perpustakaan, dosen, dll.), perbaikan kurikulum dan proses belajar mengajar, peningkatan kerjasama dengan instansi lain terutama luar negeri, penataan organisasi dan pengelolaan PPSUB, penciptaan suasana akademik yang menunjang proses belajar mengajar, penerapan sistem reward and punishment yang jelas kepada dosen, mahasiswa dan karyawan. Demikian Prof. Yogi.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut mahasiswa diberi berbagai pengarahan mengenai kegiatan akademik, administrasi serta kegiatan kemahasiswaan PPSUB yaitu Forum Komunikasi Mahasiswa PPSUB di samping pula memperkenalkan seluruh fasilitas yang ada di Unibraw, termasuk Perpustakaan Pusat Unibraw dan UPPTI (Unit Pengkajian dan Penerapan Teknologi Informasi).
Asisten Direktur I (Bidang Akademis) PPSUB, Prof. Dr. Ir. Soemarno MS menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dimaksudkan untuk memberi bekal mahasiswa mengenai aturan, pedoman pendidikan, hak dan kewajiban mahasiswa serta kode etik kehidupan kampus. Guru besar Fakultas Pertanian ini, menengarai tahun ini jumlah mahasiswa yang masuk di PPSUB menurun daripada tahun yang lalu. Dari 500 yang mendaftar, 440 di antaranya diterima, dan baru 400 mahasiswa yang melakukan heregistrasi. Merespon hal ini, Prof. Soemarno mengatakan, “Ada kecenderungan tahun ini fresh graduate langsung mendaftar program pascasarjana dengan biaya sendiri, dan semakin turunnya jumlah mahasiswa tugas belajar, baik dosen maupun pegawai institusi tertentu”.
Mengenai kebijakan baru bidang akademik, Prof. Soemarno mengungkapkan, saat ini sedang dirintis program yang dinamakan “doctor by research”. Program ini  baru dilaksana-kan pada program doktor (S3) ilmu kedokteran. Sedangkan untuk program magister (S2), ada kebijakan yang dinamakan “magister by module” yang sudah diselenggarakan selama 2 tahun pada program studi teknik sipil. “Melalui program ini tatap muka dengan dosen bisa berkurang, tetapi intensitas komunikasi bertambah dengan lebih luwes dan fleksibel. Hal ini diperlukan untuk menyiasati terbatasnya ruangan yang ada, tetapi tentunya menuntut kemampuan komputer yang lebih dari peserta program”, ungkap Prof. Soemarno. [nok]

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID