Prasetya Online

>

Berita UB

Nabu, Beras Artifisial untuk Atasi Kelaparan Karya Mahasiswa FTP

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyaftp pada 18 Juli 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 230

Alfisah Nur Annisa A., Widya nur habiba, Annisa Aurora Kartika, Joko Tri Rubiyanto dan Bagas Teja Kusuma Menunjukkan Hasil Karyanya Berupa Beras Analog Nabu
Alfisah Nur Annisa A., Widya nur habiba, Annisa Aurora Kartika, Joko Tri Rubiyanto dan Bagas Teja Kusuma Menunjukkan Hasil Karyanya Berupa Beras Analog Nabu
Mahasiswa Universitas Brawijaya(UB)Malang, lolos kompetisi pangan Dunia lewat Beras Analog yang berbahan pangan lokal sagu, jagung dan umbi porang. Produk dengan merek NABU diciptakan untuk mengatasi kelaparan dan meningkatnya jumlah kebutuhan beras di Indonesia.
Tim yang terdiri dari Alfisah Nur Annisa A., Widya nur habiba, Annisa Aurora Kartika, Joko Tri Rubiyanto dan Bagas Teja kusuma dengan bimbingan Dr.Ir Aji Sutrisno ini lolos 9 besar dalam kompetisi pangan dunia The International Union of Food Science and Technology (IUFoST) Product Development Competition 2018 yang akan berlangsung di CIDCO Exhibition Centre, Mumbai India 23-27 Oktober 2018.
Beras analog ini dapat dikonsumsi sebagai bahan pangan pokok pengganti beras pada umumnya sehingga dapat mengurangi import beras. Data dari Kementrian perdagangan, (2017) kata Alfisah menunjukan pemerintah melakukan impor beras sebanyak 1,28 juta ton pada tahun 2016. Selain itu beras analog ini dapat mengatasi kelaparan seperti yang terjadi pada suku asmat di papua pada januari 2018 lalu.Kelebihan beras analog, NABU ini dibandingkan dengan beras lainya adalah kandungan nutrisinya lebih lengkap dari beras pada umumnya sehingga dapat mengatasi kelaparan di Indonesia apalagi Indonesia merupakan negara dengan urutan ke 12 menurut Global Hunger Index dalam kondisi kelaparan dan undernutrisi. Selain itu NABU ini memiliki kadar glikemik indeks yang rendah sehingga dapat mencegah penyakit diabetes.
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan NABU ini merupakan bahan pangan lokal, mudah ditemukan di Indonesia dan mudah tumbuh dalam kondisi ekstrim. Proses pembuatan NABU pun relatif mudah. Jagung, sagu dan umbi porang sebelumnya di buat tepung, di campurkan dengan berbagai perbandingan selanjutnya di kukus, dibentuk dan dikeringkan hingga berbentuk bulir beras.
Sementara itu, IUFoST Product Development Competition 2018 merupakan kompetisi ilmiah dua tahunan tingkat dunia di bidang pengembangan produk pangan. Event ini dimulai sejak 1962 dengan motto Food Science Fighting Hunger. Tahun 2018, tema yang diangkat 25 Billion Meals a Day by 2025 with Healthy, Nutritious Safe and Diverse Food.
Alfisah dan kawan-kawan berhasil menyisihkan tiga ribu kontestan lain dari 70 negara dan maju sebagai finalis bersama delapan tim lainnya dari China, Amerika Serikat, Brazil, India, Uganda, Kenya, United Kingdom dan Perancis. (dse)

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID