Prasetya Online

>

Berita UB

MoU UB dan BKKBN

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh ireneparamita pada 31 Agustus 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 680

Kepala BKKBN dan Wakil Rektor II UB Usai Penandatanganan MoU
Kepala BKKBN dan Wakil Rektor II UB Usai Penandatanganan MoU
Universitas Brawijaya (UB) dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menandatangani Nota Kesepakatan Bersama (MoU), Kamis (24/8/2017), di Gedung Fakultas Kedokteran (FK) lantai enam. Naskah kerjasama ini ditandatangani langsung oleh Kepala BKKBN dr. Surya Chandra Surapaty, M.PH, Ph.D dan Wakil Rektor II Dr. Sihabudin, SH., MH. Kerja sama yang akan dilakukan meliputi Pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam rangka Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga.

Mewakili Rektor UB, Dr. Sihabudin, SH., MH menyampaikan, kerjasama ini menguntungkan kedua belah pihak, baik untuk BKKBN dalam menjalankan amanat nasional, juga untuk UB dalam meluluskan dokter spesialis yang memiliki keahlian khusus. UB dan BKKBN juga sedang melakukan inisiasi kerjasama untuk mendirikan Pusat Kajian Kesehatan Reproduksi UB dan Pelatihan Preservis Pelayanan KB. Ia berharap kerjasama ini dapat bermanfaat untuk pengembangan ilmu kedokteran.

Kedatangan Kepala BKKBN ke UB ini sekaligus untuk menyambut 12 calon Konsultan Obstetri Ginekologi Sosial (OBGINSOS) FK-UB angkatan ke-7. Kepala Program Studi Pendidikan Dokter Sub Spesialis Obstetri Ginekologi Sosial FK-UB Dr. dr. Edi Mustofa, SpOG-K menyampaikan, OBGINSOS merupakan salah satu divisi dari Obstetri dan Ginekologi yang secara khusus menaruh perhatian dalam masalah percepatan penurunan angka kematian ibu yang saat ini masih sangat tinggi. Untuk mendapatkan gelar Konsultan OBGINSOS (SpOG-K), harus melalui pendidikan Sub Spesialis (Sp2). Lama program ini adalah empat semester atau dua tahun.

"Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (DSOG) tidak hanya dituntut untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dengan hanya berorientasi pada pendekatan klinik semata, namun juga melalui pendekatan holistik yang bersifat life cycle approach. Untuk itu diperlukan keahlian profesional dalam bidang OBGINSOS yang mampu menangani kasus, masalah, program, pelatihan, dan penelitian yang terkait aspek Manajerial Epidemiologi, Etika dan Sosial dalam bidang Obstetri, Ginekologi, dan Kesehatan Reproduksi," papar Edi Mustofa.

Sampai saat ini Sp2 OBGINSOS UB sudah meluluskan 41 orang DSOG-K. Sementara itu Ketua Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI) Malang dr. Mulyo Hadi Sungkono, SpOG-K memaparkan peran strategis Konsultan OBGINSOS yaitu, sebagai bagian dari pengambil kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah di tempat mereka bertugas, menjadi pelatih klinis bagi tenaga kesehatan, melakukan upaya peningkatan mutu pelayanan bidang kesehatan reproduksi dari tingkat primer hingga rujukan, membantu melakukan analisis dalam setiap audit kematian ibu, serta menjadi surveyor komite akreditasi RS yang kompeten, sehingga dapat membantu melakukan perbakan mutu layanan RS.

Berikut nama-nama 12 peserta angkatan ke-7. Yaitu, dr. Benediktus Arifin, Sp.OG, dr. Hytriawan Posma Putra, Sp.OG, Dr.dr. I Gede Ngurah Harry Wijaya Surya, Sp.OG, dr. I Gusti Gede Mayun Surya Darma, Sp.OG, I Gusti Nyoman Tri Sulaksana, Sp.OG, dr. I Ktut Martayasa, Sp.OG, dr. I Made Arya Subadiyasa, M.Biomed, Sp.OG, dr. I Made Yudhi Indriawan Wirya, Sp.OG, dr. Made Primawati, Sp.OG, dr. Priyono, Sp.OG, dr. Raz Fides Umi Rahmawati, Sp.OG, M.Kes, dan dr. Tony Widyanto, Sp.OG. [Irene]

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID