Prasetya Online

>

Berita UB

Miller: Rencana Hidup Harus Seimbang

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh humas3 pada 02 Juli 2012 | Komentar : 0 | Dilihat : 7415

Miller
Miller

Miller pemeran Hasan dalam film Cinta Suci Zahrana pada Senin (2/7) berbagi pengalaman proses dibalik pembuatan film yang akan tayang pada 12 Agustus 2012 itu dihadapan peserta Bedah Buku dan Film "Cinta Suci Zahrana" di Gedung C FIA lantai 3. Acara yang diselenggarakan oleh Unit Aktivitas Kerohanian Islam (UAKI UB) dan Forum Studi Insan Kamil Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (Forsika FP UB) itu juga menghadirkan Faris Khoirul Anam sebagai pembedah Novel karya Habibburahman El Shirazy.

Dalam kesempatan tersebut Miller mengaku tertarik untuk ikut terlibat dalam film ini karena sudah bosan dengan film horor komedi di Indonesia.

“Film religi karya Kang Abik seperti Ayat-Ayat Cinta (AAC) dan Ketika Cinta Bertasbih (KCB) sangat populer dan mendapat  respon  yang baik dari masyarakat,” ungkap pria berdarah keturunan Arab China itu.

Miller juga mengaku merasa tertantang ketika berperan menjadi sosok Hasan di film ini, pasalnya karakter Hasan bertolak belakang dengan karakter dirinya.

“Tapi saya berusaha untuk menjadi Hasan dengan memanfaatkan waktu reading naskah selama satu minggu dan bertanya langsung kepada Kang Abik sebagai penulis novelnya,” paparnya.

Miller dalam perannya nanti akan menjadi seorang mahasiswa bimbingan Zahrana seorang perempuan yang sudah berumur 34 tahun namun masih belum menikah karena terlalu fokus mengejar karier.

“Menurutku film ini memberi pesan kepada para pemuda untuk bisa menyeimbangkan rencana hidup, antara mengejar karier dengan rencana pernikahan,” pungkasnya.

Bedah Novel Cinta Suci Zahrana

Faris Khoirul Anam sebagai pembedah novel mengungkapkan novel ini merupakan pengembangan dari Novelet  berjudul Takbir Cinta Zahrana dengan penambahan konflik dan dialog. Novel yang berkisah tentang Zahrana, seorang perempuan berusia 34 tahun itu masih belum menikah dikarenakan terus berfokus kepada karier  sampai tidak memikirkan pernikahan.

Zahrana sempat dilamar oleh Dekan tempat dimana ia mengajar, namun Zahrana menolaknya dengan alasan Dekan yang bernama Sukarman itu memiliki sifat buruk, suka mempermainkan perasaan perempuan. Akbiat penolakan itu Sukarman dendam terhadap Zahrana dan berkali-kali melakukan konspirasi. Selain umur yang sudah berkepala tiga Zahrana juga mendapat tuntutandari Ayahnya yang sudah tua.  Zahrana mulai berikhtiar mencari calon suami, mulai dari satpam sampai penjual kerupuk. Pada akhirnya Zahrana menikah dengan mahasiswa bimbingannya di universitas tempat ia mengajar.

Menurut Faris, novel ini memiliki hikmah tersendiri khususnya dalam mencari jodoh dalam kondisi seperti Zahrana tetap mempertimbangkan masalah agama dan tidak sembarangan memilih siapa saja.

“Zahrana selalu menyeleksi pasangan yang kelak menjadi imamnya, seperti bagaimana bacaan Al Qur’annya sampai sifat yang dimiliki karena memiliki pendamping hidup bukanlah hanya untuk membahagiakan diri sendiri, tetapi membahagiakan anak cucu kelak,” pungkasnya.  [rian]

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID