Prasetya Online

>

Berita UB

Menilik Revolusi Industri 4.0 dari Aspek Pendidikan

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh oky_dian pada 22 October 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 415

Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D ( Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi KEMENRISTEKDIKTI
Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D ( Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi KEMENRISTEKDIKTI
Era Revolusi Industri 4.0 tengah dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Internet of Things (IoT) sangat diperlukan pada era sekarang karena pengaruh internet sudah menjalar dimana-mana. Dalam  penjelasannya, Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, KEMENRISTEKDIKTI Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D mengatakan bahwa bukan tidak mungkin jika Sumber Daya Manusia (SDM) tergantikan oleh robot. Sehingga para calon pekerja atau alumni perguruan tinggi harus melatih keahlian sejak dini sejalan dengan era revolusi industri 4.0.

Ada tiga komponen antisipasi yang perlu ditanam, antaralain Mindset yang perlu diubah, humanitive, serta kompetensif.

"Sebagai mahasiswa, kalian perlu mengembangkan aspek 4 C, yaitu Critical Thinking, Creativity Communicative, dan Colaboration," kataProf. Ali dalam seminar Activation bertemakan Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB), Senin (22/10/2018) di Aula FIA UB.

Jika menilik pada kekuatan SDM di luar negeri, Indonesia dinilai kurang memiliki aspek kerjasama antar individu. Semua kembali pada Sumber Daya Manusianya. Mahasiswa, bahkan masyarakat dapat kalah bersaing dengan mesin atau robot kecuali memiliki tiga komponen antisipasi dan 4 C seperti yang disebutkan sebelumnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Dr. H. M. Hidayat, MM, M.Pd  mengatakan perlu SDM yang mumpuni, berkualitas, serta bersinergi dalam era yang serba digital saat ini. Sehingga sistem pendidikan dibenahi  untuk menangani kekhawatiran tergantikannya manusia dengan robot.

"Perguruan Tinggi harus memiliki ideologi pendidikan dengan teknokogi yang bersatu padu," tutur Hidayat.

Hidayat menambahkan untuk mendapatkan SDM yang kompetitif dalam industri 4.0, kurikulum pendidikan harus dirancang agar luarannya mampu menguasai literasi baru. Luaran tersebut diantaranya adalah literasi data, yaitu kemampuan membaca, menganalisi dan memanfaatkan informasi big data dalam dunia digital. Selain itu literasi teknologi adalah memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi. Terakhir adalah literasi manusia, humanities, komunikasi dan desain yang bertujuan agar manusia dapat berfungsi dengan baik di lingkungan yang semakin dinamis.

"Perlu adanya sikap kebersamaan dan kegotongroyongan dalam menghadapi era sekarang. Jangan pesimis," pesannya.

Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Kemenristekdikti Dr. Misbah Fikrianto, M.Si., MM mengatakan selain penjabaran dari pemateri-pemateri sebelumnya, aspek yang harus dimiliki generasi sekarang adalah hardskill dan softskill.

"Softskill untuk mengkoneksikan kemampuan di era revolusi induatri. Robot atau mesin tidak memiliki kemampuan dalam pengambilan keputusan hingga melobi. Karena itu manusia diciptakan memiliki akal sehat," lanjutnya.

Mahasiswa juga dituntut untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berinovasi. Mahasiswa tidak cukup untuk kuliah hanya di kelas, namun harus menjelajahi dunia ini. Salah satunya dengan literasi menggunakan internet. [Afwega/Humas UB]

 

 

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID