Mengoptimalkan Peran Guru Kelas Untuk Mencegah Kenakalan Remaja

Dikirim oleh prasetyaFISIP pada 17 Juli 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 403

Penelitian kenakalan remaja oleh mahasiswa FISIP
Penelitian kenakalan remaja oleh mahasiswa FISIP
Menindaklanjuti tingginya kasus perkelahian massal antar pelajar, sebuah penelitian dilakukan untuk mengeksplorasi bagaimana komunikasi yang terjadi di dalam lingkungan sekolah dan kaitannya dengan terjadinya perkelahian massal tersebut. Melalui skema pendanaan DIKTI dalam bentuk kompetisi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), lima mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB), yaitu Fadya Wulandari Nurmidin, Erdiana Putri, Nurul Dwi Maulita, Muhammad Alief Naufal, dan Fania Alif Rusdianti dengan dosen pembimbing Yun Fitrahyati Laturrakhmi, S.Ikom., M.Ikom dari Jurusan Ilmu Komunikasi membuat Penelitian berjudul "KEMERPATI (Kemampuan Mendengarkan dan Berempati): Strategi Penanaman Moral di Sekolah Menengah guna Mengatasi Konflik Massal Antar Pelajar".

Menurut salah satu tim peneliti, fadya, penelitian tersebut menduga minimnya empati yang dibangun di lingkungan sekolah turut menyumbang terjadinya konflik massal antar pelajar (tawuran), sebagaimana telah disebutkan dalam literatur. Penelitian tersebut dilakukan dengan melakukan wawancara dan Focus Group Discussion (FGD) pada 7 (tujuh) Sekolah Menengah Atas di Jakarta yang tercatat pernah terlibat dalam tawuran massal antar pelajar.

Fadya menambahkan, selain tidak terjalinnya makna yang sama antara sekolah dengan pelajar yang terlibat tawuran, temuan penting dari penelitian yang dilakukan timnya adalah peran guru BK yang cenderung parsial karena masih menekankan pada pembimbingan karir (PTN/PTS tujuan).

"Sejauh ini, beberapa langkah yang dilakukan sekolah adalah menerapkan sistem poin, kerjasama dengan pihak kepolisian, pemberian pendidikan moral, serta penerapan Perda khusus yang memberikan sanksi tegas bagi pelanggarnya. Penerapan beberapa aturan seperti sistem poin hingga penerapan perda khusus, masih belum menyentuh akar permasalahan sesungguhnya," ujar Fadya.

Melalui penelitian ini, Fadya dengan timnya merekomendasikan sebuah model bahwa untuk mengurangi terjadinya konflik massal antar remaja dapat dilakukan dengan memunculkan empati di antara pihak sekolah dan siswa. Hal ini dapat dilakukan melalui optimalisasi peran Guru Bimbingan Konseling (BK) dan pelaksanaan kegiatan pengabdian (service learning) yang melibatkan seluruh siswa.

"Guru BK bisa memberikan materi di kelas dan memberikan ruang seluas-luasnya pada murid-murid untuk melakukan essay reflektif. Jadi melihat bagaimana kegelisahan mereka seperti apa. Essay reflektif tersebut dapat digunakan panduan membuat kegiatan sekolah untuk mengekspresikan dan dapat mewadahi kegelisahan murid-murid. Untuk service learning yaitu pelayanan kepada masyarakat, sekolah bisa membuat kegiatan berbentuk pelayanan kepada komunitas di luar sekolah, seperti bakti sosial," jelas Fadya.

Konflik massal antar pelajar (tawuran) merupakan salah satu bentuk kenakalan remaja yang dilakukan secara kolektif dengan memanfaatkan in-group vs out-group feeling terhadap kelompok tertentu. Di Indonesia sendiri, perkelahian massal antar pelajar banyak terjadi di kota-kota besar, terutama Jakarta. Berdasarkan data BPS (2014), jumlah kasus perkelahian massal antar pelajar Sekolah Menengah Atas mengalami peningkatan. Dipaparkan bahwa pada tahun 2008 terdapat sekitar 108 kasus, kemudian pada akhir 2011 jumlah kasus yang terjadi sebanyak 327 kasus. [Rama/Humas FISIP/Humas UB]

 

 

Artikel terkait