Prasetya Online

>

Berita UB

Meneladani Hikmah dan Nilai Pengorbanan Nabi Ibrahim

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh zenefale pada 05 September 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 459

Suasana Idul Adha di Universitas Brawijaya berlangsung khidmat
Suasana Idul Adha di Universitas Brawijaya berlangsung khidmat
Tauhid, ketaqwaan, kesabaran, dan pengorbanan merupakan nilai-nilai yang ditempuh Nabi Ibrahim bersama seluruh keluarganya dalam mencari jalan Allah SWT. Nilai-nilai itulah yang sebenarnya dibutuhkan dalam mengarungi kehidupan ini. Figur Nabi Ibrahim AS merupakan teladan yang dapat memberi warna positif bagi seluruh aspek kehidupan. Karena itu, Allah SWT telah memberikan sebuah pandangan yang nyata bagaimana kisah nabi Ibrahim dan keluarganya menjadi amalan yang harus ditanamkan sejak dini. Hal tersebut disampaikan oleh Dr Rahmat Safa'at SH Msi selaku Dekan Fakultas Hukum UB dalam gelaran khutbah Sholat Idul Adha 1438, Jumat (1/9).

Dalam ceramahnya, Dr Rahmat Safa'at melanjutkan, jika Nabi Ibrahim disebut sebagai seorang Abul Anbiya (Ayah dari para Nabi). "Tidaklah seorang nabi setelah nabi setelah Nabi Ibrahim, kecuali semuanya berasal dari keturunan beliau. Nabi Ibrahim juga disebut sebagai seorang imam karena menjadi teladan bagi kita semua," ungkapnya.

Nabi Ibrahim adalah seorang hamba yang patuh. Ia selalu mendahulukan perintah Allah dengan cara mentaatinya walapun kisahnya sendiri bagi masyarakat modern akan sangat sulit dipahami. Meninggalkan istrinya (Siti Hajar) dan putranya (Nabi Ismail) di tanah gersang tanpa meninggalkan bekal apapun. Hingga ujian kepada beliau atas perintah Allah SWT untuk mengorbankan Nabi Ismail. Peristiwa ini adalah cobaan Allah kepada Nabi Ibrahim AS, menunjukkan akan kecintaan Inrahim kepada Rabbnya. Allah SWT telah menguji Ibrahim melalui anaknya sendiri yang benar-benar ia cintai, diperintahkan untuk dikorbankan. Akhirnya dengan kuasa Allah SWT, Ismail digantikan dengan domba yang besar, dan inilah balasan bagi orang-orang yang berbuat ikhlas mencari ridha Allah SWT.

Andaikan Nabi Ibrahim adalah manusia yang lemah, tentu akan sulit intuk menentukan pilihan. Salah satu diantara dua yang memiliki keterikatan besar dalam hidupnya. Berdasarkan rasio normal boleh jadi Ibrahim akan lebih memilih Ismail dengan menyelamatkannya tanpa menghiraukan perintah Allah tersebut. Dari kisah inilah umat Islam harus belajar dalam meneguhkan hati dan menegakkan tauhid. "Hari raya Idul Adha ini kembali hadir ditengah-tengah kita yang sedang melaksanakannya demi mengingat kembali akan ketinggian nilai ibadah haji dan qurban," pungkasnya.

Selain menggelar Sholat Idul Adha, Pusat Pembinaan Agama (PPA) UB selaku panitia Idul Adha UB melaksanakan penyembelihan hewan kurban sejumlah delapan ekor sapi dan 28 ekor kambing yang berasal dari pimpinan, dosen, dan sivitas akademika UB. Sedangkan untuk penyaluran daging qurban, panitia menyalurkannya dalam bentuk ribuan kupon untuk keluarga besar UB, masyarakat sekitar kampus, panti asuhan, yayasan dan lembaga pendidikan, masjid, mushola di wilayah Malang Raya dan Batu serta lembaga pemasyarakatan dan juga desa binaan dari beberapa fakultas yang ada di UB. [indra] 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID