Prasetya Online

>

Berita UB

Menata Kampus, Pimpinan Berjalan Sehat

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh humas3 pada 05 October 2010 | Komentar : 19 | Dilihat : 11560

Pimpinan menata pembangunan di lingkungan UB
Pimpinan menata pembangunan di lingkungan UB
Segenap pimpinan di lingkungan Universitas Brawijaya (UB) Minggu (3/10) kemarin mengikuti jalan sehat. Kegiatan yang menyertakan Rektor, Dekan, Pembantu Dekan II, Kepala Bagian dan Kepala Tata Usaha ini mengambil rute seputaran kampus. Jalan sehat ini dimulai dari Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknologi Pertanian, belakang guest house, Fakultas Ilmu Administrasi, Fakultas Teknik, Stadion, FISIP, Fakultas Peternakan, FMIPA, FPIK, Fakultas Kedokteran dan berakhir di Rektorat. Momentum jalan sehat ini, oleh Rektor UB Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito diantaranya dimanfaatkan untuk melakukan koordinasi pembenahan kampus. Termasuk didalamnya adalah penataan gedung yang berencana akan dibangun serta ruang terbuka hijau (taman, hutan kampus, dll). "Penataan ini bertujuan agar kampus lebih nyaman, rapi dan asri", ujar Rektor.

Dekan FIA menginformasikan perkembangan pembangunan gedung barunya
Dekan FIA menginformasikan perkembangan pembangunan gedung barunya
Pembangunan yang menurut rencana akan segera direalisir dalam waktu mendatang meliputi gedung Fakultas Ekonomi, guest house tahap II, gedung kembar Fakultas Ilmu Administrasi, gedung FISIP II, gedung Farmasi serta gedung Teknik Industri.

Dengan semakin terbatasnya lahan parkir yang dirasa tidak mampu lagi menampung jumlah kendaraan yang melintasi kampus, Rektor pun menampung gagasan untuk mengelola lahan parkir secara terpusat. Sentral parkir menurut rencana akan dibangun di kawasan stadion UB. Selain itu, lahan kosong belakang guest house juga akan dimanfaatkan sebagai tempat parkir sebelum pembangunan guest house tahap II. Selain sebagai sentra parkir, stadion juga menurut rencana akan dialihfungsikan untuk pembangunan gedung farmasi dan teknik industri.

Dalam jalan sehat kali ini FMIPA menjadi sorotan khusus dengan tidak tertatanya taman dan hutan kampus dengan banyaknya sampah dedaunan yang bertebaran. [nok]

 

Komentar

Dikirim oleh mahasiswi ub pada 07 October 2010.

Yth Bapak Rektor UB di tempat saya sangat menghargai dan apresiasi terhadap kinerja kepemimpinan Bapak yang menggalakkan pembangunan di UB.. lahan parkir jadi luas.. bangunan menjulang tinggi dimana-mana.. meskipun harus mengorbankan lahan RTH (Ruang Terbuka Hijau).. meskipun harus menebang pohon-pohon kanopi.. meskipun harus merobohkan bangunan lama untuk jalan.. terima kasih Pak.. Ttd mahasiswi brawijaya

Dikirim oleh fall_die pada 07 October 2010.

- saya ingin mengkomentari paragraf terakhir di sini dijelaskan bahwa hutan kampus di wilayah fmipa banyak sampah2 dari daun saya rasa itu wajar2 saja karena konteksnya sudah "hutan" jika daun gugur itu sudah proses secara alami dan tugas kita adalah membersihkan bukan melakukan perombakan tetapi sekarang sudah banyak perombakan yang tidak jelas contohnya saja dadap merah di taman fmipa, memang terlihat kotor jika daun dan bunganya berguguran tetapi lingkungan jadi rindang dan udara sejuk setelah diganti dengan sejenis palmae semacam klapa sawit, suhu lingkungannya jadi makin panas dan tidak rindang lagi memang tampak bagus tapi tidak fungsional - menyoal tentang pembangunan di FIB yang berbatasan dengan biologi, tampaknya tidak ada peninjauan ulang ini karena miniatur hutan konservasi biologi yang dekat dengan perbatasan FIB sebagian dibabat untuk memasang pagar pembatas dimohon perhatian yang serius dari pihak rektorat

Dikirim oleh Kemal pada 07 October 2010.

kami ga setuju kalo sampe kebun Biologi dirusak demi pembangunan. bangunan bertambah tapi tanaman berkurang. kok sekarang malah banyak ditanami kelapa sawit? memangnya tidak memementingkan dampak jangka panjangnya ya pak?

Dikirim oleh Anggun pada 07 October 2010.

kepada birokrasi UB Yang Terhormat,, mana ada sampah dedaunan,, dedaunan itu bukan sampah.. toh yang bertebaran bukan sampah plastik kenapa harus dipermasalahkan.. apa kita dapat oksigen dari gedung tinggi, kita dapat oksigen dari pohon2 yang para Birokrasi terhormat ini anggap mengeluarkan sampah.. toh juga dedeunan tersebut akan terdegradasi menjadi pupuk organik,, kalau menyimpulkan harap dilihat secra holistik bukan hanya dari segi estetika dan maaf hanya kamuflase untuk pembangunan besar2an,,, demikian, kalau dibaca saya bersyukur,, kalaupun tidak memang hati nurani tidak berlaku di Institusi UB...

Dikirim oleh mahasiswi ub pada 07 October 2010.

sekali lagi, saya pribadi dan mahasiswa UB yang bernurani memohon agar dipertimbangkan dan di kaji ulang masalah pembangunan di kawasan kampu UB. kalau dengan proporsi yang benar (antara bangunan, buffer zone dan lahan konservasi) kami tidak akan "mengganggu" proses tersebut... kami akan membantu sepenuhnya.. akan tetapi saat ini, pembangunan terkesan hanya sebagai "aji mumpung" suatu oknum yg tidak bertanggungjawab".. mohon pihak Rektorat yang masih peduli terhadap kenyamanan dan keseimbangan atmosfer di Universitas kita tercinta ini harap mengkaji ulang master plane yg sudah dirancangkan dengan konsep pembangunan yg merata tanpa meninggalkan aspek konservasi, keindhan dan kenyamanan semua civitas akedemik di Universitas brawijaya.. terima kasih Ttd mahasiswi bernurani

Dikirim oleh Denok pada 07 October 2010.

Saya pribadi tidak setuju kalau hutan kampus disamakan dengan hutan (an sich). Karena terletak di tengah-tengah kawasan berpopulasi, maka akan lebih bagus jika memperhatikan estetika. Apalagi Hutan kampus di UB (FMIPA) juga telah disulap menjadi parkir dan dipasangi paving. Masalah daun berguguran dan menjadi seresah itu bukan di hutan saja, tapi memang proses alami di pohon manapun. Seresah daun yang di FMIPA sebenarnya bukan di hutan aja tapi di taman juga. Sehingga mungkin perlu disapu dan dikumpulkan. Lebih bagus lagi kalau dibawa ke unit kompos dan diproses. Masalah jenis pohon apa yang bagus untuk lingkungan kampus saya kira pihak Biologi lebih tahu

Dikirim oleh Ajuung pada 07 October 2010.

Selama ini tanaman yang sering ditanam sebagian besar golongan palem, memang bagus dilihat,tapi kita akan merasakan dampaknya beberapa tahun lagi: Kampus ini akan bertambah panas!

Dikirim oleh ichi pada 08 October 2010.

ya ya ya, selamat untuk Brawijaya atas pembangunan gedung yang bertingkat-tingkat, dan menjulang tinggi, sebagai bukti kemajuan Universitas, dan selamat juga atas kemunduran kualitas lingkungan UB yang sering banjir, atau minimal banyak air tergenang ketika hujan turun dan sekarang atas berkurangnya RTH..selamat dan sukses untuk pembangunan ini

Dikirim oleh wicak pada 08 October 2010.

Pembangunan taman terbuka hijau itu dengan cara ditanami kelapa sawit ya?? kenapa ya kok yang ditanam bukan tanaman2 endemik saya atau tanaman langka replika tanaman yang ada di kebun raya... Saya rasa jika UB mau menerima tanaman-tanaman dari kebun raya maka akan sangat bagus sekali...selain menghijaukan lingkungan kampus juga melaksanakan program konservasi tanaman endemik atau tanaman langka.....saya rasa ini bagian dari ekologi kan???? ilmu ekologi dipelajari oleh orang pertanian juga kan??? Kepada para ilmuwan yang lalai terhadap ilmunya karena kekuasaan segera bertobatlah.....karena memanfaatkan ilmu yang dimiliki adalah amal yang sangat besar.....

Dikirim oleh Dj UB pada 08 October 2010.

ah ini mah politik saja namun bisa dilihat kenyataannya sekarang UB semakin panas dan gersang

Dikirim oleh mahasiswa cinta lingkungan pada 08 October 2010.

Pak Yogi yang terhormat. saya sangat setuju sekali dengan komentar" mahasiswa lain d atas. saya sangat tidak setuju atas pembangunan itu.saya dlu melihatnya UB adlah kampus ternyaman karena kawasannya yang rindang. tpi sekarang kenapa malah berlomba" membangun gedung" yg lbh tinggi. bkannya kita harus save our earth. seharunya dimulai dari kita yang merawatnya.semoga bapak Yogi yang terhormat mempertimbangkan usulan" mahasiswanya. Trimakasih atas segalanya.

Dikirim oleh Anggun pada 08 October 2010.

saya disini mengenyam pendidikan di jurusan Biologi,, awalnya saya sangat bangga terhadap UB sebagai kampus yang rindang tidak seperti kampus yang lainnya.. tapi semakin jauh melangkah semakin saya sadar bahwa dunia ini penggung sandiwara, dimana oknum2 berkepentingan yang bermain disana dan kita (red.mahasiswa) hanya dibuai dengan fasilitas yang sangat mewah (red.menurut mereka) tetapi hilang dari berfikir dan bertindak yang bijaksana terhadap alam.. kalau kita tidak memperlakukan alam dengan baik maka alam akan menentukan takdirnya sendiri... apakah UB suatu saat nanti akan didirikan suatu inkubator oksigen yang melingkupi atmosfer UB, jadi Ub tidak utuh tanman lagi karena sudah merasa bisa memenuhi kebutuhan oksigennya, dan keadaan yang dingin,, saat itu terjadi maka aku akan hengkang dari UB... mohon berfikir, bertindak, berperasaan menurut hati nurani... RTH HARGA MATI......

Dikirim oleh inc pada 08 October 2010.

lebih mulia kita manusia atau rumput di pinggir jalan? ilmu dan pengalaman kami memang g ad bandingan jika dibandingkan para petinggi2 rektorat, tapi kembali lagi pada kita yang berilmu, apakah kalian amalkan ilmu itu dengan benar dan bijak? bagiku seleksi alam yang akan menyelesaikan masalah bangsa kita dan bumi ini jika hanya otak dan logika yang dipakai untuk menyelesaikan masalah ini Aku rela ikut terseleksi oleh alam jika hidupq tak bermanfaat bagi alam ini...

Dikirim oleh X pada 08 October 2010.

silahkan meninggikan gedung2 dengan penambahan fasilitas pendidikan yang mendukung,namun jangan ratakan pohon-pohon yang merupakan sumber oksigen bagi kita dan mengurangi dampak buruk global warming... dimOhon untuk mempertimbangkan pendapat kami pak tentang rencana penataan pembangunan universitas brawijaya tercinta ini... terima kasih...

Dikirim oleh tatha pada 08 October 2010.

bapak rektor yang terhormat, sampah dedaunan yang Bapak katakan bukan HANYA sampah, tapi itu SERASAH yg merupakan habitat alami mikroba maupun arthropoda tanah, sedangkan taman yang sedang bapak hancurkan untuk gedung baru memiliki diversitas yang lebih tinggi daripada taman lain d UB (hal tersebut sudah menjadi bahan praktikum dari mhsiswa bio berkali-kali) dan merupakan replika dari kebunraya dengan penataan tanaman yang tidak hanya memandang nilai estetika, jadi apakah bapak masih yakin bahwa taman di FMIPA HANYA taman yang kotor dengan sampah daun????

Dikirim oleh ann pada 08 October 2010.

saya sebagai mahasiswi di UB mengucapkan selamat atas semua kemajuan yg telah tercapai sekarang... dan saya hanya bisa berdoa agar para pemimpin kami bisa berbuat bijak sebagaimana amanah yg telah kami percayakan pada para petinggi kami... semoga tidak ada kepercayaan yg disalah gunakan, yg tdk sebagaimana mestinya..... kami sebagai mahasiswa dan mahasiswi memohon agar para pemimpin kami dapat mendengarkan aspirasi kami dengan sebaik2nya, bkn hnya sekedar tontonan atau bacaan.... terimakasih.....

Dikirim oleh ca pada 09 October 2010.

selamat kepada bapak rektor yang terhormat atas kemajuan yg telah d capai universitas Brawijaya ini... tetapi bapak hidup ini bukanlah sekedar untuk indah2an tetapi hidup ini mencari sebuah keselarasan untuk menjadi lebih indah dan menjadi lebih sejahtera... karena kebahagian yg haqiqi bkn berasal dari sebuah hasrat yg benar2 hanya menguntungkan salah satu pihak... buatlah kami mahasiswa dan mahasiswi disini bahagia sejahtera dan nyaman berada d kampus UB ini. TOLONG BAPAK REKTOR yang TERHORMAT hargailah mereka yang peduli akan lingkungan. estetika yg mengabaikan kaidah dari konsep lingkungan bukanlah sesuatu yg akan membuat kita menjadi bahagia sejahtera dan nyaman.

Dikirim oleh biru_tua pada 10 October 2010.

telah nyata kapitalisasi perguruan tinggi terjadi di depan mata kita semua. atas nama materi,pangsa pasar,profit oriented, keindahan less funsional, dkk semua dijadikan sapi perahan. tidak cukup dengan telah menjadikan mahasiswa sebagai buruh2 industri, sekarang pepohonan menjadi sasaran.kurang apa kemajuan yang telah dilakukan para birokrat kampus yang memuluskan bahkan menjadi aktor2 agenda kapitalisasi pendidikan itu sendiri??.wahai mahasiswa di mana mata hati dan akl kritis tajam analisis kalian hingga kalian diam saja melihat semua ini terjadi di depan mata kalian ??

Dikirim oleh pratiwilisa pada 19 November 2011.

Jika lahan parkir sudah tidak memadai maka solusi yang lebih tepat adalah menerapkan sustainable transport seperti transportasi massal, atau nonmotorized. Jadi, kendaraan pribadi diparkir di luar wilayah kampus. Revolusioner juga kan kalau di dalam kampus ada trem atau busway misalnya? hehe saya yakin, para pemimpin ub lebih berpengalaman dan bijaksana dalam menanggapinya :)

Kirim komentar Anda

Gunakan ID