Prasetya Online

>

Berita UB

Menakar Slametan Tengger sebagai Ruang Belajar Laku Konservatif dan Indahnya Toleransi

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyafib pada 10 Juli 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 472

2037_20180710074407
2037_20180710074407

Tiga mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) yaitu Rahmi Febriani, Caesarilla Wahyu P dan Mareta Sari Manda melakukan penelitian terkait slametan Tengger. Penelitian yang berorientasi pada ethnographic research ini bertujuan untuk menemukan sebuah model konservasi alam dan tradisi serta kohesi sosial berbasis slametan Tengger. Adapun, hal tersebut merupakan output dari PKM-PSH yang berjudul, "MODEL KONASI-KOSOSIS (Konservasi Alam dan Tradisi serta Kohesi Sosial Berbasis Slametan Tengger).

Dalam penelitiannya, mereka menemukan bahwa urgensi pelaksanaan slametan di Tengger bukan sekadar untuk kepentingan religiositas saja, melainkan terdapat nilai-nilai mendalam yang dirasakan, yakni fungsi slametan untuk membina kerukunan, keguyuban dan kebersatuan di dalam masyarakatnya. Di samping itu, slametan Tengger juga telah menumbuhkan laku konservatif baik terhadap tradisi maupun alam. Melalui slametan, secara tidak langsung masyarakat Tengger telah merealisasikan Titi Luri dengan terus melaksanakan adat tradisi Tengger hingga kini. Selain itu, banyaknya sesaji yang dipakai dalam slametan juga mendorong masyarakat Tengger untuk melakukan upaya penyelamatan populasi tumbuhan dari kepunahan.

Demikian, dampak slametan Tengger yang kemudian dikemas dalam sebuah model bernama MODEL KONASI-KOSOSIS. Jika dikelola dengan baik dan benar, model ini tentu akan memberikan sumbangsih yang lebih berarti bagi bangsa Indonesia. Terutama, peliknya permasalahan disintegrasi bangsa, perilaku konsumtif manusia terhadap alam dan pudarnya nilai-nilai kultural. (PKM-PSH/DT/MSH/PSIK FIB/Humas UB) 

 

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID