Prasetya Online

>

Berita UB

Memperbaiki Hasil Kacang Tunggak di Lahan Lebak Kalsel

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetya1 pada 09 September 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 2847


Kacang tunggak adalah salah satu sumber protein nabati yang penting karena memiliki kandungan gizi cukup tinggi dan banyak dikembangkan di lahan lebak Kalimantan Selatan. Lahan lebak ialah lahan rawa dengan kekuatan arus pasang lebih kecil dari kekuatan arus sungai. Rawa lebak terjadi bila tanda pasang-surut yang terlihat sebagai akibat air tanah naik-turun tidak tampak lagi, sehingga sejak saat tersebut rawa pasang-surut berganti menjadi rawa lebak. Teknologi budidaya pertanaman kacang tunggak, yang merupakan tanaman leguminosae, yang diterapkan di lahan lebak masih tergolong sederhana.
Demikian Ir Jamzuri Hadie MP, kandidat doktor ilmu-ilmu pertanian (kekhususan ekologi tanaman) menyampaikan pada ujian terbuka disertasi yang berlangsung di gedung Pascasarjana Universitas Brawijaya, Sabtu 9/9. Promotor ujian disertasi ini adalah Prof Dr Ir Bambang Guritno, dan kopromotor Dr Ir Husni Thamrin Sebayang MS serta Prof Ir Eko Handayanto MSc PhD. Tim dosen penguji terdiri dari Prof Dr H Saubari M Mimbar MAgr, Prof Dr Ir H Jody Moenandir DiplAgrSc, Prof Dr Ir Tatik Wardiyati MS, dan Prof Dr Ir Hj Hakimah Halim MSc.
Dalam disertasi berjudul "Teknologi Perbaikan Hasil Kacang Tunggak di Lahan Lebak Kalimantan Selatan", Jamzuri Hadie menyatakan, budidaya tanaman palawija lebih sesuai ditanam di lahan lebak. Lahan lebak mengandung unsur hara baik makro maupun mikro pada kisaran kategori sangat rendah, sehingga menghasilkan kualitas kacang tunggak yang juga rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya meningkatkan hasil kacang tunggak sebagai salah satu tanaman palawijaya yang penting di Kalimantan Selatan, dengan melakukan perbaikan-perbaikan budidaya di lahan lebak.
Penelitian Jamzuri dilakukan di Desa Bayanan, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dan di lahan lebak tengahan yang terletak di Desa Tabat, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Hasil penelitian menunjukkan, manipulasi tanah untuk memperbaiki keragaan pertumbuhan dan hasil kacang tunggak di lahan lebak, dapat dilakukan dengan pemupukan NPK, pengapuran dan/atau pembubuhan bahan organik (Salvinia natans) yang dikombinasikan dengan pupuk urea.
Dalam upaya memperbaiki hasil kacang tunggak petani di lahan lebak dangkal dan lebak pertengahan, Jamzuri menyarankan: untuk lebak dangkal dapat digunakan varietas Nagara atau KT-2. Bila hanya menggunakan varietas Nagara, untuk mencapai hasil di atas 2,0 ton/ha sebaiknya digunakan pupuk NPK 200-300 kg/ha. Tetapi bila hanya memakai varietas KT-2, untuk mencapai hasil di atas 2 ton/ha, sebaiknya diberi bahan organik (Salvinia natans) 0,5-1,0 ton/ha, dikombinasi dengan pupuk urea 90 kg/ha. Sementara itu, untuk lebak tengahan juga disarankan menggunakan vaietas Nagara dan KT-2. Bila hanya ada varietas Nagara, untuk mencapai hasil di atas 2,0 ton/ha, sebaiknya diberi bahan organik 0,5-1,0 ton/ha yang dikombinasi dengan pupuk urea 90 kg/ha. Sebagaimana halnya varietas Nagara, bila yang digunakan varietas KT-2, untuk mencapai hasil lebih dari 2,0 ton/ha, sebaiknya juga diberi bahan organik 0,5-1,0 ton/ha, dikombinasi dengan pupuk urea 90 kg/ha.
Pada yudisium, Jamzuri Hadie dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar doktor dalam bidang ilmu pertanian (kekhususan ekologi tanaman) dengan predikat memuaskan (IPK 3,33)
Dr Ir Jamzuri Hadie MP, pria kelahiran Murung Pudak, Kalimantan Selatan, 50 tahun silam, adalah staf pengajar pada Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sarjana pertanian lulusan Universitas Lambung Mangkurat, dan magister pertanian dari PPS Universitas Gadjah Mada (1993). [nik]

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID