Prasetya Online

>

Berita UB

Membangun Peternakan, Memasukkan Nilai yang Memihak Kearifan 

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetya1 pada 14 Januari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 3100

Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana MS
Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana MS
"Ada kecenderungan masyarakat kurang menghargai dan bahkan meninggalkan nilai dan norma yang berlaku sebagai pengatur dalam pemanfaatan sumberdaya alam". Demikan Prof. Dr. Ir. Darsono Wisadirana MS dalam orasi ilmiah berjudul "Penguatan Sosiokultural sebagai Modal Sosial untuk Mendukung Pembangunan Peternakan Berkelanjutan" yang disampaikan pada upacara pengukuhan jabatan gurubesar di Balai Senat Universitas Brawijaya, Sabtu 14/1.
Namun demikian, di samping sifat-sifat keserakahan yang cenderung merusak, Prof Darsono yakin bahwa setiap individu tentu memiliki kearifan yang cenderung memelihara atau memperbaiki.
Berangkat dari keoptimisan, Prof Darsono mengatakan: "Meskipun sifat masyarakat telah berubah dari sifat kearifan menjadi sifat yang cenderung merusak, karena budaya yang tidak memihak pada kearifan, saya tetap yakin masyarakat bisa diajak untuk memelihara dan memperbaiki, manakala kita memasukkan nilai-nilai budaya yang memihak pada kearifan".

Sosiokultural
Sosiokultural sebagai modal sosial meliputi ide, nilai, norma, sikap dan perilaku (cognitive social capital), kerjasama, gotong royong, dan kelembagaan struktur sosial ekonomi, menurut Prof Darsono, merupakan aspek sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan. "Ini karena sosiokultural merupakan pengatur perilaku dalam mengelola sumberdaya secara arif, dan pengendali dalam mengelola sumberdaya yang cenderung merusak", tuturnya.
Menurut Prof Darsono, penguatan sosiokultural merupakan upaya memperkuat kapasitas masyarakat dengan cara melatih dan mendidik untuk lebih memahami dan mengerti fungsi sistem nilai dan norma pengatur perilaku. "Konsep ini muncul karena pelaksanaan pembangunan dengan pendekatan top-down, yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan nilai sosial budaya, menyebabkan pudarnya kearifan lokal dan rusaknya sumberdaya pembangunan. Sebagai bagian integral dari pembangunan Indonesia, kebijakan pembangunan peternakan juga bersifat top-down. Hal ini menyebabkan masyarakat selalu tergantung pada pemerintah, tidak memiliki inisiatif dan kreativitas untuk maju, lebih bersifat menunggu dan meninggalkan budaya gotong royong, sehingga sulit diharapkan pembangunan peternakan berkelanjutan, meskipun sumberdaya ternak  dan daya dukungnya bersifat renewable", tandasnya.

Kearifan dan Kualitas SDM
Agar pembangunan peternakan berkelanjutan, menurut Prof Darsono, di samping diperlukan ketersediaan bahan penunjang secara kontinyu dan pasar, yang terpenting adalah peran nilai kearifan dan kualitas sumberdaya manusia, yang dapat dilakukan melalui penguatan  sosiokultural. Penguatan ini dapat dilakukan melalui penataan, pemantapan, dan pengembangan ide, nilai, norma, gotong royong, cognitive social capital atau sikap, perilaku dan jaringan struktur sosial ekonomi.
Diuraikan lebih lanjut, penataan, pemantapan dan pengembangan ide dan gagasan untuk membangun peternakan berkelanjutan dapat dilakukan dengan mengubah ide dan gagasan yang dulu dari pemerintah menjadi dari masyarakat, atau pendekatan top-down menjadi bottom-up planning. Menata, memantapkan dan mengembangkan nilai gotong royong dapat dilakukan melalui peningkatan jalinan kerjasama kemitraan berkeadilan sosial dalam pengelolaan hutan bersama. Sedangkan penataan, pemantapan dan pengembangan cognitive social capital bisa dicapai melalui pemahaman arti hidup dalam hubungan dengan alam sekitar (bersikap adi luhung).
Sementara itu upaya menata, memantapkan, dan mengembangkan jaringan struktur sosial ekonomi peternak, menurut Prof Darsono, dapat dilakukan dengan pembentukan modal, meningkatkan partisipasi dalam pengelolaan koperasi, memotivasi kerja untuk meningkatkan produktivitas dan melakukan penyambungan kembali hubungan antar kelembagaan terkait yang telah terputus. Sedangkan penataan, pemantapan, dan pengembangan penggunaan teknologi peternakan, dapat dilakukan melalui kelayakan teknis. "Yang perlu dipertimbangkan dari kelayakan teknis adalah keterjangkauan teknologi oleh masyarakat dan mudah penggunaannya, keterjangkauan biaya teknologi, dan bersifat compatible dengan lingkungan sosial dan alam", pungkasnya. [Far]

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID