Prasetya Online

>

Berita UB

Mahasiswa UB Ciptakan Alat Pasteurisasi-Fermentasi Single-stage untuk Kefir Wortel

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh ireneparamita pada 19 Mei 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 162

INUVINE
INUVINE
Lima Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP-UB), menciptakan alat praktis untuk memproduksi olahan produk kefir. Mereka adalah Widya Nur Habibah (THP 2015), Hairil Fiqri (THP 2015), Venisa Yosephi (THP 2015), Murtadha Ali (TEP 2015), dan Joko Tri Rubiyanto (TIP 2014). Alat tersebut diberi nama Integrated UV Pasteurisation And Chemostat Fermentation Lowgrade-Carrot Kefir Machine (INUVINE). INUVINE yaitu suatu alat integrasi Pasteurisasi UV-C dan Fermentasi Light Heating.

Ketua Tim Widya Nur Habibah menyampaikan, alat ini dibuat karena melihat rendahnya nilai ekonomi wortel dengan kualitas rendah (low grade). Menurutnya, dalam sekali produksi, wortel dapat menghasilkan wortel low grade sebanyak delapan hingga sepuluh persen.

"Wortel dengan kualitas rendah umumnya dijual dipasaran dengan harga Rp. 500,- per kg. Bahkan beberapa petani memilih untuk membuang atau meninggalkannya, tidak dipanen. Oleh karena itu, tim INUVINE ingin membantu petani dalam meningkatkan nilai ekonomi produk dengan pengolahan pangan yaitu kefir," papar mahasiswi Teknologi Hasil Pertanian ini.

Kefir wortel merupakan hasil olahan wortel yang difermentasi dengan memanfaakan bakteri asam laktat (Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophiles). Kefir merupakan minuman kesehatan yang sangat bermanfaat bagi tubuh seperti memperlancar pencernaan, memelihara kesehatan usus, dan meningkatkan sifat anti-mikrobial.

Tim INUVINE merupakan tim yang telah terseleksi dari ratusan ribu tim diseluruh Indonesia untuk mendapatkan bantuan dana dari Kementrian Riset dan Pendidikan Tinggi 2017. Hal tersebut sangat membantu tim INUVINE dalam mewujudkan inovasi mereka.

Selama kurang lebih dua bulan, tim INUVINE dibawah bimbingan Dr. Ir. Elok Zubaidah, MP melakukan proses perakitan alat. Dalam proses perakitan alat terdapat beberapa permasalahan yang mereka hadapi, seperti tidak nyalanya sinar ultraviolet dan tidak bekerjanya sistem kontrol. Hal tersebut mengakibatkan tim INUVINE melakukan pendesainan ulang alat untuk memperbaiki sistem yang rusak.

"Selain itu, setelah dilakukan pendesainan ulang alat ternyata pemakaian sinar UV-C dapat mempengaruhi organoleptik dari kefir sari wortel yang dihasilkan yaitu berbau gosong," ujar Ali selaku koordinator perakitan alat.

Sehingga, tim INUVINE melakukan beberapa kali percobaan untuk menentukan lama waktu penyinaran ultraviolet terhadap sari wortel guna mencegah perubahan bau bahan dan dilakukan finalisasi alat agar alat INUVINE dapat segera diterapkan.

Dalam penerapannya, tim INUVINE berkerjasama dengan salah satu UKM yang ada di kota Batu yaitu UKM Istiqomah. Kota Batu menjadi objek karena kota Batu merupakan salah satu produsen wortel terbesar di Jawa Timur. Produksi kefir wortel yang dilakukan oleh UKM Istiqomah merupakan produksi kefir dengan metode konvensional dimana pasteurisasi dilakukan menggunakan kompor dan fermentasi tanpa menggunakan alat tertentu.

Berdasarkan keterangan dari ketua UKM Istiqomah Abdul Manan, menyatakan bahwa pembuatan produk kefir yang dilakukan sangat membutuhkan waktu yang lama yaitu lebih dari 48 jam atau dua hari. Selain itu, produk kefir yang dihasilkan yaitu dengan rasa yang terlalu masam, sehingga tidak terlalu diminati konsumen.

Penerapan INUVINE di UKM Istiqomah memberikan hasil positif kepada UKM. Menurut keterangan Widya, dengan menggunakan INUVINE proses produksi kefir akan hanya membutuhkan 4-5 jam produksi.

"Hal tersebut akan menghemat lama proses produksi kefir yang membutuhkan waktu 48 jam atau dua hari, sehingga alat INUVINE akan dapat meningkatkan produktivitas UKM hingga 300%. Selain itu, produk hasil kefir juga memiliki nilai pH atau keasaman yang lebih tinggi, sehingga produk kefir wortel yang dihasilkan tidak terlalu asam yaitu pada range pH 3-4," jelas Widya.

Widya dan tim berharap inovasinya dapat diaplikasikan secara luas kepada pelaku industri kecil dan menengah yang mengolah produk minuman fermentasi. [Joko/Irene]

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID