Prasetya Online

>

Berita UB

Mahasiswa UB Analisis Daya Tarik Wisata (ODTW) Farm Edutourism Brau

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh oky_dian pada 06 Juli 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 531

Gambar Tim PKM-PSH Analisis ODTW Brau
Gambar Tim PKM-PSH Analisis ODTW Brau
Menurut United Nations World Tourism Organization (UNWTO), wisata adalah kegiatan seseorang berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk melepaskan rutinitas, biasanya untuk tujuan mencari pengalaman, kenyamanan, ketentraman, kesyahduan, dan dalam kurun waktu tertentu. Namun dalam paradigma kontemporer, konsep tersebut sepertinya telah mengalami pergeseran. Karena wisata tidak diartikan lagi sebagai waktu di luar waktu, namun telah menjadi rutinitas masa kini yang salah satunya dikonstruksi oleh meme Raine Pucet, Kurang Piknik. Bahkan dalam ranah industrialisasi pun tidak hanya bicara soal migas dan non migas, wisata dan non wisata juga menjadi buah bibir. Akhirnya konsep leisure time sudah tidak asing lagi bagi masyarakat modern maupun warga lokal sekalipun. Jika dulu menghabiskan waktu identik dengan mass tourism, namun sekarang telah berkembang tidak hanya untuk mengunjungi mass tourism. Wisatawan juga ingin menikmati sesuatu yang berbeda 'distinction' (niche tourism) untuk meningkatkan diversifikasi & kedalaman makna hidupnya (challenge).

Permintaan tersebut yang membuat sejumlah mahasiswa Universitas Brawijaya yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH) yang terdiri dari Nurul Rodiyah dari Antropologi, Dikau Tondo Prastyo dari Ekonomi Pembangunan, dan Muhammad Yogi Arifky Z dari Pendidikan Bahasa Inggris di bawah bimbingan Ibu Siti Zurinani, M.A tertarik untuk mengkaji "Analisis Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) Farm Edutourism Brau sebagai Model Pengembangan Desa Tertinggal Berbasis Community Based Tourism".

Farm Edu-Tourism yang dimaksud adalah wisata edukasi peternakan sapi, mengingat mata pencaharian utama warga Dusun Brau ialah beternak sapi dengan populasi sapi yang lebih besar dari populasi warga Dusun Brau. Tentunya hal tersebut menjadi kurang bernilai jual dalam pengembangan kegiatan perekonomiannya. Farm Edu-Tourism merupakan salah satu upaya yang melibatkan pengunjung wisata agar dapat berpartisipasi dalam pemerahan susu sapi, pengolahan susu sapi menjadi aneka produk kemasan, pemandian sapi, pengolahan biogas, dan sebagainya.

Penulis mengangkat konsep Community Based Tourism (CBT) yang selama ini sering kali dianggap sebagai jargon semata, karena berdasarkan RPJMN 2015-2019, pemerintah berharap perkembangan pariwisata yang massif tidak hanya berdampak pada perubahan sosial dan budaya masyarakat. Jauh lebih dari itu, pemerintah berharap tujuan dibukanya akses pariwisata yang semakin lebar dapat memberikan suntikan kesejahteraan terhadap masyarakat lokal dan destinasi wisata tersebut tidak hanya dinikmati oleh golongan tertentu saja, pasar misalnya. Ketimpangan pendapatan tersebut merupakan salah satu fakta sosial yang tidak penulis inginkan.

Adanya pengaruh telekomunikasi, transportasi, kebijakan Kota Wisata Batu dan branding Shining Batu membuat masyarakat Dusun Brau yang konon notabene terisolasi bisa melek dan sadar wisata. Warga Dusun Brau tidak mau kalah kiprahnya dengan warga Pandesari yang bekerja di Wisata Paralayang. Akhirnya warga Dusun Brau Atas, berusaha untuk membuka wisata berbasiskan masyarakat, yakni Goa Pandawa yang terkenal dengan pesona keindahan alamnya.

Wisata Goa Pandawa merupakan salah satu jenis wisata minat khusus mulai dari tahap perencanaan, pengembangan hingga pengelolaan merupakan hasil dari swadaya masyarakat lokal (baik dari modal tenaga maupun material). Jadi warga setempat menolak keras para investor dari luar Dusun Brau yang ingin invest ataupun yang ingin mengerahkan tenaga kerjanya di Goa Pandawa (larangan keras).

Tidak mau kalah eksis dengan warga Brau Atas, warga Dusun Brau Bawah juga bekerja sama dengan koperasi dan perhutani dalam mengembangkan Wisata Goa Pinus yang di dalamnya terdapat rumah adat khas Papua (Rumah Honai yang terbuat dari alang-alang). Warga pun terus aktif dalam mengembangkan spot yang ada, maupun membuat spot wisata baru yang instagramable guna memenuhi permintaan krisis eksistensi pemuda saat dihadapkan dengan kamera (jadi warga tanggap akan fenomena selfie tourism).

Tidak hanya puas terhadap dua destinasi wisata tersebut (Goa Pandawa dan Goa Pinus), warga Dusun Brau juga berkeinginan agar wisata peternakan juga dapat berkembang dalam dusun tersebut. Sehingga harapan warga Brau, pengunjung yang hadir tidak hanya piknik semata lalu pulang pun selesai, namun warga berharap agar pengunjung mendapatkan sesuatu dari mengunjungi dusun tersebut.

 Namun sampai detik ini, harapan besar warga untuk mewujudkan kampung wisata peternakan tersebut masih sebatas angan karena belum adanya kompetensi warga dalam mengonsep dan menginisiasi model pengembangan kampung wisata ternak yang tepat dan ekonomis untuk Dusun Brau. Maka dari itu, dalam penelitian ini penulis merekomendasikan modul pengembangan pemetaan wisata edukasi peternakan dan olahan hasil peternakan, yang dapat direkomendasikan kepada Dinas Pariwisata maupun Pemerintahan Kota Batu sebagai rancangan atau perintisan model pengembangan desa pinggiran dalam meningkatkan kemandirian ekonomi regional sebagai salah satu pilar dalam mewujudkan gerakan desa semesta dan sharing economy. Mengingat lokasi dari Dusun Brau berdekatan dengan wisata popular seperti Paralayang, Taman Kelinci, dan omah kayu. Selain itu, adanya koperasi yang juga bertugas untuk menyambungkan dengan investor yang ingin menggaduhkan sapinya, sehingga populasi sapi yang melimpah juga mendorong banyaknya susu sapi yang dihasilkan agar bisa dijadikan paket wisata kuliner.

 Jadi berdasarkan analisis SWOT tersebut, menunjukan bahwa objek wisata edu farm-tourism telah berada pada jalur yang tepat dan layak untuk diaplikasikan dengan terus melakukan strategi pengembangan (growth) sebagai potensi pariwisata. (PKM-PSH/DT/MSH/PSIK FIB/Humas UB)

 

 

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID