Prasetya Online

>

Berita UB

Mahasiswa Teknik Kimia Percepat Pembuatan Kefir 75%

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetyaFT pada 12 Juli 2019 | Komentar : 0 | Dilihat : 206

kefir
kefir
Perkembangan industri produk olahan susu sapi di Kota Batu tergolong cukup potensial ditinjau dari situasi geografis dari kota yang dikenal atas berbagai destinasi pariwisatanya tersebut. Oleh karena itu, banyak dijumpai produsen susu sapi perah di Kota Batu dengan berbagai produk olahannya, di antaranya adalah kefir.

Kefir sendiri merupakan hasil fermentasi susu dengan suatu granula kefir (kefir grains) yang terdiri dari hubungan simbiotik yang kompleks antara berbagai bakteri, yeast, dan kasein. Kefir dapat dipisahkan lagi menjadi curd yang berbentuk kental dan whey yang berbentuk cair dan encer. Curd dapat digunakan sebagai masker kecantikan dan kosmetik, sedangkan whey dapat dikonsumsi karena mengandung berbagai khasiat untuk kesehatan manusia.

Namun, dalam pemisahan curd dan whey tersebut, berbagai Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang memproduksi kefir masih menggunakan metode yang konvensional dengan kain penyaring biasa, sehingga membutuhkan waktu yang lama sampai 24 jam dan produknya pun mudah terkontaminasi dengan kemurnian yang masih rendah. Karena dianggap tidak menguntungkan, ada dari salah satu UKM di Kota Batu yang terpaksa menghentikan untuk sementara proses produksi dari kefir tersebut.

Dari permasalahan tersebut, lima mahasiswa dari Jurusan Teknik Kmia Fakultas Teknik Universitas Brawijaya membuat sebuah teknologi inovasi untuk memisahkan komponen curd dan whey pada produk kefir olahan susu. Kelompok yang terdiri dari Riski Agung (Teknik Kimia ’16), Reyhan Ammar (Teknik Kimia ’16), Losendra Primamas (Teknik Kimia ’16), Bramantya (Teknik Kimia ’16), dan Muhammad Rifaldi (Teknik Kimia ’17) ini membuat suatu alat separasi dengan memanfaatkan teknologi membran elektrodialisis di bawah bimbingan Ir. Bambang Poerwadi, M.S. Teknologi membran elektrodialisis dipilih karena dapat mempercepat proses pemisahan curd dan whey dalam waktu yang singkat dan pemisahannya akan menjadi lebih selektif karena menggunakan membran selektif ion dengan ukuran mikropori.

“Melalui inovasi ini kami menawarkan solusi bagi industri pengolahan kefir agar proses pemisahan komponen curd dan whey nya dapat berlangsung lebih cepat dan efisien. Melalui mekanisme elektrodialisis, molekul whey dapat terdorong untuk berdifusi melalui membran karena adanya aliran listrik yang diberikan pada elektroda di alat kami. Dengan demikian jika dibandingkan metode konvensional, hasil yang didapat akan lebih baik ditinjau dari segi waktu, kualitas, dan kuantitas produk yang dihasilkan ” ujar Riski Agung selaku ketua tim.

Penerapan teknologi yang didanai Kemenristekdikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini memang memerlukan adanya mitra sehingga inovasi ini dapat secara langsung diterapkan untuk mengatasi masalah pada mitra yang bersangkutan.

“Tentu harapan terbesar kami adalah dapat mengatasi masalah yang sekarang dialami mitra kami, sehingga produktivitas dan kualitas produk kefir mereka dapat meningkat dan dapat meningkatkan profit mereka. Namun ke depannya, tidak menutup kemungkinan alat yang kami buat dapat digunakan untuk berbagai UKM lainnya dan penggunaannya dapat diperluas, tidak hanya sebatas pemisahan curd dan whey kefir saja,” tambahnya. [FT/Humas UB]

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID