Prasetya Online

>

Berita UB

Mahasiswa Teknik Kimia Kembangkan Bahan Baru Baterai Lithium Ion

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyaFT pada 05 Juli 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 503

Anne Dian Pavita Zari (Teknik Kimia 2017) Bersama Lusia Emiliana Wahyuningtyas (Teknik Kimia 2017) dan Riski Agung Nata Utama (Teknik Kimia 2016) dengan dosen pembimbing Rama Oktavian, ST., M.Sc.
Anne Dian Pavita Zari (Teknik Kimia 2017) Bersama Lusia Emiliana Wahyuningtyas (Teknik Kimia 2017) dan Riski Agung Nata Utama (Teknik Kimia 2016) dengan dosen pembimbing Rama Oktavian, ST., M.Sc.
Tiga mahasiswa Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB) mengembangkan dan meneliti potensi logam transisi magnetit (Fe3O4) sebagai material pembentuk anoda pada baterai lithium ion.

Baterai lithium ion adalah salah satu jenis baterai yang banyak digunakan pada handphone, digital kamera, dan notebook. Bahkan belakangan ini sedang dikembangkan untuk mobil listrik. Selain memiliki daya yang tinggi, baterai ini ringan dan bisa dipakai berkali-kali.

Menurut tim peneliti, magnetit berpotensi dijadikan sebagai elektroda baterai lithium ion karena memiliki kapasitas penyimpan arus per berat material yang besar (hingga 924 mAh/g), ramah lingkungan, mudah didapat serta harganya yang relatif murah.

“Secara teoritis seperti itu. Namun, karena adanya dilasi volume yang besar saat penangkapan dan pelepasan ion Li+, maka stabilitas siklis serta kapasitas penyimpanan ion Li+ material magnetit menjadi buruk,” terang ketua tim penelitian Anne Dian Pavita Zari (Teknik Kimia 2017).

Selain Anne, penelitian melibatkan Lusia Emiliana Wahyuningtyas (Teknik Kimia 2017) dan Riski Agung Nata Utama (Teknik Kimia 2016) dengan dosen pembimbing Rama Oktavian, ST., M.Sc.

Sampel Serbuk Magnetit
Sampel Serbuk Magnetit
Anne memaparkan, konduktivitas magnetit kurang bagus untuk dijadikan material penyusun elektroda baterai ion lithium. Untuk menyiasati hal ini, tim berinisiatif  mengkompsoit magnetit dengan karbon agar dihasilkan material hybrid yang memiliki kapasitas penyimpanan arus dan konduktivitas yang tinggi.

Salah satu sumber karbon yang mudah didapat adalah Carbon Conductive Glue. Carbon Conductive Glue pada penelitian ini berfungsi sebagai perekat sekaligus sumber karbon.

“Komposit Fe3O4/C yang dikembangkan dan dirancang memiliki keunggulan dibandingkan bahan anoda yang banyak digunakan secara komersial yakni grafit,” ujar Anne.

Kapasitas grafit secara teoritisnya hanya 372 mAh/g yang tidak dapat memenuhi kebutuhan yang terus meningkat untuk baterai ion-Lithium berkinerja tinggi. Akan tetapi grafit merupakan material konduktif yang bagus sehingga masih diaplikasikan secara luas sebagai elektroda baterai lithium ion.

Oleh karenanya, walaupun magnetit menunjukkan kinerja yang bagus ditinjau dari kapasitas reversibelnya, tetapi kecenderungan terjadinya agregasi menyebabkan penurunan kapasitas selama siklus pengisian atau pemakaian.

WhatsApp Image 2018-07-02 at 21.19.06
WhatsApp Image 2018-07-02 at 21.19.06
Karbon dimasukkan untuk menekan proses terjadinya agregasi nanopartikel. Nanokomposit Fe3O4/C sebagai bahan anoda untuk baterai lithium ion diharapkan memiliki kinerja elektrokimia yang bagus dan efisien.

“Saya dan teman-teman telah melakukan yang terbaik untuk mempersiapkan proyek PKM kami, khususnya persiapan menuju PIMNAS tahun ini,” bebernya.

Harapannya, penelitian yang dilakukan dapat memberikan kontribusi berupa data-data teknis untuk diterapkan sebagai aplikasi dalam pengembangan baterai Lithium-ion dan dapat memberikan solusi dalam pembuatan baterai ion-Lithium yang memiliki kapasitas penyimpanan arus listrik lebih besar.

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID