Prasetya Online

>

Berita UB

Mahasiswa Program Darmasiswa Asal Ukraina Juara I Kompetisi SLICE

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyafib pada 26 Januari 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 423

Roman Pavliuk juara I kompetisi SLICE
Roman Pavliuk juara I kompetisi SLICE
Mahasiswa Program Darmasiswa Divisi Bahasa, Laboratorium Ilmu Humaniora, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) asal Ukraina, Roman Pavliuk, memperoleh Juara 1 dalam kompetisi SLICE (Semarang LIA International Competition & Exhibition). Pada kompetisi SLICE ini para peserta yang semuanya adalah warga negara asing diharuskan menunjukkan keterampilan berbahasa Indonesia mereka.

Dalam mengikuti kompetisi ini, para peserta harus melalui dua tahap. Tahap pertama, mereka harus mempersiapkan video sepanjang dua menit yang berisi presentasi peserta tentang kesan pertama terhadap Indonesia dengan tema bebas. Video tersebut dikirimkan kepada panitia pada bulan Oktober 2017 untuk diseleksi dan panitia meloloskan 40 peserta pada tahap berikutnya. Tahap kedua, kompetisi dilakukan di Semarang dengan unjuk kemampuan berbahasa Indonesia di hadapan para juri dengan tema "Pariwisata Indonesia".

Pada tahap pertama, Roman membuat video tentang motivasinya untuk datang ke Indonesia. "Saya menjelaskan tentang motivasi saya datang ke Indonesia dan mengambil program Darmasiswa ini. Poin utamanya adalah bagaimana saya mendapatkan program ini dan memutuskan untuk mengambilnya yang pada awalnya menimbulkan perdebatan dengan teman dekat saya", ungkap Roman.

Roman menceritakan perihal perdebatan dengan temannya tentang keputusannya untuk pergi ke Indonesia, "Pada abad ke-20 ini, informasi menyebar dengan cepat, dan terkadang setiap orang memiliki pandangan tersendiri tentang negara lain yang jauh dari negara asalnya. Sebagai contoh, Ukraina berada sangat jauh dari Indonesia. Mereka memiliki pandangan tentang Indonesia. Tetapi kebanyakan mereka fokus pada sisi negatifnya, seperti iklim yang sangat panas dan berbeda. Ukraina memiliki empat musim (musim panas, semi, gugur, dan dingin), sedangkan di Indonesia memiliki dua musim (musim hujan dan kemarau)."

"Selain itu, populasi penduduk yang sangat berbeda. Ukraina hanya berpenduduk sekitar 42 juta jiwa, sedangkan Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia. Kepadatan penduduk juga sangat tinggi."

"Kami mempelajari program studi Hubungan Internasional jurusan Ilmu Negara. Sebenarnya dia tahu bahwa saya tidak suka negara dengan populasi yang besar, karena pasti padat penduduknya, berisik, kotor dan sibuk. Kemudian dia mengatakan bahwa saya sebaiknya tidak pergi ke Indonesia karena itu negara yang besar. Kami banyak berdebat dan saya tetap memutuskan untuk pergi. Saya menghargai pendapatnya. Tapi saya pikir ini adalah kesempatan dalam hidup saya dan saya tidak bisa melepaskannya", cerita Roman.

Dalam pembuatan video berdurasi dua menit tersebut, Roman dibantu oleh dua orang teman yang membantu dalam membuat video dan menerjemahkan naskah yang sudah disiapkan oleh Roman ke dalam Bahasa Indonesia. Tentu saja, Roman berlatih keras sebelum pembuatan video agar bisa menghafal naskah berbahasa Indonesia dengan baik dan tampil secara maksimal. Hal inilah yang membuat Roman lolos menuju tahap berikutnya.

Pada tahap kedua, kompetisi dilakukan di Semarang untuk 40 peserta terbaik yang lolos pada tahap pertama. Masing-masing peserta diberi waktu tujuh menit untuk mempresentasikan dengan bebas (bisa berupa video, presentasi, cerita, dan lain-lain) tentang salah satu tempat wisata di Indonesia.

Pada tahap ini, Roman memutuskan untuk mempresentasikan Pantai Tiga Warna yang terletak sekitar 3 jam dari Kota Malang. "Saya ke sana pada bulan September sebelum kompetisi, dan di sana saya melihat 3 pantai yaitu Pantai Gatra, Pantai Clungup, dan Pantai Tiga Warna. Di sana terlihat seperti kompleks pantai dan merupakan area konservasi. Oleh karena itu, ada peraturan jika ingin mengunjungi kawasan pantai tersebut. Hal yang saya suka di sana adalah bentangan pantai yang panjang, halusnya pasir, suara ombak, dan pemandangan yang sangat indah", ungkap Roman.

Di tahap kedua ini, Roman mempersiapkan video dan juga presentasi. "Saya berpikir, jika kita ingin menjadi juara maka kita harus bekerja keras dan harus melakukan usaha maksimal dalam kompetisi ini", kata Roman. Maka dari itu, Roman mempersiapkan presentasi selama 5 menit dengan 12 slide power point, beserta 2 menit video tentang petualangannya di Pantai Tiga Warna.

"Kompetisi ini memberikan saya motivasi untuk membuktikan diri bahwa saya mampu bersaing dan menjadi juara. Langkah-langkah yang harus dilalui dalam kompetisi ini cukup berat. Saya baru belajar bahasa Indonesia selama tiga bulan, dan ilmu pengetahuan saya tentang bahasa Indonesia belum begitu tinggi, mungkin hanya sedikit lebih bagus daripada pemula dan saya memahami pasti akan bersaing dengan peserta lain yang sudah belajar bahasa Indonesia lebih lama daripada saya."

"Proses yang saya lalui dalam mengikuti kompetisi ini juga cukup panjang. Dimulai dengan mencari tim, dimana tanpa teman-teman saya akan kesulitan dalam kompetisi ini. Mereka sangat membantu saya. Mereka membantu saya menerjemahkan naskah saya ke dalam bahasa Indonesia. Mereka mengatur perjalanan saya untuk pembuatan video saya, menyewa mobil dan pengemudinya, dan lain-lain."

Selain itu, Roman mempersiapkan diri untuk kompetisi ini selama sekitar satu bulan. "Berbicara bahasa Indonesia dengan lancar, masih terasa sulit bagi saya. Tapi jika ingin juara, kita harus bisa menunjukkan kemampuan terbaik kita, dan saya tahu jika saya membaca naskah, maka hasilnya kurang maksimal. Jadi saya harus menghafalnya. Sepertinya mustahil bagi saya yang baru saja belajar selama tiga bulan. Tetapi dengan berlatih keras, saya mampu membuktikan bahwa saya bisa."

"Saya berlatih menghafal dan mengulang naskah yang sudah saya siapkan setiap hari, mulai pagi hingga petang dan dimana saja. Persiapan ini saya lakukan pada bulan November 2017 dan saya hanya fokus untuk kompetisi ini saja."

Presentasi dilakukan pada bulan Desember 2017 di Semarang. Pada presentasi ini, Roman menunjukkan hasil latihan dan persiapannya yang pada akhirnya mampu memukau para juri dimana Roman dapat membuktikan diri bahwa dia bisa menjuarai kompetisi ini. "Saat itu adalah momen emosional ketika saya mendengar nama saya dipanggil memenangkan kompetisi. Sangat menyenangkan saat meraih kemenangan, karena sulit untuk mendapatkannya", ungkap Roman. Dengan demikian, Roman memenangkan hadiah kompetisi tersebut adalah sebuah tropi dan berlibur ke Bunaken pada akhir Januari 2018.

Program Darmasiswa RI ini sangat penting bagi Roman. Melalui program ini, dia berharap dapat mengubah hidupnya untuk mencapai cita-citanya. "Saya ingin mencari pengalaman sebanyak mungkin selama tinggal di Indonesia, mungkin dengan menjadi tenaga sukarela mengajar bahasa Inggris bagi anak-anak, mungkin melakukan berbagai perjalanan dan petualangan karena Indonesia adalah negara yang terbaik untuk traveling, sungguh. -Indonesia memiliki beribu pulau, kaya akan budaya, masyarakatnya sangat ramah dan tulus-, dan mungkin hal praktis lainnya yang saya belum tahu," kata Roman. 

"Saya sangat ingin menyebarkan informasi tentang Universitas Brawijaya kepada masyarakat Ukraina terutama para mahasiswa di universitas saya. Mereka bisa bergabung dalam program semacam ini dan datang ke Indonesia. Saya pikir hal ini akan memberikan pengalaman yang bagus bagi mereka. Setiap negara memiliki sisi positif dan negatif, tetapi menurut saya dengan tinggal di sini, saya melihat bahwa Indonesia memiliki lebih banyak hal positifnya", ungkap mahasiswa yang menyelesaikan S2 nya dalam waktu 1 tahun di Ostroh Academy tersebut. [DT/MSH/PSIK FIB/Humas UB]

 

 

 

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID