Prasetya Online

>

Berita UB

Mahasiswa Ilmu Politik Juarai Lomba Debat Nasional

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyaFISIP pada 31 Mei 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 493

Mahasiswa FISIP juarai debat Bahasa Inggris di UNEJ
Mahasiswa FISIP juarai debat Bahasa Inggris di UNEJ
Dua mahasiswa yang terdaftar sebagai Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya yaitu Ikhwanul Ma'arif Harahap dan Wahyu Purnomo Aji berhasil membawa pulang piala utama pada ajang debat nasional "Agribisnis Fair" di Politeknik Negeri Jember tanggal 5 Mei 2017.  

Keduanya berusaha keras untuk maju ke babak final yang ditandingkan dari 12 tim terpilih. "Saat berbicara, kami berusaha memadukan subtansi pembicaraan kami dengan data yang komprehensif, agar pembicaraan kami lebih berbobot, selain itu kami juga menjaga attitude kami dengan lawan bicara, meskipun attitude tidak termasuk dalam kriteria penilaian juri," jelas ikhwan. Ia menambahkan bahwa dalam perlombaan attitude itu penting, tujuannya agar kita tetap mampu menghargai lawan kita saat berbicara, dengan tidak merendahkan atau mencemooh lawan, etika - etika positif tersebut harus tetap ada dalam suatu kompetisi.

Sebelumnya, Ikhwan dan Wahyu beberapa kali berpartisipasi dalam perlombaan debat. "Saya dulu pernah ikut debat berbahasa Inggris¸ namun sistemnya berbeda dengan sistem debat bahasa Indonesia yang saya ikuti beberapa hari yang lalu," jelas Wahyu. Rekannya, Ikhwan mengaku bahwa debat nasional yang mereka menangi minggu lalu menerapkan sistem British Parliamentary, yaitu terdapat 4 tim yang masing-masing tim terdiri dari 2 orang di setiap putaran. Kemudian 2 tim mewakili Pemerintah, dan 2 tim mewakili Oposisi.

Kedua mahasiswa FISIP UB tersebut diketahui merupakan peserta yang telah disaring dari puluhan tim yang mendaftar secara online. Saat ditanya, Ikhwan menjawab bahwa ia tidak mempunyai bayangan apapun tentang tema agribisnis. "Basic kami bukan dari prodi Agribisnis, jadi kami hanya mempersiapkan apa adanya untuk tema yang akan ditentukan besok," jelas ikhwanul saat diwawancarai Senin lalu (22/05/17).

Saat kompetisi debat berlangsung, keduanya sempat mendapatkan tema "Revolusi Agribisnis" yang hal itu membuatnya bingung. Seluruh peserta di kompetisi ini diketahui baru mendapatkan tema saat sudah duduk di arena kompetisi serta masing masing tim diberikan waktu 15 menit untuk case building.   

"Kami sempat kesulitan di beberapa tema yang kami tidak terlalu pahami pembahasannya namun kami diuntungkan karena posisi kami sebagai Closing Government (CG) dan Closing opposition (CO) saat sesi pertandingan," tutur Wahyu. Wahyu memaparkan bahwa keberuntungan besar saat peserta di tempatkan di posisi Closing. "Karena peserta hanya tinggal mempertegas poin-poin yang disampaikan oleh tim sebelumnya dan menambahkannya," jelasnya lagi.

Diketahui bahwa keempatnya memasuki babak final bersama dengan 3 tim lainnya yang berasal dari Universitas Negeri Jember (UNEJ), Universitas Airlangga (UNAIR), dan Universitas Brawijaya (UB) yang diwakilkan dari Fakultas Ekonomi dan Bisinis (FEB). Adapun marking criteria dari dewan juri dalam kompetisi debat ini adalah manner, method, matter. Ketiganya menjadi landasan penting saat pembicara ingin menyampaikan argumennya.

Saat ditanya tentang kesan dan pesan, Wahyu mengungkap bahwasanya ia tidak menyangka akan memperoleh juara 1 dalam perlobaan debat ini. "Yang pasti hal ini luar biasa sekali bagi saya dan teman saya, saya bisa belajar banyak hal, dapat ilmu baru dan teman teman baru," tuturnya sambil tersenyum lebar saat diwawancarai di halaman Gedung A FISIP UB. [Anata/Humas FISIP/Humas UB]

 

 

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID