Prasetya Online

>

Berita UB

Mahasiswa FTP Bina Kampung Idiot Ponorogo Melalui INVEST

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyaftp pada 25 Juni 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 387

Mahasiswa FTP Bina Kampung Idiot Ponorogo Melalui INVEST
Mahasiswa FTP Bina Kampung Idiot Ponorogo Melalui INVEST
Kabupaten Ponorogo dikenal dengan ikon budaya Reog-nya yang mendunia serta potensi pertanian, peternakan dan perkebunan yang cukup tinggi. Namun di balik citra tersebut, Kabupaten Ponorogo merupakan wilayah dengan penyebaran penderita Tuna Grahita atau Down syndrom terbesar di Indonesia.

Penyebaran tersebut ternyata terpusat pada satu titik yaitu di kecamatan Balong tepatnya di Desa Karangpatihan yang memiliki lebih dari 30 penderita tuna grahita. Hal inilah yang membuat desa Karangpatihan dikenal dengan julukan kampung idiot. Disisi lain, Desa Karangpatihan juga memiliki tingkat perekonomian dan pendidikan yang masih cukup rendah. Kondisi tersebut menyebabkan kemampuan penyediaan pangan dan gizi bagi masyarakat menjadi sangat kecil. Faktor penting inilah yang menjadi sumber terus lahirnya mata rantai tuna grahita di desa Karangpatihan.

Hal ini melatari kelima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) melakukan inovasi dan terobosan untuk membina para penderita tuna grahita di kampung idiot Ponorogo melalui program kreatifitas mahasiswa bidang pengabdian masyarakat (PKM-M)  berjudul INVEST.

Kelima mahasiswa tersebut adalah Ramadhana Alyauma Fatihah (FTP-2015), Satriyo Pandunusawan (FTP-2014), Bima Aria Pradana (FTP-2014), Lia Tri Agustin (FTP-2016) dan Orwela Arum Surtanti (FTP-2016) yang merancang Integrated Vermicultivation And Aquaponik Trickle Gravel System For Independent Village (INVEST) sebagai pengembangan kampung idiot Desa Karangpatihan untuk menjadi desa mandiri pangan berbasis zero waste dibawah bimbingan Dewi Maya Maharani, STP. MSc.

Satriyo Pandunusawan menjelaskan bahwa INVEST merupakan salah satu langkah pemberdayaan masyarakat desa Karangpatihan khususnya 30 penderita tuna grahita di kampung Idiot melalui perpaduan tiga program yaitu budidaya lele,  sayur dan cacing yang saling terintegrasi membentuk kegiatan berbasis zero waste

Kami merangkul para penderita tuna grahita ini untuk menjalankan suatu sistem aquaponik budidaya lele dan sawi guna menghasilkan produk organik yang baik bagi kesehatan. Sementara itu slury yang diperoleh dari limbah aquaponik kita manfaatkan sebagai media hidup dari cacing Lumbricus rubellus atau cacing tanah yang biasa digunakan dalam industri farmasi dan kosmetik. 

Sistem ini relatif mudah dan sederhana sehingga dapat dijalankan bagi para penderita tuna grahita. Produk organik dan olahan program tersebut juga mempunyai nilai ekonomi tinggi sehingga dapat memberikan manfaat yang besar sebagai langkah pemulihan serta sekaligus berpeluang memutus mata rantai Tuna Grahita di Desa Karangpatihan. Alhamdulilah program kami ini telah mendapat dukungan dari berbagai pihak seperti Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Ponorogo, Badan Pertanian Kehutanan Kabupaten Ponorogo, Dinas Sosial Kabupaten Ponorogo dan salah satu Industri Budidaya Pengolahan Cacing Lumbricus rubellus tingkat nasional serta tentunya dari kampus kami FTP UB. Kami harap  program ini dapat mendorong masyarakat mempunyai kemampuan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi melalui pengembangan subsistem ketersediaan, subsistem distribusi, dan subsistem konsumsi dengan memanfaatkan sumberdaya setempat secara berkelanjutan. Diharapkan program ini secara tidak langsung mampu meningkatkan kesejahteraan dan tingkat ekonomi masyarakat tuna grahita,” katanya. (dse/Humas UB)

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID