Prasetya Online

>

Berita UB

Mahasiswa FIB UB Wakili Indonesia dalam Program Pertukaran Budaya di Jepang

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyafib pada 22 April 2019 | Komentar : 0 | Dilihat : 770

Kunjungan Tempat Bersejarah Jepang di Zenkouji Temple
Kunjungan Tempat Bersejarah Jepang di Zenkouji Temple

Menjadi delegasi Indonesia di ajang internasional memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi Stevano Yosua, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB). Tergabung dalam tim JENESYS Indonesia angkatan 25, mahasiswa asal Blitar ini mengenalkan kebudayaan Indonesia di negeri matahari terbit, Jepang.

Program JENESYS atau Japan East-Asia Network of Exchange for Students and Youth merupakan program beasiswa dari Kementerian Luar Negeri Jepang yang dikoordinasikan oleh Japan International Cooperation Center (JICE). Mengangkat tema Indonesia-Japan Language Communication and Culture Exchange, Program ini melibatkan negara anggota ASEAN dan Timor Leste yang bertujuan untuk memperkuat hubungan Jepang dengan negara-negara di ASEAN melalui people to people contact.

Melalui proses seleksi yang telah dilaksanakan pada pertengahan Januari 2019 oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (KEMENPORA), terpilihlah 22 pemuda dari seluruh universitas di Indonesia yang berangkat dikirim ke Jepang pada bulan Maret 2019.

"Dapat mengunjungi Jepang merupakan salah satu impian saya sejak dulu, apalagi setelah saya mendampingi mahasiswa asal Hiroshima yang menjalankan program pertukaran pelajar di UB. Hal ini memperkuat keinginan saya untuk dapat berkunjung ke sana," ujar pemuda yang akrab dipanggil Vano.

Seluruh biaya transportasi dan akomodasi dari Jakarta ke Jepang telah dibiayai penuh oleh JICE. Sehingga setiap delegasi hanya menyiapkan uang jajan pribadi selama program. Sebelum keberangkatan didahului dengan program pembekalan (pre-departure training) yang dilaksanakan selama satu hari oleh Kemenpora. Disini para delegasi diberikan gambaran terkait program selama di Jepang dan pelatihan pencak silat untuk ditampilkan di upacara penutupan.

Selama delapan hari kunjungan di Jepang para delegasi terpilih mengikuti berbagai kegiatan seperti seminar, workshop, dan pertukaran budaya. Selain itu, peserta juga melakukan kunjungan resmi ke institusi pemerintahan dan tempat-tempat historis di Tokyo dan prefektur Nagano. Peserta juga berkesempatan untuk merasakan langsung tinggal di Jepang dengan masyarakat lokal melalui program homestay.

Stevano Yosua bersama Para Delegasi Lainnya
Stevano Yosua bersama Para Delegasi Lainnya

Mengenai pengalaman yang didapatkan selama program, Vano mengungkapkan banyak pelajaran berharga yang didapat selama kegiatan terutama mengenai perkembangan sosial budaya dan tata krama masyarakat. Di sana, ia sangat tertarik ketika menghadiri seminar dengan judul Japanese Modernization and Its Culture

"Sering kali saya mendengar bahwa kapan Indonesia bisa maju. Di seminar ini kami belajar bahwasanya Jepang adalah negara yang bangkit dan menjadi maju. Melalui perspektif sejarah, strategi dan budaya. Seminar ini membuka wawasan saya, pada dasarnya setiap negara memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi negara maju. Dalam hal ini bergantung kepada aktor-aktor yang merupakan penentu dari kemajuan bangsa itu sendiri."

Selain itu, Vano juga belajar bagaimana setiap elemen masyarakat Jepang saling bahu-membahu untuk meningkatkan kemajuan di bidang teknologi, sosial dan budaya sehingga semuanya mampu berjalan beriringan.

Di akhir kegiatan, masing-masing perwakilan negara diminta untuk melakukan presentasi mengenai hal apa saja yang telah didapatkan selama program JENESYS. Tidak hanya itu, setiap negara diminta untuk mempresentasikan projek sosial dan action plan yang akan dijalankan setelah kembali ke negara asal dalam rentan 3 bulan. Presentasi ini dilakukan di hadapan Kementerian Luar negeri Jepang, Duta Besar Negara ASEAN dan petinggi JICE.

"Sungguh pengalaman yang sangat berharga dapat mewakili Indonesia di ajang pertukaran budaya. Apalagi saya sendiri adalah mahasiswa ilmu budaya, jadi ada kebanggaan tersendiri untuk mewakili fakultas saya" tambahnya.

Diakhir wawancara, Vano mengungkapkan bahwa jangan pernah malu untuk menjadi mahasiswa ilmu budaya. "Justru kitalah yang menjadi kekuatan bagi Indonesia sebagai Negara Adidaya di bidang budaya. Saya belajar banyak di program JENESYS ini. Program ini juga memberikan rasa optimisme baru bagi diri saya dan teman teman. Melihat dari antusias dan visi misi teman teman delegasi kemarin. Saya melihat bahwa Indonesia memiliki harapan besar untuk menjadi bangsa yang kuat di masa depan,"katanya. (DT/MSH/PSIK FIB/Humas UB)

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID