Prasetya Online

>

Berita UB

Mahasiswa Asing Keluhkan Sulitnya Mendapatkan Visa di Indonesia

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh denok pada 05 November 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 662

Delegasi UB, mahasiswa asal Kazakstan, Ganbia dan Libya didampingi Prof. Marjono (kedua dari kanan) ikuti Forum Indonesianis sedunia
Delegasi UB, mahasiswa asal Kazakstan, Ganbia dan Libya didampingi Prof. Marjono (kedua dari kanan) ikuti Forum Indonesianis sedunia
Mahasiswa Program Doktoral Akuntansi asal Libya yang juga Ketua Libyan Students Union, Abdu Kalifa, berkesempatan mengikuti Forum Indonesianis Sedunia (The World Indonesianists Forum). Kegiatan ini diselenggarakan di Bali pada Selasa (30/Oct/2018), setelah pelaksanaannya yang pertama di Jakarta tahun lalu. Forum yang diprakarsai oleh Kementerian Luar Negeri ini merupakan wadah bagi Indonesianis untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta untuk menciptakan sinergi dari berbagai inisiatif dan kreativitas mereka untuk ikut memajukan Indonesia.

Forum ini diikuti oleh 200 peserta yang sebagian besar merupakan Indonesianis dari berbagai latar belakang seperti akademisi, peneliti, mahasiswa dan pegiat seni budaya. Dari jumlah tersebut, 145 merupakan Indonesianis millennial dari 43 negara seperti Amerika Serikat, Australia, Botswana, Republik Ceko, Hongaria, dan RRT. Saat ini mereka merupakan mahasiswa pada berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Dengan tema the Role of Millennial Generation, forum ini dilaksanakan dalam bentuk pleno dan workshop yang terdiri atas tiga panel dengan tema yakni Building World Peace: Indonesia's Contribution to a Peaceful World, Indonesia's Achievement in Science, Technology and Development serta Promoting and Preserving Indonesia's Rich Culture. Forum ini mendatangkan pakar tentang Indonesia dari berbagai negara yakni Prof. Anis H. Bajrektarevic (Austria), Prof. Xu Liping (RRT), Dr. Michael R. J. Vatikiotis (Australia), serta Prof. Dr. Jan Van der Putten (Jerman).

Abdu Kalifa (kiri) dan Siswo Pramono
Abdu Kalifa (kiri) dan Siswo Pramono
Disampaikan Abdu Kalifa, dalam kesempatan tersebut ia sempat bertemu dengan Head of Policy Analysis and Development Agency Kemlu RI Siswo Pramono. Ia menyampaikan kesulitan terbesar yang dihadapi mahasiswa asing yang belajar di Indonesia yakni Visa. Dari forum ini, menurutnya akan ditindaklanjuti dengan pertemuan berikutnya di Jakarta yang secara khusus membahas masalah visa untuk mahasiswa asing. Dalam pertemuan lanjutan ini menurut rencana akan diundang pula Direktorat Jenderal Imigrasi pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Permasalahan ini menurutnya dibenarkan juga oleh pihak Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI yang juga hadir dalam kesempatan tersebut. Disamping isu visa, dalam kesempatan tersebut dipaparkan upaya Indonesia untuk memberikan kesempatan studi bagi mahasiswa dari negara yang sedang konflik seperti Palestina dan Afghanishtan dan upaya Kemenristekdikti membangun pendidikan tinggi Indonesia.

Diceritakan Kalifa, yang telah menyelesaikan pendidikan Magisternya di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, student visa merupakan hal yang sangat sulit diperoleh bagi mahasiswa asing. Bahkan dia mengisahkan seorang temannya yang telah menyelesaikan studi magister di Universitas Brawijaya tanpa memiliki student visa. Umumnya visa yang mereka miliki adalah visa kunjungan satu kali perjalanan yang berlaku hanya 60 hari. Selama berlangsungnya studi, mereka harus memperpanjang visa hingga satu semester. Model ini dirasanya memberatkan mahasiswa dan berbeda dengan negara lain yang justru memberikan student visa kepada mahasiswa asing begitu mereka mendapatkan Letter of Acceptance (LoA). Di sisi lain, jenis visa seperti visa tinggal terbatas memiliki banyak peran termasuk untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM). Masalah visa, menurutnya tidak hanya dihadapi oleh mahasiswa tetapi juga dosen asing yang tengah bertugas di Indonesia.

Selain masalah visa, Kalifa juga menggarisbawahi masih rendahnya iklim internasionalisasi terutama dalam hal akademik. Dari ratusan event akademik, ia menyebut hanya beberapa yang bersifat internasional. Meskipun begitu, Kalifa mengakui ada perbaikan di Indonesia dibanding pertama kali dirinya datang pada 2013. [Denok/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID