Prasetya Online

>

Berita UB

Lokakarya PPOTODA-Radar Malang: Diapakno Kota Malang, Ker?

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh humas3 pada 10 September 2013 | Komentar : 0 | Dilihat : 6256

Moderator (tengah) bersama dua pembicara Dr.Ibnu Sasongko (kanan) dan Dwi Cahyono
Moderator (tengah) bersama dua pembicara Dr.Ibnu Sasongko (kanan) dan Dwi Cahyono
Lokakarya hasil kerjasama Pusat Pengembangan Otonomi Daerah (PPOTODA) Universitas Brawijaya dengan harian Radar Malang yang bertajuk "Diapakno Kota Malang, Ker?" diadakan di Ruang Auditorium lantai 6 Fakultas Hukum UB ,Selasa(10/9). Lokakarya ini diadakan dengan tujuan untuk menyambut Walikota dan Wakil Walikota Malang yang baru terpilih.

Pembicara tema Tata Kota Dr. Ibnu Sasongko mengatakan kota Malang pada awalnya dibangun dengan konsep Jawa dan Kolonial. "Sekarang ini tidak jelas mau dibawa kemana, semua konsep dipakai seperti gado-gado," ungkap dosen Planologi Institut Teknologi Nasional Malang ini.

Ketidakjelasan konsep ini membuat kota Malang kehilangan pusat-pusat keramaian yang dulu pernah eksis seperti kawasan Kayutangan atau Stasiun Kota.Pusat keramaian itu berganti menjadi pusat belanja yang semakin menjamur. Walau ada satu yang menurutnya masih bertahan yakni kawasan Ijen.

Namun menurut moderator, Sahrul Sajidin, SH, kawasan Ijen bisa menjadi fasilitas publik bagi masyarakat di hari-hari tertentu saja. Seperti ketika dilaksanakan Car Free Day yang diselenggarakan Radar Malang bersama Pemerintah Kota. Selain Ijen, tidak ada lagi tempat milik Pemkot yang bebas digunakan warga untuk berolahraga pagi. "Lapangan Rampal itu milik Kodim, Stadion Gajayana tertutup, kalau mau basket di dekat stadion harus bayar," tutur mahasiswa S-2 FH ini.

Dalam sambutannya, Sutiaji Wakil Walikota Malang terpilih menjelaskan ada secercah harapan dalam lokakarya ini. "Kota Malang tidak mungkin akan menjadi maju dan bagus apabila tidak ada kebersamaan," ungkapnya. Salah satu bentuk kerjasama itu adalah  media dan perguruan tinggi berpikir bersama bagaimana Kota Malang menjadi kota yang bermartabat.

Sutiaji juga menepis anggapan akan ada perombakan SKPD setelah pelantikannya dan Walikota Terpilih Anton. Ia mengatakan penataan pejabat di masanya akan menggunakan uji kelayakan adan kepatutan. Setiap SKPD maupun Camat akan diberi target kerja masing-masing. "Orang yang diganti akan diganti karena dirinya sendiri. Bila mereka tidak mampu memenuhi target, akan diganti dengan yang lebih baik" katanya.

Sedangkan Ngesti D.Prasetyo, SH.,MH selaku Ketua PPOTODA UB berharap lokakarya ini mampu merumuskan rambu-rambu untuk Walikota dan Wakil Walikota Terpilih. "Selain itu, kami berharap selalu ada perubahan dan manfaat bagi masyarakat. Acara ini juga bagian dari pengabdian UB khususnya di bidang perkembangan Otonomi Daerah," ujar Ngesti. Ia juga mengucapkan terima kasih atas kehadiran undangan serta berbagai macam lapisan masyarakat seperti asosiasi pedagang, agamawan, tokoh politik,pedagang kaki lima(PKL), maupun pengusaha.[vidia/ai]

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID