Prasetya Online

>

Berita UB

Lokakarya Nasional Jejaring Intelijen Pangan

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetya1 pada 15 Maret 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2965

Dalam rangka menjadikan Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Brawijaya sebagai titik sentral riset dan informasi untuk keamanan pangan produk asal hewan se Jawa Timur, dalam program jejaring intelejen pangan yang bekerja sama dengan Badan Pengawaan Obat dan Makanan (POM) dan WHO, Selasa 15/3, di gedung PPI Unversitas Brawijaya digelar Lokakarya Nasional Jejaring Intelijen Pangan. Tema lokakarya ini adalah "Peningkatan Keamanan dan Mutu Susu dan Produk Olahannya".
Dibuka oleh Dr. Ir. Kusmartono, Pembantu Dekan I yang mewakili Dekan Fapet Unibraw, lokakarya menampilkan keynote speaker Prof. Dr. Winiati Pudji Rahayu MS, Direktur Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan pada Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM), yang memaparkan tentang Program Jejaring Intelijen Pangan. Dikemukakannya bahwa penerapan sistem keamanan pangan terpadu di Indonesia telah dicanangkan 13 Mei 2004, di aula Badan POM RI oleh Menko Kesra a.i. Prof. A. Malik Fadjar MSc. Tim Teknis Keamanan Pangan Nasional yang dibentuk akan bekerjasama untuk mewujudkan 3 program yang saling mengkait antar 3 jejaring yang ada, yaitu sistem klasifikasi piagam bintang keamanan pangan (star awards), sistem monitoring keamanan pangan terpadu (food watch), serta tim respon cepat (rapid response).
Jejaring Intelijen Pangan (Risk Assessment), bertugas menghimpun informasi kegiatan pengkajian risiko keamanan pangan dari lembaga terkait (data surveilan, inspeksi, riset keamanan pangan, dsb). Di sini dilibatkan unsur-unsur Badan POM, R&D Industries, Kementerian Lingkungan Hidup, Departemen Kesehatan, Pegawas Makanan (Food Inspectors), lembaga penelitian universitas, dan lain-lain
Sementara itu Jejaring Pengawasan Pangan (Risk Management) meliputi Jejaring kerjasama antar lembaga dalam kegiatan yang terkait dengan pengawasan keamanan pangan (standardisasi dan legislasi pangan, inspeksi dan sertifikasi pangan, pengujian laboratorium, ekspor-impor, dsb.), yakni Departemen Kesehatan, Departemen Pertanian, Badan POM (Insert, Standar, PPOMN, Surveilan), Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, pemerintah daerah, bea cukai, dan lain-lain.
Sedangkan Jejaring Promosi Keamanan Pangan (Risk Communication), yang meliputi pengembangan bahan promosi (poster, brosur, dsb.) dan kegiatan pendidikan, pelatihan, penyuluhan keamanan pangan untuk industri pangan, pengawas keamanan pangan, dan konsumen, melibatkan unsur-unsur LPPM- universitas, swasta/ industri pangan, asosiasi konsumen, LSM, Departemen Komunikasi dan Informasi, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan-Badan POM, dan Departemen Kesehatan.
Manfaat Jejaring Intelijen Pangan, di antaranya adalah menindak lanjuti hasil temuan/riset dari instansi terkait untuk mengembangkan program pengawasan pangan, melaksanakan riset di berbagai instansi sebagai pendukung program keamanan pangan, mengembangkan sistem KLB keracunan pangan, mengembangkan sistem monitoring keamanan pangan, dll.
Lokakarya Intelijen Pangan, selama ini telah dilaksanakan sebanyak 7 kali, dangan topik "Jejaring Keamanan Pangan",  2001-2003, di Badan POM; "Surveilan Keamanan Pangan". 8 Juli 2003, di Badan POM; "Seberapa Aman Pangan di Indonesia?", 21 Oktober 2003, di Badan POM; "Penyakit karena Pangan: Bahaya Salmonella sp.", 6 Januari 2004, di SEAMEO-Trop Med UI; "Kajian tentang Penyakit Zoonosis yang Dihantarkan oleh Pangan", 1 Juli 2004, Universitas Padjadjaran; "Forum Keamanan Pangan Produk Perikanan", 2 September 2004, di Badan Riset Kelautan dan Perikanan; dan "Peningkatan Keamanan dan Mutu Susu dan Produk Olahannya", 15 Maret 2005, di Universitas Brawijaya.
Beberapa pembicara lain diundang dalam lokakarya itu, Roy A. Sparringa PhD dari Badan POM, Ir. Nurhartini MSi dari Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur, Ir. Pariatmoko dari PT Nestle Indonesia, Dr. Ir. Tedjasari Suharto MSc dari Universitas Jember, dan Ir. Susrini Idris MAppSc dari Unibraw.
Menurut Roy A. Sparringa PhD dalam makalah berjudul "Keracunan Pangan pada Produk Susu di Indonesia", dalam kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan (foodborne disease outbreak) masalahnya adalah masih rendahnya kejadian yang dilaporkan, tidak banyak terungkap penyebabnya, lebih banyak diarahkan untuk menghitung jumlah kasus keracunan pangan saja, tidak banyak manfaat yang dapat digunakan dalam program keamanan pangan, sehingga KLB tidak dapat ditangani secara tuntas. [nok]

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID