Prasetya Online

>

Berita UB

Lokakarya Internasional Agroforestri

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetya1 pada 18 Agustus 2005 | Komentar : 0 | Dilihat : 2130

Alih guna lahan hutan menjadi lahan pertanian seringkali menyebabkan turunnya kualitas tanah dan degradasi tanah. Guna memulihkan kondisi tanah yang telah terdegradasi atau lahan terlantar dan tertutup alang-alang, para petani menggunakan sistem pertanian yang berbasis pohon yang dianggap lebih menguntungkan dibandingkan tanaman pangan. Belakangan ketertarikan petani bergeser dengan menanam pohon yang bernilai ekonomi tinggi seperti karet, kelapa sawit, kopi dan buah-buahan. Usaha penanaman pohon di lahan pertanian (Agroforestri) ternyata mengalami beberapa kendala teknis, social, ekonomi, kelembagaan dan kebijakan. Fenomena yang terjadi di lapangan menarik minat peneliti dari Universitas Brawijaya, institusi nasional, lembaga internasional dan peneliti dari luar negeri untuk meneliti potensi penerapan Agroforestri oleh Petani Kecil pada Lahan-lahan Terdegradasi ( Smallholders AgroForestry Options for Degraded Soils – SAFODS) di Pakuan Ratu Lampung Utara dan Claveria Mindanao Filipina. Hasil penelitian yang dilakukan sejak 2001 ini dibahas melalui lokakarya internal dan internasional anggota SAFODS pada 15-21 Agustus 2005 di Batu Malang. Pertemuan yang difasilitasi oleh Dr. Meine van Noordwijk dari World Agroforestry Centre, ICRAF-SEA dengan anggota Prof. Dr. Georg Cadish dari Hohenheim University Jerman, Dr. D. Auclair dari INRA Montpelier, IUFRO Perancis, Dr. Rafael Navarro dari Cordoba University Spanyol, Prof. Dr. Kurniatun Hairiah dari Universitas Brawijaya Malang, dan Dr. Demi Macandog dari UPLB Los Banos dari Filipina ini mengkaji mengenai pohon pada lahan pertanian untuk mewujudkan ‘pertanian sehat’ sehingga mencapai kesejahteraan masyarakat melalui pengentasan kemiskinan tanpa merusak lingkungan lokal, nasional dan global. Lokakarya internal berlangsung pada 15-17 Agustus 2005 dilanjutkan dengan lokakarya internasional yang dibuka oleh Rektor Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno dan Walikota Batu Drs. Imam Kabul pada 18-21 Agustus 2005 dan diikuti ± 50 orang dari 13 negara yaitu Indonesia, Filipina, Thailand, China, Australia, Perancis, Jerman, Belanda, Inggris, Spanyol, Kenya, Brazil, India, dan Amerika Serikat. Beberapa materi yang dipresentasikan meliputi Indonesian Policy on Smallholder Timber oleh Dr. Upik Rosalina dari Perum Perhutani, Smallholder Timber Agroforestry oleh Dr. M. Bartolomeu dari ICRAF AECI Project, National Movement for Land and Forest Rehabilitation oleh Fransciscus Harum dari ICRAF dan Smallholder Agroforestry in Africa oleh Dr. M. Bakkar dari ICRAF Nairobi. Selain lokakarya para peserta juga melakukan field trip ke Tawangsari (Pujon) dan Tulungrejo (Ngantang).[nik]

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID