Prasetya Online

>

Berita UB

Konferensi Pers FISIP UB Terkait Spanduk Anti PKI

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyaFISIP pada 17 Februari 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 2601

Dekan FISIP UB Prof. Dr. Unti Ludigdo, Ak
Dekan FISIP UB Prof. Dr. Unti Ludigdo, Ak
Beredarnya berita pemasangan spanduk anti PKI di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) mendapat tanggapan cepat dari Dekan FISIP UB, Prof. Dr. Unti Ludigdo, Ak., dengan mengadakan press conference kepada awak media.

Menurut penjelasan dari Unti, FISIP tidak hanya belajar pada satu aliran ilmu saja tetapi mempelajari semua aliran ilmu baik dalam perspektif Western, Asia, Kritis, Postmodern, Positivistik, hingga Ultra Nasionalis. Semua aliran ilmu tersebut dipelajari sebagai dasar teori dalam menganalisis fenomena sosial yang terjadi setiap hari.

Dalam konteks ideologi, FISIP juga mengajarkan berbagai macam ideologi seperti; Kapitalisme, Sosialis, Komunis, Liberal, Nasionalis, Ultranasionalis tanpa melupakan untuk selalu mengajarkan ideologi bangsa kita sendiri yaitu Pancasila.

"Mata kuliah ini tidak hanya bertujuan untuk mengajarkan kepada mahasiswa apa itu Pancasila, tetapi juga sekaligus mengingatkan kepada mahasiswa bahwa Bangsa Indonesia punya ideologi sendiri yang sesuai dengan karakteristik Bangsa Indonesia yang dibangun oleh para pendiri negara ini agar kehidupan bangsa ini sesuai dengan nilai-nilai luhur agama yang dianut oleh rakyat Indonesia dan budaya yang dimiliki oleh Bangsa yang punya berbagai macam ragam budaya," ujar Dekan FISIP.

Selain itu, dalam press conference yang dilaksanakan di ruang sidang lantai 7, gedung A FISIP pada Jum'at (17/2/2017), Unti menjelaskan bahwa FISIP juga mengajarkan tentang freedom of speech atau kebebasan dalam menyampaikan pendapat. Kebebasan yang diajarkan bukanlah kebebasan yang tanpa batas, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab.

"Mengekspresikan pendapat dan pandangan, adalah hak setiap individu. FISIP UB sangat menghormati pendapat dan pandangan individu yang bersifat positif maupun negatif. Namun, penyampaian pendapat harus menggunakan media komunikasi dan konteks tempat yang tepat, karena pandangan atau pendapat yang disampaikan di media yang tidak tepat dan di ruang yang salah akan menimbulkan kesalahpahaman," katanya kepada para wartawan yang menghadiri conference.

Menurutnya, pemasangan spanduk salah satu ideologi tersebut merupakan sebuah bentuk pandangan dan ekspresi yang wajar.

"Bagi saya pesannya baik, mengajak kita untuk tetap menjunjung tinggi dan mengamalkan nilai-nilai baik atau nilai-nilai luhur ideologi bangsa kita sendiri, yaitu Pancasila. Namun, saya menyadari bahwa media dan ruangnya tidak tepat. Sehingga menimbulkan kontroversi atau kesalahpahaman. Namun, hal ini bisa kita pahami karena kampus adalah tempat belajar. Membuat kesalahan adalah lumrah bagi kita yang sedang belajar. Saya yakin, teman-teman yang menyampaikan pendapat ini sedang belajar untuk mengekspresikan pandangannya. Sehingga tidak ada hal yang perlu dibesar-besarkan maupun dikhawatirkan atas tindakan belajar itu," katanya. [Humas Fisip UB/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID