Prasetya Online

>

Berita UB

Komunikasi Kesehatan, Semakin Diminati Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyafisip pada 14 Mei 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 262

Prof. H. Deddy Mulyana, MA., PhD
Prof. H. Deddy Mulyana, MA., PhD
Komunikasi kesehatan menjadi salah satu bidang kajian yang sedang banyak diminati dalam diskusi akademik di lingkup internasional beberapa waktu terakhir. Tren ini berlaku pula pada Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB). Hal tersebut ditunjukkan oleh tingginya minat riset mahasiswa pada topik komunikasi kesehatan.

Pada tahun 2015, riset-riset tugas akhir mahasiswa di bidang Komunikasi Kesehatan didominasi oleh penelitian tentang iklan dan konstruksi tentang perilaku kesehatan terkait rokok. Tahun berikutnya bermunculan topik-topik baru seperti komunikasi terapeutik, komunikasi risiko, promosi kesehatan, maupun komunikasi interpersonal antara petugas medis dan pasien. Peran kelompok riset dosen dalam bidang kajian ini juga andil dalam meningkatkan minat mahasiswa melalui payung penelitian.

Melalui kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB pada Rabu (9/5/2018) di Auditorium Nuswantara dengan tema "Memotret Perkembangan Kajian Komunikasi Kesehatan di Indonesia", Prof. H. Deddy Mulyana, MA. Ph.D, selaku tokoh komunikasi Indonesia, juga peneliti senior yang banyak berperan dalam pengembangan kajian Komunikasi Kesehatan di Indonesia dihadirkan untuk menjawab hal tersebut.

Deddy mencontohkan beberapa peristiwa tentang kurang ramahnya petugas kesehatan yang ada di Indonesia, sehingga banyak orang Indonesia yang memilih untuk berobat ke luar negeri, meskipun harganya lebih mahal. Hal tersebut, lanjut Deddy, menunjukkan bahwa penelitian-penelitian di bidang Komunikasi Kesehatan menarik dan potensial untuk diteliti. "Namun sayangnya, kita masih ketinggalan," kata Deddy.

Deddy mengatakan komunikasi sangat penting bagi segala profesi, apa lagi seorang dokter.

"Tidak mungkin, kan, ada dokter yang bisa mendiagnosis penyakit tanpa berkomunikasi. Oo ternyata orang ini sakit diabetes. Oo ternyata orang ini sakit jantung. Tidak bisa seperti itu. Dokter harus berkoordinasi untuk menentukan penyakit yang diderita seseorang," kata Deddy.

Kuliah tamu yang diselenggarakan di Auditorium Nuswantara tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam diskusi akademik khususnya dalam bidang komunikasi dan kesehatan.

Di samping itu juga diharapkan dapat memberi manfaat bagi para praktisi dan pengambil kebijakan dalam pengembangan kesehatan khususnya di Malang Raya, serta untuk memberikan wadah bagi mahasiswa dalam pengembangan minat pada riset-riset dalam bidang Komunikasi Kesehatan.

Deddy tidak lupa mengingatkan peserta yang hadir untuk berkomunikasi dengan baik dan efektif.

"Orang-orang yang komunikasinya baik dan efektif akan lebih sehat dan memiliki umur yang lebih panjang," ujarnya. [Charisma /Humas FISIP/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID