Prasetya Online

>

Berita UB

Kicauan Love Bird untuk Menepis Kehidupan Global 

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetya1 pada 14 Januari 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 3851

Prof Dr. Ir. Yuliani Djuniarti MS
Prof Dr. Ir. Yuliani Djuniarti MS
Dalam orasi ilmiah berjudul "Fenomena Kicauan Master Burung Love Bird dari Lahan Sempit untuk Menepis Kehidupan Global", Prof Dr. Ir. Yuliani Djuniarti MS mengatakan bahwa lingkungan yang terus berubah dengan cepat akan menyulitkan adaptasi manusia, sehingga berbagai problema dan dilema pun bermunculan secara nyata. "Ini akan berpeluang dalam manifes peningkatan stress publik, yang berbahaya bagi kesehatan hidup bersama dalam masyarakat".
Hal ini disampaikan Prof. Yuliani dalam upacara pengukuhan jabatan guru besar di Balai Senat Universitas Brawijaya, Sabtu 14/1.
Mengawali orasi, dinyatakan bahwa telah terjadi perubahan paradigma dalam bidang peternakan. "Dulu, jika orang berbicara tentang peternakan maka pikiran terfokus pada kepemilikan padang puluhan hektare, namun kini keadaan itu telah berbalik, mengarah pada lahan sempit", tuturnya. Petak tanah beberapa meter persegi, menurut Prof Yuliani, mampu menambah dan meningkatkan ekonomi kerakyatan, khususnya petani ternak, bila tanah sempit itu dimanfaatkan secara tepat guna.

Satwa harapan
Dikemukakan juga satwa liar sekarang telah mendapat wadah untuk dibudidayakan menjadi satwa harapan. Satwa ini diharapkan mampu menepis intervensi globalisasi, atau bahkan menjadi komoditi ekspor nonmigas. "Budidaya satwa burung termasuk usaha yang efisien seperti ini", tegasnya. Disebutkan bebarapa peran dan fungsi burung bagi manusia: burung adalah sarana atau wahana pemuas lahir dan batin, karena burung mempunyai ekosistem yang erat dan akrab dengan manusia; burung dapat memberi semangat serta nilai-nilai tersediri bagi pemiliknya. Di samping itu, burung mempunyai nilai ekonomis yang menarik sebagai sumber penghasilan pokok atau sampingan.
Prof. Yuliani mengatakan, satwa burung Indonesia menempati urutan keempat di dunia setelah Columbia, Brasil, dan Peru. Tercatat ada 1583 macam spesies burung di Indonesia, dan 381di antaranya adalah spesies endemik, seperti jalak bali, glatik jawa, dan beberapa spesies lainnya. Berdasarkan spesies endemik, maka Indonesia adalah nomor satu di dunia, karena 4% spesies endemik yang ditemukan di dunia hanya ada di Indonesia. Namun tragis dan ironisnya, dari jumlah 1583 spesies yang tersisa hanya 340 spesies saja. Selebihnya telah punah. Oleh sebab itu, Prof. Yuliani memandang perlu pelestarian melalui penangkaran yang tepat sehingga kesinambungan hidup satwa burung dapat terjaga.

Nilai Ekonomis
Dalam hal penangkaran, kinerja reproduksi menjadi penentu utama sesuai dengan hukum alam. Budidaya burung parkit (Melopsittacus undulatus) sudah umum dilakukan para penangkar burung hias, sehingga harganya menjadi semakin murah. Untuk mengantisipasi ini, menurut Prof. Yuliani, perlu diupayakan budidaya burung yang memiliki nilai ekonomis lebih baik, yaitu love bird (Agapornis sp). Jenis burung ini berasal dari Afrika, namun kini sudah dibudidayakan di berbagai belahan bumi, baik tropis maupun subtropis, juga telah beradaptasi di Indonesia. Jenis ini sekarang telah menjadi komoditi antarnegara, seperti Belanda, Amerika, Jerman, dan Cina, dan masing-masing mempunyai ciri strain tersendiri. Burung mungil ini memiliki dwi-potensi. Selain sebagai burung hias dengan lebih dari 60 variasi dan intensitas permutasi warna bulu yang elok, juga sebagai burung berkicau dengan suara kicauan yang panjang, tajam dan bergelombang, dan biasa dijadikan master untuk mengisi atau membelajari kicauan burung lain.
Pada bagian lain orasi, diperbandingkan nilai ekonomis burung parkit dan love bird. Burung parkit, harganya per ekor Rp 10 ribu, dari 70 pasang yang dibudidayakan ternyata menghasilkan benefit cost ratio (B/C) 1,83. Sedangkan pada love bird yang telah mendapat pasaran lebih baik dan lebih luas, dapat mencapai harga 10 kali lipat per ekor, dengan biaya makanan dan pemeliharaan yang tidak jauh berbeda. Hanya, ukuran kotak sangkar untuk sepasang love bird dua kali lebih luas, yaitu (lebar x panjang x tinggi) 30x80x40 cm3. Dengan lahan 4x10 meter persegi, dapat dibudidayakan 100 love bird dan kandang baterai tersusun 4 tingkat.

Jangan Panik
Mengutip pepatah Cina, "Jangan beri ikan, tetapi berikanlah pancingnya", Prof. Yuliani menyarankan UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) di daerah perkotaan untuk membudidayakan love bird, terutama pasca kenaikan harga BBM. Diharapkannya kicauan master burung love bird dari lahan sempit dapat menggugah hasrat untuk membudidayakannya, karena usaha ini dapat menopang dan meningkatkan kesejahteraan lahir dan batin keuarga dan masyarakat sekitar, sehingga lewat pemberdayaan sumberdaya manusia dan masyarakat akan mampu meningkatkan kualitas hidup yang dapat menyesuaikan dan menepis kehidupan global.
Menyinggung soal wabah flu burung (avian influenza) yang menghebohkan masyarakat akhir-akhir ini, Prof. Yuliani menegaskan: "Tidak perlu panik. Ini dapat diantisipasi melalui pemantauan preventif dengan sanitasi dan menggunakan disenfektan terus-menerus, diimbangi dengan pemberian makanan bermutu, ditambah vitamin unggas". [Far]

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID