Prasetya Online

>

Berita UB

Ketahui Pengaruh Genistein Topikal Terhadap Etio-Patomekanisme pada Penderita Sindroma Dry Eye

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh vicky.nurw pada 02 Februari 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 411

dr. Rosy Aldina, Sp.M(K)
dr. Rosy Aldina, Sp.M(K)
Keluhan Penderita Sindroma Dry Eye (SDE) menempati urutan kedua sehingga datang berobat ke dokter mata. Insidensi SDE banyak terjadi pada wanita, dengan faktor resikonya usia tua khususnya pasca menopause, sehingga hormon berperan penting terhadap terjadinya SDE.https://prasetya.ub.ac.id/cmsub/javascript/tiny_mce/plugins/pagebreak/img/trans.gif
https://prasetya.ub.ac.id/cmsub/javascript/tiny_mce/plugins/pagebreak/img/trans.gif

Pemberian Hormon Replacement Therapy (HRT) pada SDE digunakan sebagai strategi untuk menurunkan gejala, memperbaiki permukaan mata serta fungsi air mata, tetapi banyak penelitian yang hasilnya kontradiksi.  Satu kejadian melaporkan bahwa seorang wanita yang menerima HRT dengan estrogen meningkatkan resiko SDE.

Satu sisi, ada yang menyebutkan pada tikus ovariektomi 2 minggu dengan terapi 17β estradiol didapatkan level RE mRNA meningkat dibanding dengan ovariektomi yang menunjukkan regulasi RE-ligan. Hasil yang bertentangan ini kemungkinan tergantung dengan komposisi obat, cara pemberian, dosis estrogen, durasi dan usia. Hubungan antara SDE, HRT, dan usia masih belum dimengerti dengan baik. Belum ada consensus yang jelas tentang proses seluler yang diregulasi oleh estrogen pada glandula lakrimal dan permukaan mata.

Genistein merupakan komponen biologis aktif pada tumbuhan yang struktur kimia dan fungsinya serupa dengan 17-β estradiol, berikatan dengan RE, afinitas ikatan genistein lebih besar pada Reβ dibanding REα. Telah diprediksi bahwa pada wanita menopause, genistein menunjukkan sebagai bahan estrogenik yang besar. Estrogen, endogen, dan genistein saling membantu dalam efek pengamatan ekspresi sitokin.

Terapi genistein oral 50 dan 250 ppm pada SDE dengan tikus induced scopolamine dapat meningkatkan volume air mata dan memperbaiki sel goblet. Terapi SDE masih diperlukan target obat anti inflamasi walau penggunaannya jangka panjang, tetapi aman sehingga dengan adanya strategi yang baru dalam terapi, harapannya lebih efektif dalam mengontrol gejala SDE dan komplikasi yang ditimbulkannya 

Maka dari itu, pada Kamis (01/02/2018),  melalui disertasinya, dr. Rosy Aldina, Sp.M(K) menjelaskan tentang Pengaruh Genistein Topikal terhadap Sindroma Dry Eye pada Tikus Ovariektomi Melalui Peran Sel Epitel dan Goblet Konjungtiva serta Sel Punca Epitel Limbal yang disaksikan oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Dr. dr. Sri Andarini, M.Kes, serta beberapa penguji dan promotor dari FK UB. Dalam penelitiannya, Rosy mengambil sampel sejumlah 5 ekor tikus pada masing-masing kelompok. Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakologi dan Laboratorium Patologi Anatomi dan Faal Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya; Laboratorium Sentral Ilmu Hayati Universitas Brawijaya pada bulan Juni hingga Desember 2015.

Dari penelitiannya, didapatkan peningkatan signifikan ekspresi RE-β dan MUC-5AC pada kelompok perlakuan genistein topical dosis 100 μM di sel epitel dan goblet konjungtiva. Selain itu terdapat penurunan signifikan ekspresi NF-kB dan IL-1β pada kelompok perlakuan genistein topikal dosis 100 di sel epitel konjungtiva.

Ada pula pengaruh langsung signifikan dosis genistein terhadap RE- β; IL-1β terhadap MUC-5AC; IL-1β terhadap p63; K13 terhadap SDE; K12 terhadap K13; MUC-5AC terhadap SDE; NF-kB terhadap SDE; NF-kB terhadap IL-1β; RE-β terhadap IL-1β; RE-β terhadap  K13 ; RE-β terhadap NF-kB. Namun tidak ada pengaruh langsung yang signifikan melalui RE- β terhadap K12; RE- β terhadap p63; IL-1 β terhadap SDE; RE- β terhadap SDE.

Majelis penguji yang terlibat dalam ujian disertasi ini antara lain Prof. Dr. drh. Aulanni'am, DES., Dr. dr. I Wayan Arsana Wiyasa, SpOG.(K)., Prof. dr. Soehardjo, SU., SpM.(K).

Sedangkan Komisi Promotor terdiri dari Dr. drg. Nur Permatasari, MS., dr. Hidayat Sujuti, M.Sc., Ph.D., SpM., dan Prof. dr. M. Aris Widodo, MS., SpFK., Ph.D. [Afwega/vicky/Humas UB]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID