Prasetya Online

>

Berita UB

Kembangkan Perpustakaan Desa, Delegasi FIA Juara 2 LKTIM

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh oky_dian pada 21 September 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 427

Rizki Ananda Damanik (Administrasi Publik 2016) dan Putri Fidya Handayani (Administrasi Publik 2015)
Rizki Ananda Damanik (Administrasi Publik 2016) dan Putri Fidya Handayani (Administrasi Publik 2015)
Delegasi mahasiswa dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) yang terdiri dari Rizki Ananda Damanik (Administrasi Publik 2016) dan Putri Fidya Handayani (Administrasi Publik 2015) berhasil meraih juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa (LKTI) Jawa Timur. Tim FIA UB berhasil menyisihkan puluhan tim dari mulai lolos abstraksi hingga presentasi.

Kompetisi final dilakukan di Universitas Negeri Malang (UM) dengan mengusung tema optimalisasi Sumber Daya Manusia Guna Mewujudkan Daya Saing Global Melalui Pembelajaran Sosial, Sabtu (8/9/2018). Mereka membuat sebuah inovasi desa melalui perpustakaan desa yang diberi nama Librory (Library Laboratory).

"Pada inovasi ini, kami juga menginisiasi fasilitas tambahan untuk pembelajaran siswa Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Kami ingin perpustakaan desa dapat menjadi sebuah tempat atau fasilitas belajar bagi siapapun," kata Putri kepada tim Humas FIA UB.

Tujuan tim adalah mengedukasi masyarakat Indonesia agar gemar membaca sehingga dapat memetakan potensi-potensi di desanya.

Lebih lanjut, Rizki menjelaskan timnya menggunakan model pentahelix dalam inovasi librory. Model pentahelix terdiri dari lima bagian yang saling terkait satu sama lain, yaitu pemerintah, stakeholder, masyarakat, akademisi, dan media massa.

"Pertama adalah sektor pemerintah yang berperan sebagai regulasi dan kebijakan terkait desa mandiri dengan perpustakaan sebagai indokatornya. Kedua adalah stakeholder swasta penyedia CSR dan dana sebagai pembentuk perpustakaan itu sendiri.  Selanjutnya ada masyarakat yang dibagi menjadi dua, yaitu sadar wisata dan pengguna/akademisi. Sadar wisata itu bisa sebagai volunteer dari Librory nya sendiri dan ada akademisi yaitu mereka yang mengembangkan perpustakaan desa sedemikian rupa sesuai dengan ilmunya. Terakhir adalah media massa sebagai sarana publikasi dan branding," kata Rizki.

Tim mengungkapkan di setiap desa terdapat masing-masing karakteristik, salah satunya adalah desa mandiri dengan contoh inovasi yaitu perpustakaan desa.  Jika melihat pada fenomena desa di Jawa Timur, 63%  tidak memiliki perpustakaan desa dan susah untuk dijadikan desa mandiri. Program Librory banyak mendapat dukungan dari berbagai pihak antara lain dosen pembimbing Andhyka Muttaqin, S.AP., M.PA., dan Wakil Dekan III FIA UB Mochamad Rozikin, Dr., M. AP.

Tim berharap sistem-sistem manual dan peraturannya harus diganti diikuti oleh produk seperti perpustakaan desa maupun yang lain. Karena menurut mereka gagasan yang menarik itu membuat orang tidak bosan. [Afwega/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID