Prasetya Online

>

Berita UB

Keberadaan Mahasiswa Difabel Melengkapi Yang Non Difabel

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh siti-rahma pada 25 Agustus 2015 | Komentar : 0 | Dilihat : 2818

Ketua PSLD (kiri) memberi sambutan
Ketua PSLD (kiri) memberi sambutan

Ketua FORMAPI (Forum Mahasiswa Peduli Inklusi), Herliny Meuthia, mendorong mahasiswa difabel agar tidak minder, atau takut saat memasuki kehidupan kampus. Menurutnya mahasiswa difabel pun memiliki manfaat ketika berada di lingkungan non difabel.

"Dari kita, mereka (mahasiswa non difabel) belajar arti perjuangan," ujar mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2012 ini kepada 15 mahasiswa baru difabel UB beserta orang tua. Senin (24/8/2015), FORMAPI bersama Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) menyelenggarakan PKMD (Pengembangan Karakter Mahasiswa Difabel) di Gedung Senat lantai 1 UB.

Ia memotivasi mahasiswa baru difabel agar tidak minder atas kondisi fisik mereka. "Kalau ada yang komentar itu kakinya kenapa, tangannya kenapa, sudah biarin," ungkapnya.

Menurut Meuthia yang menyandang cerebal palsy, kondisi fisik yang berbeda membuat mahasiswa difabel memiliki kondisi psikis yang berbeda pula. Oleh karenanya, selama tiga hari, Senin-Rabu (24-26/8/2015) FORMAPI memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru yang terjaring melalui program SPKPD (Seleksi Program Khusus Penyandang Disabiitas) agar bisa beradaptasi dengan lingkungan kampus. Bukan hanya sarana fisiknya, namun juga kehidupan perkuliahan dan pertemanan di kampus.

Selain memberikan pelayanan pada mahasiswa difabel, FORMAPI juga melakukan sosialisasi kepada mahasiswa UB tentang pendidikan inklusi. Sosialisasi ditujukan kepada mahasiswa non difabel agar terbiasa berinteraksi dengan mahasiswa difabel. [ai/Humas UB]

 

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID