Prasetya Online

>

Berita UB

Kearifan Lokal untuk Pengelolaan Perikanan

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh vicky.nurw pada 22 Februari 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 1289

Prof. Dr. Ir. Mimit Primyastanto, MP
Prof. Dr. Ir. Mimit Primyastanto, MP
Salah satu sumber pangan adalah produk perikanan dan kelautan yang sekaligus juga merupakan potensi pendapatan masyarakat pesisir. Variasi hasil tangkapan bergantung pada jumlah fishing effort untuk mendapatkan tingkat keseimbangan besarnya populasi ikan. Inilah yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir Mimit Primyastanto, MP saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Perikanan, Rabu (21/02/2018) di Gedung Widyaloka.

Dengan mengambil judul Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Berbasis Local Wisdom dan Zonasi, Mimit bertujuan utnuk melakukan analisa potensi dan pemanfaatan sumberdaya perikanan di pesisir Selat Madura. Ia juga mengidentifikasi nilai kearifan lokal yang berkaitan erat dengan pengelolaan sumberdaya perikanan di pesisir Selat Madura.

"Ada beberapa kearifan lokal yang digunakan oleh nelayan di Selat Madura, antara lain andun, nyabis, petik laut dan onjhem. Masing-masing istilah ini memiliki perannya masing-masing", terangnya.

Andun, menurut Mimit, merupakan proses perpindahan sementara usaha nelayan karena berbagai kendala, seperti cuaca buruk. "Dengan nelayan berpindah, maka akan ada kesempatan restocking jumlah ikan secara berkesinambungan," terangnya. Sedangkan nyabis, jelas Mimit, merupakan tradisi berkunjung ke kyai sebagai guru spiritual. "Melalui andun dan nyabis, kita bisa melakukan perubahan mindset dari one day fishing menjadi one week fishing," jelasnya. Kesempatan ini, menurut Mimit, dapat memberikan hasil yang lebih banyak dibanding one day fishing.

"Sedangkan petik laut dapat memanfaatkan benih ikan yang ditebar atau menggunakan terumbu karang buatan sebagai pengganti kepala kerbau yang di larung ke laut. Sementara onjhem, dapat dimodifikasi dengan penambahan fitur suara dan cahaya untuk menarik ikan. Onjhem akan berperan sebagai apartemen ikan," terangnya.

Sedangkan  terkait zonasi, Mimit membagi wilayah menjadi 4 bagian dengan peruntukannya masing-masing. "Konservasi mangrove dan sea farming di wilayah tepi pantai, one day fishing untuk penangkapan ikan dengan alat tradisional ramah lingkungan, one week fishing untuk penggunaan cantrang dan payang, one month fishing untuk alat tangkap modifikasi kapal ilegal fishing serta one year fishing untuk trawl dan kapal pengolah ikan", jelasnya. "Harapannya dari zonasi ini dapat menyelesaikan masalah over fishing, ilegal fishing, serta unregulated dan unreported fishing, dan dapat meningkatkan ketahanan pangan. [vicky/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID