Prasetya Online

>

Berita UB

Katakan Tidak Pada Plagiarisme

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh humas3 pada 23 Maret 2013 | Komentar : 0 | Dilihat : 4971

Seminar Nasional Plagiarisme dan Buku Digital
Seminar Nasional Plagiarisme dan Buku Digital

Tindakan plagiarisme saat ini semakin banyak dilakukan oleh akademisi baik pada skala nasional maupun internasional. Padahal tindakan plagiarisme sama halnya dengan tindakan mencuri. Demikian disampaikan Melda Istiqomah, SH., MTCP., kepada peserta Seminar Nasional Plagiarisme dan Buku Digital yang berlangsung di Ruang Pertemuan Perpustakaan UB, Sabtu (23/3).

Melda melanjutkan sejarah plagiasi di Indonesia sendiri sudah terjadi pada tahun 1962. Dimana Hamka saat itu terindikasi melakukan plagiasi dalam karyanya.“Nyatanya semakin kesini bukannya semakin berkurang malah semakin banyak indikasi plagiarisme,” ungkapnya.

Beberapa tindakan plagiasi yang sering dilakukan diantaranya adalah mengunduh sebuah artikel dari internet dan mengakui artikel itu sebagai miliknya.

"Tindakan melakukan penerjemahan terhadap penelitian  berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia hal ini juga termasuk plagiarisme,” tuturnya.

Plagiarisme disini dilihat dari adanya unsur kesengajaan tidak mencantumkan sumber referensi yang aktual dalam tulisan yang dibuat.

Melda menyarankan agar terhindar dari palgiasi perlu ditanyakan terlebih dahulu kepada dosen ataupun pihak universitas panduan apa yang digunakan untuk melakukan sitasi.

Selain itu yang lebih penting menurutnya agar terhindar dari plagiarisme perlu adanya kesadaran baik dari mahasiswa maupun dosen.

“Selain berani bilang katakan tidak pada korupsi dan narkoba, kita juga harus berani katakan tidak untuk plagiarism!” pungkasnya.

Prof.Dr.Ir.Hendrawan Sutanto, M.Rur.Sc. menambahkan sampai saat ini pengertian plagiarisme masih rancu. Dia lalu mengutip wikipedia dalam mengartikan plagiarisme dimana plagiarisme merupakan penjiplakan dari sebagian maupun keseluruhan karya orang lain dan mengakui sebagai milik sendiri.

"Masih banyak dikalangan akademisi melakukan tindakan plagiasi seperti menyalin terlalu banyak kata-kata  bahkan mencuri suatu ide pun itu termasuk tindakan plagiarisme,” paparnya.

Beberapa tipe plagiarisme yang sering dilakukan antara lain clone, copy paste, remix dan recycle. Pada clone merupakan tindakan plagiasi yang dilakukan dengan mengutip kata perkata sedangkan pada recycle adalah menulis ulang kembali karya yang telah dibuat sebelumnya.

“Salah satu faktor tindakan plagiasi adalah budaya Indonesia yang lebih senang dengan budaya tutur dibandingkan dengan budaya menulis,” ungkapnya.

Pengenalan budaya tulis menurutnya harus dilakukan sedini mungkin sejak pra sekolah dan

dimulai dari keluaraga sehingga akan terbiasa menulis dan menyertakan sumber informasi yang didapat pada setiap tulisannya.

Prof.Dr. Jatim Riyanto, M.Pd. perwakilan dari Dikti menyampaikan sekecil apapun kutipan yang didapatkan harus dituliskan sumbernya.

“Sebagai akademisi kita harus menyertakan sumber informasi dalam setiap tulisan kita,” paparnya.  

Menurutnya, walaupun di Indonesia sudah ada hukum pidana terkait tindakan plagiasi ini namun hukuman sosial lebih berat dibandingkan hukuman pidana.

Pada kontek penulisan jurnal maupun buku dia menegaskan bahwa isi tulisan berkualitas itu adalah dimana penulisannya sistematis, bahasa yang benar, inovatif, substansi

materi berorientasi untuk memecahkan masalah yang sesuai bidangngnya.

“Serta sumber referensi harus aktual dan adanya kesesuaian antara sumber referensi yang dikutip dengan daftar pustaka,” pungkasnya. [rian]

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID