Prasetya Online

>

Berita UB

Kaprodi S2 Komunikasi FISIP UB Ajak Masyarakat Perkuat Kesadaran Keberagaman Untuk Tangkal Terorisme

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyafisip pada 15 Mei 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 197

Kaprodi (S2) Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya (UB), Rachmat Kriyantono,Ph.D (Paling Kanan)
Kaprodi (S2) Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya (UB), Rachmat Kriyantono,Ph.D (Paling Kanan)

Kaprodi (S2) Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya (UB), Rachmat Kriyantono,Ph.D menilai jika tidak diwaspadai, ancaman konflik sosial dapat membesar dan menjadi ancaman serius bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ditambah lagi dengan beberapa kejadian aksi terror peledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo. Hal ini disampaikan saat menjadi narasumber acara Forum Pendidikan Wawasan Kebangsaan yang diadakan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Pemerintah Kota Kediri. Acara ini diadakan dua kali, yakni pada 9 Mei 2018 dengan peserta perwakilan Karang Taruna, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan, dan pengurus PKK se-Kota Kediri, dan 14 Mei 2018 dengan peserta perwakilan mahasiswa dari perguruan tinggi dan santri pondok pesantren se-Kota Kediri.

Rachmat menilai negara Indonesia yang kaya sumber alam dan kaya ragam budaya, suku bangsa serta bahasa daerah ini menghasilkan peluang kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat, bargaining position yang kuat di kancah internasional dan budaya yang dapat menjadi ikon pariwisata dunia.

Tetapi, kondisi Indonesia tersebut juga mengandung tantangan berupa usaha keras menyatukan banyak suku bangsa menjadi satu negara, konflik sosial akibat perbedaan, dan jika berlarut dapat memecah belah bangsa.

“Kita ini bangsa hebat. Terdiri dari banyak bangsa tetapi mampu menyatu dalam satu negara. Berbeda dengan bangsa Arab yang terdiri dari banyak negara, dan hingga kini masih terjadi konflik berkepanjangan,” kata Rachmat yang memperoleh gelar PhD komunikasi di Australia ini.

Keberagaman Indonesia saat ini terancam oleh beberapa faktor, yakni konflik kepentingan, terutama politik, perbedaan cara pandang hingga perbedaan pendapat, sektarian dan agama, perang Ideologi: Kapitalisme, Liberalisme, Komunisme, dll, kesenjangan sosial dan ekonomi, dan teknologi komunikasi.

“Saat ini, agama yang mestinya menjadi pedoman hidup ternyata menjadi salah satu faktor yang mengancam kesatuan bangsa ini. Hal ini terjadi karena antarumat beragama bisa saling mengejek dan hatespeech dengan atas nama agama,kata Rachmat.

Bahkan, seringkali agama dijadikan bungkus pembenar dalam melakukan aksi kekerasan terorisme.

Dalam acara yang juga menghadirkan Kepala Kantor Kesbangpol Kota Kediri, Tanto Wijohari dan Kasatbimmas Polres Kota Kediri, juga disampaikan tiga solusi. Pertama, perlu pendidikan wawasan kebangsaan secara intensif, yakni membangun cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya, dengan mengutamakan kesatuan dan persatuan wilayah dalam perilaku bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kedua, membangun pendidikan multikultural yang menumbuhkan sikap mengakui dan menghargai perbedaan dalam kesederajatan tanpa mengurangi esensi perbedaan itu“Pancasila adalah teori multikultural yang sudah pas dengan masyarakat kita, dan bersumber dari nilai-nilai agama,” kata Rachmat yang sudah beberapa kali dipercaya Kantor Kesbangpol Kota Kediri untuk memberikan sosialisasi.

Solusi ketiga, menurut Rachmat adalah bijak dalam menggunakan media sosial. Saat ini medsos juga menjadi sarana penyebaran pesan-pesan fitnah, adu domba, pembullyan, hoax, dan radikalisme yang mengancam persaudaraan dan keutuhan NKRI.

 

Dalam acara yang bertajuk kesadaran keberagaman budaya dalam mendukung persatuan dan kesatuan bangsa ini, Kepala Kantor Kesbang, Tanto Wijohari, juga menekankan pentingnya kesadaran bersama menjaga keutuhan NKRI. Tanto juga menjelaskan tugas-tugas lembaganya, yakni mengevaluasi perizinan terkait penelitian-penelitian yang dilakukan di Kota Kediri dan pembinaan kehidupan berbangsa, bernegara, dan berpolitik di Kota Kediri.   (Magister Ilkom FISIP UB/Humas UB)

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID