Prasetya Online

>

Berita UB

Indonesia Penetrasi Pasar Selatan Selatan

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh oky_dian pada 16 November 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 366

Seminar on Indonesia’s South-South Cooperation: Exploring the Potentials di UB
Seminar on Indonesia’s South-South Cooperation: Exploring the Potentials di UB
Dalam skema Kerjasama Selatan-Selatan, Indonesia semakin aktif memberikan berbagai bantuan kepada semua negara berkembang. Timor Leste dan Kyrgyztan adalah contoh dari negara berkembang yang telah menerima manfaat dari KSST (Kerjasama Selatan Selatan dan Triangular) Indonesia misalnya melalui program bantuan pertanian dan peternakan.

Direktur Politik Luar Negeri dan Kerjasama Pembangunan Internasional, Kementerian PPN/Bappenas Dewo Broto Joko Putranto, SH, LLM mengatakan keinginan Indonesia menjadi negara pemberi sebagai salah satu upaya untuk mencapai kepentingan nasionalnya.

"Banyak orang bertanya kepada saya, di Indonesia ini masih banyak warganya yang kekurangan, namun kenapa justru ingin memberikan bantuan dana kepada negara lain? mindset  ini perlu dirubah karena menurut kami dengan memberikan bantuan dana ke negara berkembang berarti kita bisa meluaskan pengaruh terhadap negara yang kita berikan bantuan. Prinsip kita tangan memberi lebih baik daripada tangan menerima," kata Dewo Broto dalam Seminar on Indonesia's South-South Cooperation: Exploring the Potentials di UB, Selasa (14/11/2017).

Dewo Broto menjelaskan prinsip yang dikembangkan dalam Kerjasama Selatan Selatan berbeda dengan North South Cooperation. Dalam KSST prinsip yang digunakan adalah win win solution yang mengembangkan kesempatan kerjasama kedua belah pihak dengan tidak mengintervensi kebijakan negara lain.

Sedangkan dalam North South Cooperation prinsipnya adalah donor recipent yang mana kerjasama yang dibuat lebih menguntungkan negara utara dari pada bersifat seimbang.

"Kedepan keinginan kami tidak hanya memberikan bantuan tetapi juga pinjaman. Dengan ini kami bisa mendapatkan dukungan untuk melakukan penetrasi pasar dalam memasarkan produk-produk buatan Indonesia," katanya.

Salah satu bentuk bantuan yang telah diimplementasikan Indonesia kepada negara-negara yang tergabung dalam Kerjasama Selatan-Selatan yaitu pelatihan dan bimbingan teknis pemberdayaan Sumber Daya Manusia Timor Leste dalam program Inseminasi Buatan (IB).

Kepala Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari dr. Enniek Herwiyanti menjelaskan ada banyak keuntungan yang didapat dari program tersebut. Bagi Indonesia sebagai sarana untuk mempromosikan keunggulan Indonesia terutama dalam bidang peternakan (IB). Dalam hal ini Indonesia dikenal sebagai penghasil semen berkualitas dan pusat training bidang IB. Keuntungan kedua bisa meningkatkan citra Indonesia di mata dunia karena keberhasilannya dalam menyelenggarakan program KSST. Melalui program IB, Indonesia juga bisa meningkatkan people to people contact yang memberikan kesempatan lebih luas untuk masyarakat berinteraksi dengan negara berkembang.

Bagi negara yang diberikan pelatihan maka bisa meningkatkan pengetahuan dan keahlian SDM serta peningkatan etos kerja melalui transfer teknologi yang diberikan oleh BBIB Singosari.

General Director of Agriculture, Ministry of Fisheries and Agriculture Timor Leste, Maria Odete Do Ceu Guterres, MSC mengatakan kerjasama antara Indonesia dan Timor Leste bermanfaat untuk pemberdayaan masyarakat pertanian melalui supervisi dengan perguruan tinggi seperti Universitas Brawijaya dalam melakukan transfer teknologi.

"Kami mempunyai strategi pengembangan dengan target menurunkan import produk-produk luar negeri seperti beras. Namun hal ini bukan hal mudah. Oleh karena itu, kami menggandeng universitas-universitas untuk melakukan pembinaan teknis. Kami beranggapan melalui penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh akademisi bisa membantu kami dalam memberdayakan masyarakat di bidang pertanian," katanya.

Sejauh ini, import Timor Leste ke Indonesia berupa biji kopi, kerbau, kayu, seed oil, dan bijih besi. Sedangkan eksport Indonesia ke Timor Leste berupa tembakau, palm oil, peralatan dapur, sembako, kendaraan bermotor, elektronik, dan alat tulis kantor. [Oky Dian/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID