Prasetya Online

>

Berita UB

Humas Harus Pintar Berstrategi Agar Krisis Menjadi Peluang

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyaFISIP pada 25 Juli 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 242

Training Strategi PR menghadapi krisis
Training Strategi PR menghadapi krisis
Krisis merupakan unpredictable event yang artinya sesuatu yang tidak diharapkan datang dan berpotensi mengancam keberlangsungan dan tujuan organisasi. Berbekal sumber daya yang mumpuni di bidang penanganan krisis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) melalui program pengabdian masyarakat yang diketuai Maulina Pia Wulandari, PhD mengadakan "One Day Training Communication Crisis Strategies" bagi praktisi Humas di Malang Raya, termasuk perwakilan perusahaan, sekolah menengah, juga universitas (25/07/2017).

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang memiliki ratusan ribu perusahaan, dimana setiap organisasi tidak akan pernah terlepas dari krisis menjadi salah satu latar belakang kegiatan ini.

Acara tersebut menghadirkan pakar-pakar public relations atau yang biasa disebut humas, yakni Maulina Pia Wulandari, PhD (Dosen Public Relations senior UB), Stefanus Aditya Bagus Priambodo (pakar Risk, System and Compliance), Andina Paramitha (Chief Executive Officer Ligno Consultant), dan Naning Yusuf (Corporate & Development Director Times Indonesia Network). Acara tersebut dimoderatori oleh Anita Yudi dari Event Relations Ligno Consultant.

Pada sesi materinya, Maulina Pia Wulandari yang akrab dipanggil Pia menuturkan bahwa krisis tidak selalu menimbulkan ancaman, namun juga dapat memberikan peluang jika praktisi humas dapat menyusun langkah yang disebut "Communication Crisis Planning". "Langkah komunikasi krisis yang harus dikeluarkan seorang PR harus disesuaikan dengan jenis - jenis krisis yang menyerang perusahaannya," kata dia. Ia menjelaskan, ada dua jenis krisis meliputi victim crisis yakni perusahaan sebagai korban dalam krisis seperti korban bencana alam serta preventable crisis yakni krisis disebabkan oleh human error seperti kesalahan karyawan di tempat kerja.

Pada kesempatan selanjutnya Stefanus Bagus selaku pakar ahli di bidang resiko, sistem dan kepatuhan menjelaskan salah satu langkah komunikasi krisis adalah perusahaan harus berkomunikasi dengan stakeholders baik dengan karyawan, komunitas, masyarakat maupun media. "Saat krisis terjadi, perusahaan dapat memilih apakah ia akan bertahan atau justru gagal menangani krisis. Perusahaan berdiri untuk masyarakat dan terlegitimasi dari masyarakat, begitu pula dengan krisis. Persoalan utama krisis adalah antara manusia dengan manusia, maka selesaikanlah dengan berkomunikasi antara keduanya," tuturnya.

Berbekal pengalaman menjadi konsultan PR di saat krisis, Andina selaku CEO Ligno Consultant, menambahkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan merupakan hal terpenting yang menunjukkan bagus tidaknya reputasi perusahaan. "Saat ini 75 persen permasalahan fundamental yang dihadapi perusahaan di dunia adalah masalah reputasi.  Dan membangun reputasi itu tidak mudah, terlebih jika perusahaan berada dalam krisis. Dengan melalui krisis, perusahaan dapat memperoleh reputasi yang semakin kuat atau justru sebaliknya gagal dan gulung tikar," jelas Andina.

Berkomunikasi dengan media merupakan poin yang tidak boleh terlupakan bagi perusahaan, terutama jika perusahaan menginginkan pemulihan citra. "Media bisa jadi teman, sahabat bahkan musuh, namun berkerja sama dengan media tidak pernah rugi. Antara perusahaan dengan media dapat saling memberikan keuntungan, bahkan dalam keadaan krisis, media dapat dijadikan senjata bagi perusahaan untuk melancarkan arus informasi," jelas Naning selaku Corporate & Development Director Times Indonesia Network. [Anata/Humas FISIP/Humas UB]

 

 

 

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID