Prasetya Online

>

Berita UB

Harry Moekti: Islam Sangat menjunjung Hak Asasi 

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetya1 pada 06 Maret 2006 | Komentar : 0 | Dilihat : 5809

Harry Moekti
Harry Moekti
Forum Kajian Islam Mahasiswa Mesin (FKIMM) Universitas Brawijaya bekerjasama dengan Formita, Senin (6/3), menggelar kajian bertajuk “Mengembalikan Identitas Remaja Muslim pada Trend Spiritual Produktif”. Kajian spiritual ini yang berlangsung di Balai Senat gedung PPI Unibraw ini, mengundang ulama mantan rocker, Harry Moekti sebagai pembicara. Dalam kesempatan tersebut, Harry Moekti hadir didampingi istrinya, Siti Nurjannah, yang santri alumni Darul Ulum Bogor.
Mengawali kajiannya, Harry Moekti sangat menyayangkan kondisi degradasi umat pada saat ini, khususnya kaum muda yang cenderung hedonis dan mengukur segala sesuatu dengan materi. “Remaja sekarang lebih suka membeda-bedakan orang melalui gaya, mode pakaian, kecantikan bahkan kekayaaan, ungkap Harry yang juga pengurus ICMI.
Lebih lanjut disampaikan bahwa kondisi degradatif pada saat ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti lingkungan permisif yang tidak kondusif. “Pemuda yang masih labil karakternya, tentu merasa galau. Pada satu sisi, ajaran agama mengajarkan larangan berzina dan mereka berusaha untuk mematuhi hal tersebut, tetapi di sisi lain, pornografi dan pornoaksi ditayangkan di media tanpa sensor sedikitpun. Akibatnya, mereka pun melampiaskan keingintahuannya dengan melakukan perbuatan seksual bersama pacarnya, yang kemudian direkam dan disebarkan secara gratis”, ungkap pria kelahiran Cimahi ini.
Selain itu, ditambahkan pula bahwa kekuatan ajaran Islam yang tidak mungkin diubah, menjadikan para “musuh Islam” memutar otaknya dengan merusak kaum muslimin muda khususnya, untuk mendekonstruksi pemikiran mereka. “Sebut saja melalui pemikiran sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan, hak asasi manusia, kebebasan berpendapat, serta kebebasan berkepemilikan”, bebernya. Mengenai HAM, Harry mengatakan: "Jika selama ini Islam dituduh sebagai agama yang tidak menghormati HAM, maka persepsi tersebut harus direvisi. Justru, di Islam, hak asasi sangat dijunjung tinggi. Islam menjaga kehormatan dengan pelarangan berzina dan anjuran untuk menikah, Islam menghormati hak kepemilikan dengan hukum qishash, dll”, ungkap aktivis Hizbut Tahrir ini. “Ambil contoh saja Afghanistan. Ketika negara ini menerapkan hukum Islam di bawah pimpinan Thaliban, kejahatan selama rezim tersebut terhitung hanya terjadi sekitar tiga kali. Bandingkan dengan kepemimpinan yang sekarang, pemerintahan baru berjalan satu bulan, kejahatan telah terjadi beratus-ratus kali”, ungkap Harry.
Mengakhiri kajiannya, Harry Moekti menawarkan solusi terhadap berbagai benang kusut yang terjadi saat ini melalui dua hal yaitu dengan kajian Islam yang intensif serta transformasi dari Islam identitas menuju Islam kaffah yang produktif. [nok]

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID