Prasetya Online

>

Berita UB

Gelar Rapat Koordinasi dengan Stakeholder, UB Bahas Masalah Anggaran Program Kemahasiswaan

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh zenefale pada 26 April 2019 | Komentar : 0 | Dilihat : 484

Wakil Rektor III Prof Dr Drs Abdul Hakim MSi memaparkan program kerja kemahasiswaan di depan para stakeholder
Wakil Rektor III Prof Dr Drs Abdul Hakim MSi memaparkan program kerja kemahasiswaan di depan para stakeholder
Hingga kini program beasiswa menjadi salah satu langkah yang paling banyak diminati bagi kalangan mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, baik dari mahasiswa kurang mampu, mahasiswa berprestasi hingga mahasiswa yang memiliki kewirausahaan secara mandiri. Tentunya, dua program beasiswa yang saat ini menjadi pilihan favorit adalah Beasiswa Bidikmisi dan Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA). Dengan banyaknya jumlah mahasiswa yang memiliki minat untuk mendapatkan fasilitas tersebut, Universitas Brawijaya terus melakukan langkah-langkah dalam mengedepankan pengembangan program beasiswa. Salah satunya adalah kerjasama dengan berbagai stakeholder untuk beasiswa program PPA. Sebanyak 93 stakeholder dari berbagai intansi dan perusahaan diundang dalam rapat koordinasi "Peningkatan Prestasi Kemahasiswaan" yang digelar di Ruang Jamuan Lt 6, Kantor Pusat, Rabu (24/5).

Dalam acara tersebut Prof Dr Drs Abdul Hakim Msi selaku Wakil Rektor III mengungkapkan jika UB saat ini memiliki jumlah mahasiswa terbanyak se Indonesia, bahkan peminatan untuk memasuki UB juga menjadi yang tertinggi dibandingkan PTN lainnya. Dengan banyaknya jumlah mahasiswa yang menempuh studi di UB, perlu adanya pengembangan fasilitas khususnya untuk kuota penerima beasiswa. Saat ini UB telah mengalokasikan beasiswa bagi 15 ribu mahasiswa, dan kedepan UB berharap dapat meningkatkan penerima beasiswa menjadi 20 ribu mahasiswa. "Jika kita bisa mencapai target tersebut, UB dapat menampung 1/3 dari total jumlah mahasiswa di UB. Maka dari itu, stakeholder menjadi peran penting bagi universitas untuk menjalin mitra kerja maupun sponsorship," ungkapnya.

Program kegiatan kemahasiswaan menjadi sorotan WR III mengingat selama ini kegiatan tersebut ternyata membutuhkan dana yang tidaklah sedikit. “Idealnya 10 persen dari pendapatan yang masuk ke universitas dapat dialokasikan ke program kegiatan kemahasiswaan. Namun ternyata masih terjadi gap yang cukup jauh mengingat jumlah dana tersebut tidak mencapai 10 persen. Bahkan jika seluruh anggaran kemahasiswaan kami kumpulkan dari seluruh fakultas, dana tersebut masih belum bisa mencapai setengahnya. Hal ini membuat skor pemeringkatan kemahasiswaan kita juga rendah,” tambahnya.

WR III menambahkan jika saat ini Kemenristekdikti menilai empat lingkup kegiatan kemahasiswaan di perguruan tinggi. Empat poin tersebut adalah, penilaian kelembagaan atau institusi dengan kontribusi sebesar 20 persen. Kedua adalah kegiatan non lomba sebesar 10 persen. Ketiga adalah prestasi ko-kurikuler dan ekstrakulikuler yang dilaksanakan secara mandiri baik didalam maupun di luar negeri, dengan kontribusi nilai sebesar 30 persen. Serta kegiatan prestasi ko-kurikuler dan ekstrakulikuler yang diselenggarakan Belmawa sebanyak 40 persen. Dari semua penilaian program kemahasiswaan tersebut pastinya juga tidak lepas dari sumber pendanaan dan fasilitas yang dimiliki. "Selain anggaran, ada sebagian sarana prasarana bagi kemahasiswaan yang dirasa masih kurang. Banyaknya keluhan mahasiswa yang tidak memiliki fasilitas untuk berlatih juga menjadi perhatian universitas," pungkasnya.

Dengan adanya koordinasi dengan berbagai perusahaan dan instansi pemerintah, UB berharap dapat meningkatkan sumber pendanaan melalui sponsorship. Tidak hanya sebatas pendanaan CSR beasiswa, namun juga anggaran untuk kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, baik itu di tingkat nasional maupun internasional. [indra]

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID