Prasetya Online

>

Berita UB

Gagasan Sekolah Libya Siap Dieksekusi

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh denok pada 06 October 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 504

Mahasiwa Libya rapat bahas pendirian sekolah Libya
Mahasiwa Libya rapat bahas pendirian sekolah Libya
Sekelompok mahasiswa Libya yang saat ini sedang menempuh studi di Universitas Brawijaya (UB) berencana mendirikan sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak mereka. Sekolah yang diberi nama Libya School ini untuk sementara akan menggandeng Brawijaya Smart School (BSS) yang berlokasi di kawasan jalan Cipayung, Malang. Disampaikan salah satu mahasiswa Libya, Abdulsamea M.H.A. Hussen, sekolah ini telah digagas sejak empat tahun lalu. Sekolah ini menurutnya juga telah mendapat dukungan dari pihak Kedutaan Libya serta salah satu perguruan tinggi di negara tersebut terkait pengakuan nantinya.

Samea yang juga didaulat sebagai Kepala Sekolah, menyebut kendala jika anak para mahasiswa Libya disekolahkan di sekolah Indonesia. Beberapa kendala tersebut adalah Bahasa serta mata pelajaran lokal seperti sejarah, geografi dan Pendidikan Kewarganegaraan. Meskipun ia menyebut tidak ada masalah dengan mata pelajaran umum seperti matematika, fisika, kimia, biologi dan komputer.

Sekolah Libya nantinya akan menampung siswa setingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Memberdayakan para istri mahasiswa, sekolah ini menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Pelajaran Bahasa Arab dan Qur'an selain disampaikan kepada siswa Libya, rencananya juga akan diberikan kepada siswa Indonesia, terutama hafalan Qur'an. Saat ini setidaknya ada 30-35 siswa yang siap mengisi sekolah tersebut yang merupakan anak dari 100-150 mahasiswa Libya di UB. Bergantian dengan BSS yang merupakan full day school, nantinya siswa Libya akan mulai pelajaran saat sore hari. Sementara pada Sabtu dan Minggu, sekolah akan dilakukan full day. Secara kumulatif mereka harus menempuh 30 jam dalam satu minggu.

Samea menyampaikan, pihaknya telah mengajukan proposal kepada UB melalui Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan dan Kerjasama Dr. Sasmito Djati serta Direktur BSS Dr. Sugeng Rianto untuk mendapat persetujuan Rektor Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS.

Mahasiswa program Doktor Ilmu Lingkungan ini mengisahkan dirinya merupakan ayah tiga orang putera. Putera sulungnya yang kini telah berusia 16 tahun, menurutnya juga mengalami kesulitan belajar. "Bagaimana mungkin orang tuanya belajar hingga pendidikan tinggi tapi anak-anaknya tidak bersekolah?" kata dia. Di sekolah tersebut, menurut rencana istri Samea akan mengajar Bahasa Arab.

Setelah menyelesaikan studinya, mereka berharap bisa kembali ke Libya yang saat ini tengah kacau oleh perang sipil. "Kami ingin masyarakat Libya mendapat pendidikan layak di luar negeri dan bisa membangun negara melalui pendidikan," kata Samea. Pria yang pernah tinggal di Irlandia selama tiga tahun ini mengaku mendapat banyak manfaat dan kenyamanan tinggal dan membantu negara muslim seperti Indonesia.

Diwawancarai dalam kesempatan terpisah, Wakil Rektor IV Sasmito Djati menyampaikan bahwa pihaknya ingin bisa melayani mahasiswa asing dengan baik. Mahasiswa asing, khususnya Libya, disampaikannya banyak yang datang dengan membawa keluarga. "Mereka ingin agar anak-anaknya juga bisa sekolah dan bisa mendidik anak-anak mereka sendiri. Menurut mereka itu diakui," kata dosen Biologi ini. Bekerjasama dengan BSS, rencananya mereka hanya dikenakan biaya kebersihan dan perawatan gedung.

Dengan pelayanan ini, diharapkan dapat menambah jumlah mahasiswa asing terutama mahasiswa asal Timur Tengah di UB. Selain itu, pelayanan ini juga menunjukkan komitmen UB dalam memajukan pendidikan. Hal yang membanggakan adalah UB masuk dalam daftar perguruan tinggi yang direkomendasikan oleh Pemerintah Libya. Pasalnya, tidak semua perguruan tinggi Indonesia masuk dalam daftar tersebut. "Karena merasa dilayani dengan baik, maka Kota Malang menjadi pilihan utama mereka untuk studi di Indonesia selain Semarang," terangnya.

Selain pelayanan, menurutnya Libya juga mengetahui kualitas pendidikan UB yang tidak kalah dan masuk dalam ranking 700++ dunia. Bahkan anak dari mahasiswa Libya yang kini tengah duduk di bangku SMA di Indonesia pun ingin melanjutkan kuliah di UB.

Pengalaman individual ini menurut Sasmito ternyata efektif dalam mempromosikan UB ke negara lain. Berkat informasi mahasiswa Libya pula, saat ini UB menampung 24 mahasiswa asal Irak. Berbeda dengan Libya, mahasiswa Irak hanya akan mendapatkan ijin sekolah ke luar negeri asal mereka mendapat beasiswa. Karena itu, pihaknya kini tengah berupaya menyediakan beasiswa untuk mahasiswa asing, misalnya dalam bentuk pembebasan SPP.

Berbagai upaya ini kata Sasmito perlu mendapat dukungan pemerintah terutama dalam pengurusan Visa sebagaimana kemudahan visa belajar bagi mahasiswa asing yang kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN). [denok/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID