Prasetya Online

>

Berita UB

Gaba- gaba Raih Penghargaan Internasional

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF Versi Word
Dikirim oleh prasetyaFT pada 20 Februari 2014 | Komentar : 0 | Dilihat : 2634

osen Jurusan Arsitektur FT UB, Yusfan Adeputera Yusran Pada Saat Memaparkan Materinya Pada International Conference of CEAASC di Seoul
osen Jurusan Arsitektur FT UB, Yusfan Adeputera Yusran Pada Saat Memaparkan Materinya Pada International Conference of CEAASC di Seoul
Berkat Gaba-gaba Dosen Jurusan Arsitektur FT UB, Yusfan Adeputera Yusran berhasil meraih penghargaan internasional Preeminent Presentation Tribute dalam bidang applied science. Penghargaan tersebut diraihnya pada International Conference of CEAASC di Seoul selama tiga hari (8-10/1).

 

Gaba-gaba merupakan sebutan bagi beberapa suku di bagian timur Indonesia untuk pelepah daun pohon sagu. Bahan ini sangat mudah didapatkan terutama di wilayah Papua, Maluku dan Sulawesi mengingat sagu bagi beberapa suku di sana merupakan bahan makanan utama dan untuk mendapatkan tepung sagu hanya memanfaatkan batangnya untuk diambil sari patinya saja.

Oleh karena sedikit yang menyadari potensi gaba-gaba, maka bahan ini seringkali dibuang.

Potensi inilah yang dimanfaatkan Yusfan untuk mengembangkan Gaba-gaba sebagai salah satu alternatif dinding akustik atau dinding peredam suara. Dengan melakukan pengujian akustik pada model maket rumah sederhana 1:10, terbukti gaba-gaba dapat menjadi alternatif dinding akustik. Penggunaannya sebagai dinding terinsipirasi dari masjid Wapauwe di Maluku yang menggunakan gaba-gaba sebagai dinding dan masih bertahan selama tujuh abad hingga saat ini.

Ditemui setelah kembali dari Korea, Yusfan mengaku pengalamannya kali ini sangat berkesan mengingat penghargaannya kali ini didapat pada forum Ilmu Pengetahuan yang tidak terbatas pada bidang Arsitektur saja, sehingga tentunya dapat menyentuh masyarakat secara lebih luas. Yusfan juga merasa bangga karena melalui penelitiannya, ia dapat mengangkat kekayaan lokal ke tingkat Internasional.

 “Local wisdom yang ada di nusantara sebenarnya sangat kaya dan sangat orisinil karena selalu berselaras dengan konteks alamnya. Hal seperti inilah yang justru mendapatkan perhatian di dunia Internasional. Untuk itu kita harus merasa bangga dan terus menggali kekayaan yang kita miliki agar semakin dikenal di ranah internasiona,”kata Yusfan.

Yusfan juga menegaskan pentingnya dosen dan mahasiswa untuk aktif mengikuti kegiatan- kegiatan Internasional.

“Selain menambah pengalaman dan pengetahuan dengan bertukar informasi dengan pemapar dari negara- negara lain, hal ini juga menjadi motivasi buat kita untuk menulis dan melakukan penelitian dan diharapkan dapat berkontribusi untuk masyarakat sehingga menjawab Tridharma Perguruan Tinggi,”katanya. [emis/YAY/Oky]

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID