Prasetya Online

>

Berita UB

Freedom to Move Bisa Mengubah Identitas Penduduk Inggris

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyafisip pada 19 April 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 418

Assistant Professor di Institute of English University of Opole, Head of The Department of Anglophone Culture Dr. Stankomir Nicieja
Assistant Professor di Institute of English University of Opole, Head of The Department of Anglophone Culture Dr. Stankomir Nicieja
Di Eropa, isu migrasi merupakan isu utama yang terjadi di beberapa negara seperti Inggris, Swedia, dan Islandia. Tiga negara tersebut merupakan tujuan terbanyak para imigran. Pada kuliah tamu yang digelar Rabu (18/4/2018) oleh Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB), Assistant Professor di Institute of English University of Opole, Head of The Department of Anglophone Culture Dr. Stankomir Nicieja selaku pembicara menyatakan bahwa isu migrasi merupakan isu global sejak tahun 2016.

Isu migrasi mencapai puncaknya saat melanda Inggris pada tahun 2018. Di Inggris, migrasi dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, migrasi eksternal dan migrasi internal. Migrasi internal adalah perpindahan yang dilakukan penduduk dari dalam eropa, yang didominasi oleh penduduk dari Negara Polandia, Hungaria, dan Romania. Perpindahan tersebut dilakukan sebagian besar penduduk untuk mencari perkerjaan, dan peluang merasakan biaya hidup murah di Inggris. Migrasi Eksternal berarti perpindahan yang dilakukan oleh penduduk dari luar eropa yang sebagian besarnya adalah negara di wilayah Timur Tengah seperti Syiria.

Inggris memiliki prinsip seperti kebebasan untuk berpindah (freedom to move) namun penduduk Inggris mulai merasa adanya perpindahan identitas dari segi bahasa .

"Saat ini, jika kalian pergi ke Inggris kalian bisa mendapati bahwa bahasa yang digunakan disana tidak hanya bahasa Inggris, bahkan jika kalian pergi ke hotel para petugas sudah difasilitasi untuk mahir berbahasa Polish (bahasa resmi Polandia). Selain itu jika berada di angkutan umum, masyarakat di Inggris mulai berbicara ragam bahasa yang penduduk aslinya tidak mengerti," kata Nicieja saat menyampaikan materi di Ruang Nuswantara FISIP. Bagi penduduk Inggris, hal tersebut merupakan krisis yang melanda identitas Negara Inggris dan tidak sedikit dari mereka yang merasa dikhianati oleh hal tersebut. [Anata/Humas FISIP/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID