Prasetya Online

>

Berita UB

Ellis Nihayati, Gubes Baru dari FP UB Mencoba Angkat Potensi Temulawak

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh oky_dian pada 29 November 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 790

Prof. Ellis Nihayati saat dikukuhkan menjadi Guru Besar UB
Prof. Ellis Nihayati saat dikukuhkan menjadi Guru Besar UB
Temulawak merupakan tanaman yang berpotensi, namun saat ini masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa temulawak hanya dikonsumsi pada saat sakit saja.

Guru besar bidang fisiologi tanaman, Ellis Nihayati mengatakan bahwa pola pikir masyarakat saat ini perlu dirubah karena temulawak seharusnya bisa menjadi minuman segar dan berkhasiat yang dapat diminum kapan saja dan dimana saja, seperti halnya teh kotak, teh botol, atau soft drink lain.

Ellis juga mengatakan bahwa lamanya usia panen temulawak yaitu sembilan sampai 12 bulan, membuat petani enggan untuk melakukan budidaya temulawak. Sehingga banyak petani yang mengalami kerugian. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan sistem tumpang sari.

Sistem tumpang sari merupakan suatu bentuk pertanaman campuran (polyculture) berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan.

Pola tumpang sari ini bertujuan untuk menarik minat petani agar mau membudidayakan temulawak, karena prinsip pola tumpang sari ini akan meningkatkan hasil dan pendapatan petani.

Tanaman yang bisa ditumpang sarikan dengan temulawak, yaitu jagung, kedelai, dan ubi jalar.

"Saya berupaya menggabungkan sistem tumpang sari temu lawak dengan tanaman pangan di kebun jatikerto FP. Berdasarkan penghitungan cost ada keuntungan tinggi jika ditumpangsarikan dengan kedelai. Keuntungan tersebut bisa mencapai Rp 8 juta per satu kali panen per satu hektar. Jadi akhirnya petani bisa menanam temulawak yang berumur panjang dan menanam tanaman sela dalam waktu hampir bersamaan,"kata Ellis.

Dengan ikut ditanamnya tanaman sela, membuat petani bisa melakukan panen tanpa menunggu waktu panen temulawak.

Prof. Ellis Nihayati dikukuhkan sebagai guru besar bidang fisiologi. Dia merupakan guru besar ke 54 dari FP dan ke 236 di UB. Prof. Ellis yang bersuamikan Ir. M.A. Helmy Sjoekoer lahir di Gresik pada tanggal 25 Oktober 1953.

Selain Prof. Ellis Nihayati, guru besar kedua yang dikukuhkan pada Rabu (29/11/2017) adalah Prof. Ruslan Wirosoedarmo.

Dalam pidatonya yang berjudul "Potensi Kesesuaian Lahan Untuk Pertumbuhan Tanaman Kedelai", Prof. Ruslan menjelaskan bahwa kebutuhan kedelai setiap tahun sebesar 2.7 juta ton. Hal ini tidak sesuai dengan jumlah produksinya sebanyak 885.000 ton sehingga harus mengimpor 1,8 juta ton per tahun.

Untuk meningkatkan produksi kedelai, maka salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan lahan yang sesuai dan cocok untuk pertumbuhan kedelai.

Komponen lingkungan yang menjadi penentu keberhasilan usaha produksi kedelai adalah faktor iklim dan sifat fisik tanah yang perlu diketahui dan diantisipasi petani.

Dalam penelitiannya, Ruslan memetakan lahan-lahan pertanian yang punya potensi dan kriteria yang memenuhi lahan cocok dengan kedelai.

Dijelaskannya, lahan-lahan tersebut cukup banyak dan jika dimaksimalkan dengan cara menggabungkan lahan, maka produksi kedelai bisa meningkat signifikan.

"Lahan-lahan yang berpotensi untuk penanaman kedelai cukup banyak. Jika ini dimaksimalkan dengan cara menggabungkan lahan, maka produksi kedelai bisa meningkat signifikan," kata Prof. Ruslan.

Prof. Ruslan Wirosoedarmo merupakan guru besar bidang ilmu teknik tanah dan air. Dia merupakan guru besar ke 10 dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) dan ke 235 di UB.
Prof. Ruslan Wirosoedarmo lahir di Magetan pada tanggal 12 Januari 1953. Pria yang mempunyai istri bernama Mudji Astutik tersebut, dikaruniai tiga anak bernama Novi Dwi Astuti, Oktasari Tri Hangesti, dan Yuli Setyo Catur Pamungkas. [Oky Dian/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID