Prasetya Online

>

Berita UB

Eksistensi Tradisi Ngrebeg Mekotek di Era Global

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh ireneparamita pada 19 Mei 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 497

Tim PKM 'Eksistensi Tradisi Ngrebeg Mekotek di Era Global'
Tim PKM 'Eksistensi Tradisi Ngrebeg Mekotek di Era Global'
"Tak tek tak tek" merupakan suara kayu yang akan timbul jika dibenturkan secara bersamaan. Hal tersebutlah yang mendasari munculnya salah satu nama tradisi di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali yang disebut dengan tradisi ngrebeg mekotek. Tradisi ini merupakan salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Munggu yang belakangan ini mulai muncul eksistensinya di mata masyarakat lokal dan masyarakat internasional. Menurut Sujana selaku Bendasa Adat Desa Munggu mengatakan bahwa pada tahun 2016, tradisi ngrebeg mekotek ini tercatat sebagai warisan budaya takbenda oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Tradisi ngrebeg mekotek jika ditinjau dari aspek filosofisnya merupakan simbol perayaan kemenangan perang pada zaman Kerajaan Mengwi oleh masyarakat Desa Munggu. Pelaksanaan tradisi ini biasanya dilaksanakan setiap Hari Raya Kuningan yang jatuh pada hari Sabtu (Saniscara) Kliwon Wuku Kuningan. Adapun sarana utama yang digunakan dalam pelaksanaan tradisi ini adalah kayu pulet, daun pandan dan tamiang. Penggunaan kayu pulet tersebut berlandaskan pada larangan penggunaan tombak oleh kolonial Belanda pada zaman penjajahan dulu. Pada awalnya, tradisi ini menggunakan tombak sebagai sarana utamanya. Akan tetapi, penggunaan tombak tersebut dianggap sebagai bentuk pemberontakan masyarakat Desa Munggu terhadap kolonial Belanda. Daun pandan dalam hal ini merupakan simbol dari runcingnya ujung pada tombak. Sedangkan tamiang merupakan simbol dari tameng yang biasanya digunakan untuk melindungi diri saat perang.

Berangkat dari hal tersebut, lima mahasiswa Universitas Brawijaya meneliti Eksistensi Tradisi Ngrebeg Mekotek di Era Global. Mereka adalah Ni Luh Gede Intan Pradinasari, Hanifah, Devy Intan Kumalasari (Statistika 2015), Novilia Fitra Sari Ningrum (Statistika 2014), dan Made Dwi Pradnyana Putra (Ilmu Komunikasi 2015). Kegiatan ini telah didanai Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Mereka melakukan penelitian di bawah bimbingan dosen Dr. Dra. Umu Saadah, M.Si.

Ketua Tim Ni Luh Gede Intan Pradinasari  menyampaikan, di era global sekarang ini, pelaksanaan tradisi ngrebeg mekotek tetap dilaksanakan oleh masyarakat Desa Munggu. Adapun yang menjadi dorongan dari masyakarat Desa Munggu untuk tetap melaksanakan tradisi ini adalah kepercayaan mereka yang kuat akan dampak yang ditimbulkan dengan melaksanakan tradisi tersebut.

"Masyarakat Desa Munggu percaya bahwa tradisi ini dapat menyatukan seluruh elemen yang terdapat di Desa Munggu," kata Ni Luh.

Selain itu, hal yang paling utama adalah, masyarakat Desa Munggu percaya bahwa dengan melaksanakan tradisi tersebut, maka mereka akan terhindar dari musibah. Kepercayaan tersebut dilatarbelakangi oleh musibah yang melanda desa mereka pada saat kolonial Belanda melarang mereka untuk melaksanakan tradisi ngrebeg mekotek. Pada saat itu banyak warga yang jatuh sakit dan banyak lahan masyarakat mengalami kekeringan.

"Melalui tradisi ngrebeg mekotek ini dapat kita sadari, bahwa bagaimanapun bentuk budaya yang kita miliki, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjaga dan melestarikannya. Tidak melihat era apa yang akan kita hadapi ke depannya, tetapi yang kita lihat adalah bagaimana era yang ada saat ini mampu untuk menjaga eksistensi dari budaya yang ada," pungkasnya. [Made/Irene/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID