Prasetya Online

>

Berita UB

Ekonom Muda Dias Satria: Indonesia Butuh Penelitian Yang Berinovasi Bisnis

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh denok pada 17 Juli 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 428

Dias Satria P.hD
Dias Satria P.hD
Ekonom muda Universitas Brawijaya (UB) Dias Satria P.hD, mengemukakan pentingnya penelitian yang aplikatif atau sesuai dengan kebutuhan bangsa dan pemerintah. Inovasi bisnis menurutnya perlu dikembangkan melalui basis R&D (Research and Development/penelitian dan pengembangan). Karena itu, alumni University of Adelaide Australia ini menekankan pentingnya para ilmuwan dan peneliti untuk memahami pasar.

Dias menyampaikan hal ini dalam acara "Seminar Internasional dan Expo untuk Peneliti dan Pengusaha Muda" yang diselenggarakan di gedung Widyaloka UB pada Kamis (01/07/2017).

Lebih lanjut, ia pun mengurai bahwa inovasi bisnis mempunyai dua komponen yakni inovasi dan bisnis. Inovasi, kata dia, setidaknya memuat dua hal yakni baru dan bernilai. Sementara bisnis, setidaknya juga memuat dua hal yakni bernilai dan mampu menarik pasar.

Pemahaman inovasi bisnis bagi ilmuwan dan peneliti, menurutnya sangat diperlukan, apalagi saat ini Indonesia tengah berada pada pusaran badai yang ia istilahkan dengan "we are in the perfect storm". Utang Indonesia yang lebih dari 2.000 triliun rupiah dan perlambatan ekonomi dunia merupakan beberapa indikasinya. Hal ini diperparah dengan kekuatan ekspor Indonesia yang masih berupa bahan mentah seperti kelapa sawit, batu bara dan gas.

Pengembangan ekonomi kreatif, menurut Dias, sangat urgent dilakukan untuk mengatasi kondisi Indonesia saat ini. Ekonomi kreatif merupakan sebuah pencapaian setelah melalui tiga tahapan perekonomian yang diawali dengan ekonomi berbasis pertanian, kemudian ekonomi manufatur, dan selanjutnya ekonomi berbasis ilmu pengetahuan. Dias kemudian mencontohkan India yang saat ini tengah gencar menggalakkan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan, utamanya di bidang teknologi informasi. Contoh lainnya adalah Switzerland yang dikenal sebagai penghasil coklat terbaik di dunia meskipun negara ini tidak menanam kakao. Switzerland juga menduduki posisi teratas sebagai negara paling kompetitif di dunia disusul Singapura, sementara Indonesia berada pada urutan ke-41.

Dalam paparannya, Dias menyampaikan inovasi pembangunan ekonomi lokal di Banyuwangi. Ia mengatakan bahwa tahun 2010 merupakan titik kulminasi perubahan yang terjadi di kota ini melalui berbagai inovasi yang dilakukan. Sebelum 2010, angka kemiskinan di daerah asal Suku Osing ini mencapai 20% yang kemudian menurun hingga sekitar 9% saja. Jika sebelumnya Banyuwangi dikenal sebagai Kota Santet dengan predikat kota paling kotor di Jawa Timur, maka kemudian ia menjadi Kota Wisata dengan prestasi Kota Adipura.

Pembicara selanjutnya, Bram Dortmans PhD dari SADEC (Swiss Agency for Development and Cooperation) memaparkan penelitiannya dalam pengolahan sampah organik menggunakan BSF (Black Soldier Fly). Pengolahan sampah organik dalam skema penelitian FORWARD ini didanai oleh EAWAG (Swiss Federal Institute of Aquatic Science and Technology) dan dilakukan di Pasar Puspa Agro Sidoarjo. Menggunakan teknologi biokonversi yang menurutnya market driven, pengolahan sampah organik akan dilakukan oleh larva BSF. Pengolahan sampah oleh larva ini membutuhkan waktu 14 hari, lebih pendek dari cacing yang butuh waktu hingga tiga bulan.

Sampah organik yang dihasilkan dari pasar Puspa Agro Sidoarjo akan dicacah kecil-kecil kemudian dimasukkan ke kotak-kotak yang ditata sedemikian rupa. Sebanyak 15.000 larva akan dimasukkan ke dalam kotak-kotak tersebut. "Penambahan massa larva merupakan indikasi proses konversi tersebut," kata Bram. Larva ini kemudian akan dipanen dan menjadi pakan ikan atau ternak unggas.

Larva dihasilkan dari BSF (Hermetia Illucens) yang dikenal sebagai lalat rakus sehingga mempercepat proses pengolahan sampah. Lalat ini tidak mengandung penyakit dan tidak menjadi perantara penyakit. Setelah siap panen, larva juga akan dibudidayakan menjadi lalat untuk kemudian dikawinkan dan bertelur. Usai bertelur, lalat pun mati.

Pengolahan sampah organik, menurut Bram sudah menyelesaikan 60% sampah. Pulau Jawa yang dikenal sebagai pulau dengan rerata kepadatan penduduk tertinggi di dunia, mencapai 1.000 jiwa/km2, menimbun masalah sampah yang juga ikut bertambah. Selama ini, sampah organik diolah melalui berbagai proses dengan bermacam produk. Diantaranya melalui decomposition dengan hasil kompos, pirolisis dengan produk biochar/arang, pengolahan secara anaerobic dengan hasil biogas maupun pengolahan menggunakan biokonversi dengan hasil vermiculture/BSF larva.

Disampaikan Ketua Pelaksana Dr. Ir. Eko Widodo, M.Agr.Sc., M.Sc seminar internasional ini diikuti 116 makalah dari mahasiswa yang mayoritas berasal dari program sarjana. Mereka mengikuti sesi presentasi maupun poster yang dibagi dalam beberapa panel seperti pertanian, kedokteran, ilmu-ilmu sosial, teknologi terapan maupun pemberdayaan masyarakat. Hasil seminar ini, menurut Eko Widodo yang juga dosen Fakultas Peternakan UB akan dimasukkan dalam proceeding.

Sementara itu, sebanyak 82 judul penelitian yang juga dari mahasiswa program sarjana mengikuti expo yang diselenggarakan di luar gedung Widyaloka. [Denok/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID