Prasetya Online

>

Berita UB

Dosen Universitas Tadulako Teliti Perburuan Anoa di Sulawesi Tengah

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh dietodita pada 18 September 2018 | Komentar : 0 | Dilihat : 319

ujian disertasi terbuka Mohamad Irfan
ujian disertasi terbuka Mohamad Irfan
Anoa adalah satwa liar yang langka dan dilindungi undang-undang. Fisiknya mirip dengan sapi atau kerbau tetapi berukuran lebih kecil. Ada dua spesies anoa yaitu anoa pegunungan (bubalus quarlesi) dan anoa dataran rendah (bubalus depressicornis). Hewan yang tersebar hampir di seluruh Sulawesi ini termasuk jenis yang agresif sehingga sulit dijinakkan untuk dipelihara sebagai ternak. Habitat mereka di dalam hutan yang jauh dari jangkauan manusia.

Namun bagi masyarakat daerah pedalaman di Sulawesi Tengah, daging anoa merupakan makanan alternative, bahkan telah memasuki ekonomi pasar. Selain untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, anoa dimanfaatkan sebagai pendapatan sampingan masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Harga daging segar anoa dipasarkan berkisar 50-80 ribu per kilo, sedangkan paha belakang dipatok 150 ribu, dan paha depan 75 ribu. Sementara itu untuk per ekor anoa dibandrol mulai 8-10 juta.

Mengamati permasalahan tersebut dosen Fakultas Peternakan dan Perikanan (Fapetkan) Universitas Tadulako, Palu, Mohamad Irfan, S.Pt.,M.Si, melakukan penelitian berjudul "Model Pengembangan Anoa (bubalus depresicornis dan quarlesi) Studi Kasus di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah."

Kajian penelitian meliputi eskplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kegiatan perburuan anoa oleh masyarakat di wilayah Kecamatan Sirenja dan Dampelas, Kabupaten Donggala. MTheetode penelitian adalah studi kasus dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif yang dilakukan sejak Oktober 2016 hingga Juli 2017.

Penelitian menggunakan analisis statistik deskriptif dengan pengambilan sampel responden random sampling. Tujuannya memperoleh gambaran mengenai variable ekonomi, kesehatan, sosial budaya, aktivitas perburuan anoa, dan strategi regulasi dalam mendukung pelestarian anoa.

Hasil penelitian menunjukkan karakteristik responden di Desa Sibado Kecamatan Sirenja, bahwa masyarakat yang melakukan aktivitas berburu sebesar 76.39%. Sedangkan di Desa Pani'I Kecamatan Sirenja adalah 46.39%. Rata-rata pemburu berusia 20-40 tahun dengan tingkat pendidikan terakhir tamatan Sekolah Dasar (SD).

Sementara itu hasil analisis deskriptif frekuensi menunjukkan konstruk variable antara faktor ekonomi, kesehatan, dan sosial budaya di kedua desa dinyatakan berpengaruh terhadap variable pelestarian anoa. Hal ini mengindikasikan bahwa kedua wilayah tersebut mempunyai SDM dengan tingkat pemahaman rendah terhadap pelestarian hewan yang dilindungi.

Namun saat ini masyarakat Desa Pani'i mendapat pendampingan dari kalangan LSM dan mendukung penerapan pengembangan strategi regulasi pengembangan anoa berbasis masyarakat.

Penelitian dibawah komisi pembimbing dosen Fapet UB, Prof. M. Nur Ihsan dan Dr. Bambang Ali Nugroho ini sebagai syarat mendapatkan gelar doktor. Bertempat di ruang sidang lantai 6 ujian akhir disertasi terbuka dilaksanakan Jumat (14/9/2018). [dta/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID