Prasetya Online

>

Berita UB

Dosen UB Presentasi di ICSUN 2017

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh vicky.nurw pada 14 Maret 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 1234

Yusli Effendi dalam ICSUN 2017
Yusli Effendi dalam ICSUN 2017
Islam terlanjur distigmatisasi lekat dengan kekerasan, instabilitas, dan konflik, sehingga kemudian menghalangi pembangunan kemanusiaan (human development). Hal ini disampaikan oleh Yusli Effendi, S.IP., MA, dalam International Conference on Sustainable Development Goals of United Nations (ICSUN). Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis hingga Sabtu (9-11/03/2017) di Makassar.

Dalam paparannya, dosen prodi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya ini menawarkan cara pandang baru dengan menggali nilai-nilai Islam Indonesia dalam memperluas pemaknaan keamanan dan pembangunan yang sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-16, sebagaimana yang dituliskan dalam paper yang berjudul "Societal Security and Human Development: An Islamic Perspective". "Makalah ini merupakan terobosan mendialogkan makna baru keamanan dengan pembangunan kemanusiaan dan nilai-nilai Islam Indonesia," jelasnya.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar ini dihadiri oleh delegasi dari sepuluh negara, yaitu Indonesia, India, Malaysia, Kamboja, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Jerman dan Kanada. Selain paparan makalah, para peserta juga melakukan telekonferensi dengan profesor di Amerika Serikat, Robert Crane-mantan penasehat Presiden Nixon, presentasi pembicara dari luar negeri, ramah tamah dengan Walikota Makassar dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, serta city tour ke tempat-tempat ibadah beragam agama dan beberapa situs historis.

Menurut Sekretaris Konferensi, Dr. Nurhidayah, kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka pencapaian tujuan khususnya perdamaian dunia. "Konferensi ini kami inisiasi karena melihat perkembangan saat ini bahwa dunia berada dalam kondisi di mana kekerasan, ekstremisme, radikalisme, dan terorisme ada di mana-mana, mulai dari rumah tangga hingga masyarakat secara umum," imbuhnya.  Menurutnya, tujuan konferensi ini adalah mengumpulkan berbagai unsur baik akademisi, politisi, pemuka agama, hingga mahasiswa, untuk duduk bersama dan merumuskan konsep dan ide-ide dalam pencapaian perdamaian dunia.

"Peran pendidikan itu sangat penting, kita sebagai akademisi UIN di mana visinya agar peradaban Islam menjadi mendunia, dan bagaimana kita bisa mengambil peran dalam mencapai perdamaian dunia itu," ujar Nurhidayah. ICSUN 2017 terlaksana, menurut Nurhidayah karena Indonesia adalah negara multikultur, berbagai agama, suku, etnik ada di dalamnya. Sehingga atas dasar itulah banyak negara yang datang dan ingin melihat Indonesia bisa hidup bersama dalam keragamannya meskipun di beberapa tempat ada konflik, tapi itu bisa diselesaikan.

Melalui acara ini, ia berharap akan ada ide dan konsep yang bisa kita berikan kepada generasi muda ke depan, agar dapat hidup rukun, damai aman sentosa, dengan berbagai agama yang ada di Indonesia. [Vicky/Humas UB]

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID