Prasetya Online

>

Berita UB

Dosen Komunikasi Rachmat Kriyantono: "Jaga NKRI dengan Kearifan Lokal di Era Internet"

Versi Cetak Versi PDF Versi RTF
Dikirim oleh prasetyaFISIP pada 21 Desember 2017 | Komentar : 0 | Dilihat : 116

Dosen Komunikasi Rachmat Kriyantono jadi pembicara di Kesbangpol Kediri
Dosen Komunikasi Rachmat Kriyantono jadi pembicara di Kesbangpol Kediri
Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kediri kembali menggelar acara Forum Peningkatan Kesadaran Masyarakat dan Nilai-Nilai Luhur Budaya Bangsa Pada Generasi Muda pada Kamis 14 Desember 2017 dengan mendatangkan narasumber dibidang  wawasan kebangsaan, Rachmat Kriyantono, Ph.D, dosen FISIP UB. Rachmat, menyampaikan bahwa wawasan kebangsaan menjadi sebuah perhatian khusus saat ini mengingat beberapa keadaan seperti adanya konflik kepentingan, perbedaan cara pandang dan pendapat, perang ideologi (kapitalisme, liberalisme, dan komunisme), kesenjangan sosial dan ekonomi. "Beberapa keadaan diatas berpotensi menimbulkan: culture war, konflik etnis dan agama, perlakuan atau kebijakan diskriminatif, hubungan eksploitatif, stereotipe negatif, marjinalisasi, dan kekerasan baik secara fisik maupun simbolik," tutur Rachmat.

Pada acara yang dihadiri 200 (dua ratus) siswa-siswi SMA/SMK se-Kota Kediri ini, Rachmat secara khusus memberikan materi tentang internet dalam konteks wawasan kebangsaan menjadi sebuah hal yang harus dipahami secara menyeluruh. Mengingat bahwa berdasarkan riset yang ada, aktivitas komunikasi mulai dari produksi sampai pendistribusian pesan banyak dilakukan melalui internet dengan tingkat cakupan yang luas dan penyebaran informasi yang cepat. Selain itu terdapat beberapa ancaman pembauran kebangsaan di internet, diantaranya: fitnah, mengolok-ngolok, adu domba, prasangka, hoax, dan fake news. Maka untuk dapat menghindari ancaman pembauran kebangsaan di internet, masyarakat harus memperhatikan beberapa prinsip komunikasi yakni: Qaulan sadidan (benar, tidak dusta), Qaulan baligha (lugas, efektif), Qaulan ma'rifa(kata-kata yang baik dan sopan), Qaulan karimah (hormat/respek), Qaulan layina (lemah lembut), dan terakhir Qaulan maysura (mudah dimengerti).

Selain itu dalam rangka menjaga keutuhan NKRI masyarakat harus dapat secara bijak menggunakan internet. "Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa masyarakat harus memiliki cara pandang dan sikap nasionalis, mementingkan persatuan, kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kelompok, menjaga Bhinneka Tunggal Ika, dan menjaga NKRI untuk maju, mandiri, sejahtera lahir batin dan sejajar dengan bangsa lain," lanjutnya. Secara tegas Rachmat juga menggaris bawahi poin penting dari wawasan kebangsaan khususnya di era internet bahwa, "NKRI itu bukan negara komunis yang ateis dan bukan negara sekuler. NKRI juga bukan negara agama tetapi nilai-nilai agama melandasi perilaku individu dalam berbagai aspek".

Rachmat berharap, hal ini bisa dimulai dengan memperhatikan cara kita dalam memproduksi dan menyebarkan informasi di internet terkait nilai-nilai kebangsaan yang ada. Hal tersebut mengingat bahwa makna wawasan kebangsaan adalah untuk dapat saling menghormati dan menghargai sesama manusia sebagai ciptaan Tuhan YME dan tekad bersama untuk berkehidupan yang bebas, merdeka, dan bersatu, cinta tanah air dan bangsa, demokrasi atau kedaulatan rakyat, setia kawan, dan mencapai masyarakat yang adil dan makmur. [Choiria/Humas FISIP/Humas UB]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel terkait

Komentar

Kirim komentar Anda

Gunakan ID